News  

Republik Cucu Cicit

Demokrasi kita ini sungguh unik, katanya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tapi kok ya isinya seringkali “dari keluarga, oleh keluarga, untuk keluarga”?

Di balik panggung megah pemilu yang katanya penuh pilihan, kita disuguhi drama yang sama: anak menteri jadi bupati, mantu presiden jadi wali kota, atau keponakan gubernur jadi anggota dewan, seolah-olah kursi kekuasaan itu warisan leluhur yang harus diestafetkan.

Data statistik menunjukkan, jumlah kepala daerah atau anggota legislatif yang punya ikatan darah dengan pejabat sebelumnya terus merangkak naik, membuktikan bahwa meritokrasi hanya manis di buku teori, sementara di lapangan, “jalur orang dalam” jauh lebih sakti daripada rekam jejak atau kompetensi.

Kita ini bukan lagi Republik Indonesia, tapi lebih mirip “Republik Cucu Cicit”, di mana bakat dan integritas seringkali kalah saing dengan selembar kartu keluarga yang punya nama besar.

Oleh: ET Hadi Saputra, pengamat politik