News  

Mantra Digital Dedi Mulyadi Menyihir Rakyat Menghempaskan Prabowo

Mantra Dedi Mulyadi menyihir rakyat melalui panggung digital. Videonya banyak disukai dan viral. Dedi Mulyadi populer lewat lensa kamera. Bukan populer kerena kebijakannya pro rakyat sebagai gubernur Jawa Barat. Lebih karena aksi personalnya yang langsung menyentuh rakyatnya meski hanya kosmetik politik.

Namanya melambung tinggi. Elektabilitasnya menggeser Presiden Prabowo. Ketua Umumnya di Partai Gerindra. Dedi Mulyadi menjadi buah bibir. Namanya besar melalui berbagai aksi populisnya di depan kamera. Mirip Ridwan Kamil ketika awal menjabat gubernur Jawa Barat.

Dedi Mulyadi dinilai berhasil mengekploitasi kemiskinan dan kesulitan ekonomi warga Jawa Barat demi popularitas. Faktanya menurut BPS, penduduk miskin di Jawa Barat mencapai sekira 3,65 juta jiwa atau mencakup sekira 15,3 persen dari total orang miskin di Indonesia. Lalu dimana keberpihakan Dedi Mulyadi sebagai orang nomor satu di Jawa Barat?

Memang Dedi Mulyadi tampil dengan bahasa ringan, renyah dan mudah dicerna serta berhubungan langsung dengan isu-isu warga Jawa Barat. Sayangnya, itu baru sebatas aksi personal depan kamera. Belum menyentuh akar persoalan kemiskinan, pengangguran dan mahalnya biaya hidup di Jawa Barat.

Bukan tanpa kritik. Dedi Mulyadi dihujani banyak kritik tajam. Salahsatunya soal sayembara berhadiah Rp50 juta bagi penangkap begal. Aksi bagi-bagi uang yang kerap dilakukan Dedi Mulyadi kali ini menuai kritik tajam.

Aksi penganjuran warga main hakim sendiri dan pengesampingan asas praduga tak bersalah. Tak kurang Menko Yusril Ihza Mahendra dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto ikut menyoroti langkah Dedi Mulyadi yang menabrak hukum ini.

Rilis survei SMRC pimpinan Saiful Mujani yang sempat menyerukan lengserkan Prabowo pada April 2026 ini. Sulit untuk tidak menilai Saiful Mujani partisan. Independensinya diragukan. Menguatkan dugaan ada kepentingan politik dibalik hasil survei SMRC yang dirilis Juli 2026. Mendowngrade Prabowo dan calon presiden potensial lainnya. Melambungkan nama Dedi Mulyadi, Gibran Rakabuming Raka langsung menyodok posisi empat setelah Anies Baswedan dan PSI masuk parlemen.

Menurut SMRC, elektabilitas PSI 4,1 persen mendekati PKS 4,4 persen dan Partai NasDem 4,4 persen. Meninggalkan PAN yang hanya mengoleksi 1,9 persen. Biasanya PKS survei versi SMRC tidak pernah beranjak dari satu koma. Tumben kali ini PKS dapat empat koma. Terlalu vulgar penggiringan opininya.

Ada juga hasil survei LSI terbaru. Juli 2026. Tingkat kepuasan warga Jawa Barat terhadap Dedi Mulyadi menurut LSI 95,4 persen. Nyaris tembus 100 persen. Hanya 4,6 persen warga Jawa Barat tidak puas. Apakah benar? Perlu diuji. Perlu dibongkar. Siapa respondennya? Karena kita tidak pernah tahu orang-orang yang menjadi responden lembaga survei.

Misalnya juga yang patut dipertanyakan adalah tingkat pengenalan Dedi Mulyadi 88,2 persen versi SMRC tapi angka favorabilitasnya 88,3 persen. Favorit tapi tidak kenal. Kok bisa?

Gaya Dedi Mulyadi yang “membumi” bukan semata karena aksinya depan kamera. Melainkan ada sponsor politiknya. Diorkestrasi oleh lembaga survei seolah-olah Dedi Mulyadi harapan baru bagi Indonesia setelah publik kecewa dengan Presiden Prabowo patut kita pertanyakan.

Elektabilitas dan kepuasan publik terhadap Prabowo terjun bebas. Ini mungkin hukuman dari publik atas gaya komunikasi Presiden Prabowo yang sering menyerang kelompok kritis dengan kata-kata kabur ke luar negeri dan londo ireng. Tapi apakah benar semua orang yang kecewa terhadap Prabowo melimpahkan pilihan politiknya pada Dedi Mulyadi dan Gibran Rakabuming Raka? Meragukan! Terlalu mudah dibaca survei SMRC partisan.

Selama menjadi gubernur Jawa Barat belum ada prestasi dan karya monumental Dedi Mulyadi di Jawa Barat. Misalnya saja angka kemiskinan dan pengangguran di Jawa Barat masih tinggi. Bahkan, Jawa Barat penyumbang jumlah penduduk miskin terbesar di Indonesia.

Diakui memang gaya komunikasi Dedi Mulyadi jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan gaya komunikasi Prabowo. Dedi Mulyadi melalui aksi personalnya terjun ke lapangan. Hingga berbuah manis versi SMRC bagi tingkat keterpilihannya andai Pilpres digelar hari ini.

Lonjakan elektabilitas Dedi Mulyadi dari 19 persen ke 35 persen dalam delapan bulan ini sungguh luar biasa. Dedi Mulyadi populer karena aktingnya depan kamera bukan karena prestasinya sebagai gubernur Jawa Barat.

Apakah elektabilitas Dedi Mulyadi nomor satu akan bertahan hingga 2029? Bisa ya. Bisa juga tidak. Tergantung sponsor politiknya. Pemilu masih lama. Tiga tahun lagi. Dalam rentang tiga tahun tersebut bisa saja terjadi banyak kejutan. Sulit ditebak. Karena manusia tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok lusa.

Biasanya politik instan model Dedi Mulyadi cepat naik tapi cepat pula pudarnya. Ridwan Kamil contohnya. Apalagi ada skandal pribadi. Popularitas langsung drop. Terkenal musiman. Rakyat kita mudah jenuh dan mudah lupa. Selain mudah silau dengan kepopuleran seorang tokoh yang diorbitkan secara instan.

Belum juga Prabowo usai. Kini hadir tokoh baru yang yang digadang-gadang beberapa lembaga survei, Dedi Mulyadi. Mirip-mirip dengan Jokowi dulu. Tokoh yang hadir secara instan melalui aksi personal depan kamera. “Menyihir” rakyat yang mudah silau dengan pendekatan kosmetik ketimbang pendekatan otentik.

Akankah rakyat Indonesia kembali tertipu untuk ke sekian kalinya? Tokoh populis produk kosmetik digital dan lembaga survei. Nihil prestasi kerja. Besar oleh adegan depan kamera. “Menyihir” pemilih yang “pluto”; polos, lugu dan tolol (maaf).

Wallahua’lam bish-shawab

Bandung, 19 Safar 1448/3 Agustus 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis