Lama tak terlihat di layar televisi maupun riuh rendah media daring, nama Ali Mochtar Ngabalin seolah menghilang dari hiruk-pikuk perdebatan politik nasional. Sosok yang dahulu dikenal lantang, retoris, dan tak pernah kehabisan energi dalam ruang-ruang diskusi publik itu kini menempuh jalan yang berbeda: menjadi Guru Besar Hubungan Internasional di Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan, sekaligus mengajar di kampus tersebut.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi peran—dari panggung politik menuju ruang akademik. Namun, bagi mereka yang mengenalnya dekat, api semangat Ngabalin tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya berpindah tempat, dari studio televisi ke ruang kuliah.
Di mata banyak orang, Ngabalin adalah perpaduan unik antara kehangatan personal dan ledakan retorika. Ia mudah akrab dengan siapa saja—mahasiswa, kolega, hingga masyarakat umum. Sapaan “Bang Ngabalin” atau “Kanda Ngabalin” terasa lebih dekat daripada gelar akademik yang kini melekat di namanya.
Karakter berapi-api yang dulu kerap terlihat dalam debat politik ternyata berjalan berdampingan dengan sisi penuh kasih sayang. Dalam interaksi sehari-hari, ia dikenal sebagai pendengar yang sabar, pemberi semangat, sekaligus figur yang menumbuhkan rasa percaya diri bagi orang-orang di sekitarnya.
Di lingkungan kampus BUFS, mahasiswa internasional menemukan sosok dosen yang bukan hanya mengajar teori hubungan internasional, tetapi juga menghadirkan pengalaman hidup, narasi peradaban, dan jembatan kultural antara dunia Islam, Asia Tenggara, dan Korea.
Salah satu kekuatan khas Ngabalin adalah kemampuan bahasa. Ia fasih menggunakan bahasa Arab, baik fushah maupun amiyah. Ketika seseorang menyapa dengan dialek Mesir, “Zayyak?”—ia spontan menjawab, “Alhamdulillah.” Begitu pula ketika ditanya dalam bahasa Arab baku, “Kaifahaluk?” jawabannya tetap hangat: “Alhamdulillah.”
Respons sederhana itu bukan sekadar kebiasaan verbal, melainkan cerminan spiritualitas dan optimisme. Dalam setiap kata, terselip pesan tentang rasa syukur sebagai fondasi keilmuan dan kehidupan.
Kemampuan bahasa Inggrisnya pun tak diragukan. Di ruang kelas internasional, ia bergerak luwes antara bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia—menjadikan kuliah bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pengalaman lintas budaya.
Penampilan Ngabalin memiliki ciri yang mudah dikenali: surban di kepala. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar gaya. Namun bagi Ngabalin, surban adalah simbol identitas—pengingat akar tradisi, spiritualitas, dan kesinambungan sejarah intelektual Islam.
Di tengah kampus modern Korea Selatan, simbol itu justru menjadi titik dialog. Mahasiswa bertanya, diskusi pun terbuka. Dari sanalah percakapan tentang peradaban, sejarah, dan hubungan dunia Timur berkembang secara alami.
Ada satu kebiasaan kecil yang sering luput dari sorotan, tetapi justru paling menggambarkan karakter Ngabalin: ia selalu mencatat.
Tak peduli siapa yang berbicara—senior, kolega, bahkan mahasiswa yang lebih muda. Baginya, ilmu dapat datang dari mana saja. Catatan-catatan itu menjadi simbol kerendahan hati intelektual: bahwa belajar tidak pernah selesai, dan kebijaksanaan tidak mengenal hierarki usia.
Di ruang kelas, kebiasaan ini menular. Mahasiswa melihat langsung teladan bahwa profesor pun tetap seorang pelajar.
Perpindahan Ngabalin dari ruang politik ke dunia akademik dapat dibaca sebagai langkah memperluas pengaruh, bukan menghindari panggung. Jika sebelumnya ia berbicara kepada publik nasional, kini ia berbicara kepada komunitas global—membawa perspektif Indonesia ke ruang internasional.
Di BUFS, hubungan internasional tidak diajarkan semata sebagai teori diplomasi, tetapi sebagai perjumpaan nilai, iman, budaya, dan kemanusiaan. Perspektif inilah yang membuat kehadiran Ngabalin terasa berbeda.
Meski tak lagi rutin muncul di televisi, Ngabalin tidak benar-benar pergi. Ia hanya memilih medan baru—lebih sunyi, tetapi mungkin lebih panjang dampaknya.
Di ruang kuliah Busan, api kata itu tetap menyala. Bukan untuk berdebat, melainkan untuk mendidik generasi.
Dan barangkali di sanalah makna baru perjalanan Ali Mochtar Ngabalin: dari suara yang menggema di layar, menjadi cahaya yang menetap dalam ingatan para muridnya.











