Sulit menjawab pertanyaan judul di atas. Meski penulis pernah belajar koperasi, baik SMEA maupun perguruan tinggi. Kenapa sulit? Koperasi Merah Putih beda dengan koperasi konvensional lainnya.
Menurut teori koperasi konvensional, koperasi untuk anggota. Ada manfaat ekonomi yang diperoleh dengan menjadi anggota. Meski anggota harus membayar biaya partisipasi. Istilahnya triple S. Simpanan Pokok, Simpanan Wajib dan Simpanan Sukarela.
Lalu untuk apa menjadi anggota koperasi kalau manfaat ekonomi di Indomaret dan Alfamart lebih besar? Harga lebih murah dan diskon besar. Plus, kita tidak perlu bersusah payah menjadi anggota gerai milik konglomerat itu.
Apalagi Sisa Hasil Usaha (SHU) dari koperasi kecil. Bahkan teramat kecil. Jauh bila dikonversi dengan harga dan diskon dari gerai milik konglomerat yang mematikan warung-warung kampung yang notabene milik pribumi.
Sekarang lagi ramai-ramai ngomongin mobil impor dari India untuk Koperasi Merah Putih. Jumlahnya fantastis. 105.000 unit. Jumlah desa dan kelurahan di Indonesia saja 84.276.
Kalau tiap desa dan kelurahan dapat 1 unit. Kelebihan 20.724 unit. Mungkin ada desa atau kelurahan yang dapat jatah lebih dari 1 unit. Urgensinya?
Pertanyaan yang bikin penulis bingung. Benar-benar bingung. Apakah tiap Koperasi Merah Putih yang tersebar di 84.276 desa/kelurahan sudah ada Koperasi Merah Putihnya?
Sepanjang penelusuran penulis di beberapa kecamatan di Jawa Barat. Ingat Jawa Barat loh ya! Bukan Sumatera atau Kalimantan. Pasti diluar Pulau Jawa tidak sebanyak di Pulau Jawa. Jangan-jangan nanti seperti dapur MBG. Insentif Rp 6 juta perhari bagi yang punya gedung untuk Koperasi Merah Putih. Wow! Proyek bisnis lagi.
Di Jawa Barat saja sangat jarang bertemu kantor Koperasi Merah Putih. Paling ada, 1 kecamatan 1 Koperasi Merah Putih. Itupun baru Koperasi Merah Putih papan nama. Bangunannya saja Merah Putih. Tapi belum ada aktivitas apapun.
Lalu untuk apa impor mobil India dengan nilai hampir Rp. 25 triliun? Yang bakal dicicil dari APBN selama 6 tahun. Sementara Koperasi Merah Putih belum ada kegiatan apa-apa? Unit mobilnya sudah ada di Tanjung Priok.
Heboh! Kita tak pernah dengar impor mobil India yang disebut-sebut kurang laku itu. Ada apa? Proyek bisnis besarkah? Berapa komisi yang bakal diterima para pihak dari nilai hampir Rp25 triliun itu?
Ujug-ujug mobil impor dari India itu bertulis Koperasi Merah Putih sudah mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hanya berjarak puluhan kilo meter dari Istana Presiden. Gempar.
Semua bingung. Ketua DPR. Bahkan Menteri Koperasi tidak tahu apa-apa impor mobil untuk Koperasi Merah Putih. Aneh. Padahal separtai.
Banyak pertanyaan muncul. Ada apa? Koperasi Merah Putih yang belum ada apa-apanya jadi heboh karena ada apa-apanya. Impor mobil India hampir Rp25 triliun yang tidak jelas peruntukannya untuk Koperasi Merah Putih.
Karena tiap desa dan kelurahan mempunyai karekteristik masing-masing. Belum lagi antara desa di Pulau Jawa dan diluar Pulau Jawa. Beda sekali karakteristiknya. Tidak bisa dipukul rata. Tergantung kebutuhannya.
Belum lagi Koperasi Merah Putih belum punya bisnis modelnya. Bahkan Menteri Koperasi saja masih bingung. Unit usaha apa yang bakal dikembangkan di Koperasi Merah Putih.
Menteri Koperasi pernah menyebut Koperasi Merah Putih bisa berperan sebagai Baitul Maal wa Tamwil (BMT) atau lembaga keuangan mikro syariah mandiri.
Menteri Koperasi pula menyebut Koperasi Merah Putih akan menjadi wadah penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Bantuan Sosial bagi masyarakat desa sebagai objek penerima manfaat.
Dari perkataan Menteri Koperasi kita punya kesimpulan. Koperasi Merah Putih belum punya konsep yang jelas. Bisnis modelnya masih diawang-awang.
Lalu, untuk siapa 105.000 unit mobil impor dari India? Statusnya bagaimana? Rakyat keningnya tambah mengkerut. Inikah Koperasi Merah Putih hasil “dakkir”? Mendadak mikir? Karena ada cuan disitu.
Wallahua’lam bish-shawab
Bandung, 10 Ramadhan 1447/28 Februari 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












