Percakapan yang diduga berasal dari pendukung Perjuangan Walisongo Indonesia-Laskar Sabilillah (PWI-LS) beredar luas di sejumlah platform media sosial. Dalam percakapan tersebut muncul ajakan untuk membubarkan pengajian yang menghadirkan habaib di berbagai wilayah Nusantara.
Narasi yang beredar itu memicu perdebatan di ruang publik karena memuat penolakan terhadap kehadiran habaib dalam berbagai kegiatan keagamaan. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari pengurus pusat PWI-LS yang mengonfirmasi bahwa percakapan tersebut merupakan sikap resmi organisasi.
Dalam isi percakapan yang beredar, para pengirim pesan menganggap sejumlah ajaran yang disampaikan oleh sebagian habaib mengandung unsur khurafat dan dinilai bertentangan dengan ajaran Islam yang mereka pahami.
Mereka juga menyampaikan pandangan bahwa keberadaan habaib telah memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap sejarah Islam di Nusantara. Menurut narasi tersebut, sejarah perjuangan ulama lokal dan Walisongo dinilai telah dipinggirkan oleh narasi yang lebih menonjolkan tokoh-tokoh keturunan Arab.
Salah satu isi percakapan bahkan menyerukan agar seluruh anggota PWI-LS bersiap menghadang setiap pengajian yang menghadirkan habaib apabila tetap diselenggarakan.
Beredarnya percakapan tersebut terjadi setelah dalam beberapa bulan terakhir hubungan antara PWI-LS dan sejumlah kalangan habaib semakin memanas.
Sebelumnya, bentrokan pernah terjadi saat pengajian yang menghadirkan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf bersama KH Anwar Zahid di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Saat itu massa PWI-LS mendatangi lokasi pengajian dan terjadi kericuhan dengan panitia, warga, serta aparat keamanan.
Ketua PWI-LS Grobogan, Ghufron Zainuri, ketika itu menegaskan organisasinya akan terus menolak kegiatan yang menghadirkan habaib di wilayahnya.
“Kami menolak keras kedatangan para habib di Grobogan karena kami khawatir akan menyesatkan umat Islam, di mana mereka mengajarkan khurafat,” ujar Ghufron sebagaimana dikutip sejumlah media.
Dalam kesempatan lain, Ghufron juga mengatakan pihaknya akan tetap menghadang kegiatan yang menghadirkan habaib apabila dianggap membawa ajaran yang menurut mereka tidak sesuai.
Sementara itu, panitia pengajian di Grobogan membantah seluruh tudingan tersebut. Panitia menegaskan bahwa kegiatan tersebut semata-mata merupakan pengajian dan syukuran warga tanpa maksud memicu konflik dengan kelompok mana pun.
“Kami hanya ingin mengaji bersama masyarakat, tidak ada tendensi apa pun ketika menghadirkan Habib Bidin dan KH Anwar Zahid,” kata salah seorang panitia.
Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai penyebaran narasi di media sosial yang menyerukan pembubaran kegiatan keagamaan berpotensi meningkatkan ketegangan di tengah masyarakat apabila tidak segera diklarifikasi.
Apalagi, sebelumnya PWI-LS juga beberapa kali menjadi sorotan akibat aksi penolakan terhadap pengajian yang menghadirkan habaib di sejumlah daerah. Beberapa insiden bahkan berujung bentrokan antara massa, panitia, dan aparat keamanan.
Di sisi lain, sejumlah organisasi yang menaungi habaib mengecam tindakan pembubaran maupun persekusi terhadap kegiatan dakwah. Mereka meminta seluruh pihak menempuh jalur dialog apabila terdapat perbedaan pandangan keagamaan, bukan melalui aksi massa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi resmi dari pengurus pusat PWI-LS mengenai keaslian percakapan yang beredar maupun apakah ajakan membubarkan pengajian habaib merupakan kebijakan organisasi. Aparat keamanan juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait beredarnya narasi tersebut.
Karena itu, informasi yang berasal dari percakapan media sosial tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun memperkeruh situasi di tengah masyarakat.












