News  

Berteman dengan Semua Kalangan Termasuk Asing, Pengamat: Prabowo Tetap Pegang Kendali Keputusan

Amir Hamzah (IST)

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dikenal memiliki jaringan relasi yang luas, tidak hanya dengan tokoh politik dan pemimpin di dalam negeri tetapi juga dengan aktor internasional dari berbagai latar belakang. Namun, menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, relasi luas tersebut bukan berarti Presiden Prabowo dikendalikan oleh pihak asing dalam mengambil keputusan strategis negara.

Amir menegaskan bahwa interaksi dengan tokoh asing — termasuk figur seperti Karen Brooks dan Lucian Despoiu yang belakangan menjadi pembicaraan publik — tidak serta-merta mencerminkan adanya kontrol asing atas kebijakan nasional. Sebaliknya, kemampuan untuk berkomunikasi dengan beragam pihak justru merupakan keterampilan penting dalam diplomasi dan intelijen modern.

“Kalau hanya dilihat dari luar saja, orang bisa salah menilai. Dalam dunia intelijen, harus bisa bergaul dengan siapa saja dan dibutuhkan kecerdasan dalam mengambil keputusan,” ujar Amir saat diwawancarai wartawan di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Sejak menjabat sebagai Presiden, Prabowo aktif memperluas hubungan diplomatik Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Memiliki pengalaman pendidikan di luar negeri dan latar belakang militer di Kopassus, Prabowo dikenal mampu menempatkan diri dalam forum internasional tanpa kehilangan sisi kedaulatannya.

Amir menilai, kemampuan berinteraksi dengan tokoh asing merupakan bagian dari strategi diplomasi yang pragmatis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Dalam pertemuan dengan investor global beberapa waktu lalu, Prabowo bahkan menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi “raksasa yang tertidur” tetapi bangkit sebagai kekuatan ekonomi dan politik yang diperhitungkan.

Relasi internasional yang dibangun Prabowo juga mencakup dialog strategis di berbagai forum multilateralisme, memperluas kerja sama ekonomi, serta menegaskan posisi Indonesia dalam politik luar negeri yang independen dan berdaulat.

Hubungan luas seorang kepala negara dengan aktor asing bukanlah indikator bahwa keputusan negara berada di bawah pengaruh pihak luar. Justru sebaliknya, menurut Amir, interaksi seperti ini menguatkan kemampuan Indonesia dalam:

1. Diplomasi ekonomi, menarik investasi dan peluang kerja sama teknologi.

2. Pertahanan dan keamanan, melalui dialog serta kolaborasi strategis dengan negara lain.

3. Menjaga peran Indonesia sebagai negara dengan kebijakan luar negeri bebas aktif dan berdaulat.

Amir juga menegaskan bahwa Prabowo, berbekal pengalaman militer dan intelijen, sangat paham bagaimana membangun hubungan tanpa kehilangan kendali atas keputusan strategis yang menyangkut kepentingan nasional.

Beberapa narasi publik yang beredar mencoba mengaitkan nama-nama asing tertentu dengan pengaruh dalam pengambilan keputusan Presiden. Namun, Amir menyebut narasi semacam itu sering terlalu sederhana dan tidak mempertimbangkan dinamika kompleks dalam struktur kebijakan pemerintahan.

Menurut Amir, hal yang lebih penting bagi publik adalah memahami bahwa dalam geopolitik modern, hubungan dengan berbagai pihak internasional adalah kebutuhan, bukan sebuah kompromi terhadap kedaulatan.

Interaksi Presiden Prabowo dengan pihak asing merupakan bagian dari diplomasi aktif Indonesia di kancah global.

“Pendekatan relasional yang luas justru memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan mempertahankan kepentingan nasional,” pungkasnya.