Reliji  

Mengenal Makhluk Mitologi Dalam Islam Yang Terekam di Al-Qur’an dan Hadis

Istilah makhluk mitologi Islam yang banyak orang gunakan untuk merujuk pada entitas atau makhluk gaib yang diceritakan dalam sumber-sumber utama agama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.

Meskipun istilah “mitologi” seringkali merujuk pada cerita rakyat atau legenda, dalam konteks Islam, makhluk-makhluk ini adalah entitas nyata yang eksistensinya kita yakini, terlepas dari apakah kita bisa melihat atau memahaminya secara fisik. Kisah-kisah tentang mereka bukanlah dongeng, melainkan bagian dari dimensi ghaib yang harus kita imani.

Eksistensi mereka menegaskan bahwa alam semesta ini jauh lebih luas dan kompleks dari apa yang bisa kita tangkap dengan panca indra. Mempelajari tentang makhluk mitologi dalam Islam membantu kita untuk memahami kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas.

Mengenal Jenis-Jenis Makhluk Mitologi Islam dan Dasar Keimanannya

Sobat Cahaya Islam, pada dasarnya makhluk mitologi Islam adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki dimensi, fungsi, atau bentuk yang melampaui pemahaman manusia biasa. Mereka memainkan peran penting dalam menjalankan perintah ilahi, menguji keimanan manusia, atau menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah kenabian.

Berikut adalah tiga entitas gaib utama yang eksistensinya berdasarkan dalil-dalil shahih:

1. Jin dan Iblis (Setan)

Jin adalah salah satu jenis makhluk mitologi yang paling sering kita sebutkan, bersama dengan manusia dan malaikat, sebagai makhluk yang Allah beri akal dan kehendak bebas (mukallaf). Mereka tercipta dari api, berbeda dengan manusia yang tercipta dari tanah.

Iblis, yang merupakan nenek moyang setan-setan, awalnya adalah salah satu dari golongan Jin yang taat, namun ia membangkang karena kesombongan, menolak sujud kepada Nabi Adam AS. Keberadaan Jin dan Iblis adalah nyata dan seringkali tergambarkan dalam Al-Qur’an sebagai penggoda manusia. Allah SWT berfirman:

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”” (QS. Al-A’raf: 12)

Jin memiliki kemampuan untuk melihat manusia, sementara manusia tidak dapat melihat mereka dalam wujud aslinya, kecuali dengan izin Allah.

2. Buraq

Ia adalah salah satu makhlukyang memiliki peran sangat penting dalam sejarah kenabian. Buraq bukanlah hasil dari cerita makhluk mitologi arab purba, melainkan kendaraan istimewa yang Nabi Muhammad SAW gunakan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Nama Buraq sendiri berasal dari kata Arab barqun yang berarti kilat, mengacu pada kecepatannya yang luar biasa.

Dalam salah satu riwayat, Buraq tergambarkan sebagai makhluk berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari baghal, dan dapat menempatkan langkahnya sejauh pandangan matanya. Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

… Kemudian didatangkanlah al-Buraq, yaitu hewan putih yang lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari baghal, ia meletakkan langkahnya di akhir pandangannya…” (HR. Muslim No. 162)

3. Ya’juj dan Ma’juj

Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog) adalah sekelompok manusia yang juga tergolong sebagai makhluk mitologi Islam karena peran mereka yang sangat besar di akhir zaman. Meskipun mereka adalah manusia biasa, mereka memiliki karakteristik dan peran yang terpisah dalam narasi kenabian.

Mereka terkurung di balik tembok besi yang Dzulqarnain bangun dan akan muncul kembali menjelang Hari Kiamat sebagai tanda besarnya. Eksistensi mereka di masa kini bersifat gaib karena tersembunyi. Mereka akan membawa kerusakan yang besar di muka bumi. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj pada setiap hari menggali dinding (penghalang), sehingga ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, berkatalah pemimpin mereka: ‘Pulanglah, kita akan menggalinya lagi besok’…” (HR. Ibnu Majah No. 4080, shahih)

Sobat Cahaya Islam, mempelajari makhluk mitologi Islam bukan untuk menumbuhkan ketakutan, melainkan untuk memperkuat keimanan kita kepada hal-hal gaib. Kisah-kisah ini menegaskan bahwa ada dimensi realitas yang berada di luar jangkauan indra kita. Keberadaan makhluk-makhluk gaib ini, membuat kita semakin kagum pada kebesaran Sang Pencipta.