News  

Perang Iran Vs AS-Israel akan Berlangsung Lama

Rokhmat Widodo (IST)

Eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa yang sedang berlangsung bukan hanya operasi militer terbatas, melainkan benturan strategis jangka panjang. Pernyataan elite politik dan militer Teheran yang menolak perundingan memperlihatkan bahwa perang ini telah ditempatkan dalam kerangka ideologis dan eksistensial. Ketika konflik sudah masuk ke ranah identitas dan kelangsungan rezim, ruang kompromi menyempit drastis.

Kematian atau serangan terhadap figur sentral seperti Ali Khamenei memunculkan perlawanan yang kuat di Iran. Dalam sistem Republik Islam, pemimpin tertinggi bukan hanya kepala negara, melainkan poros legitimasi ideologis. Serangan terhadap simbol itu akan dipersepsikan sebagai upaya melumpuhkan fondasi negara, sehingga respons yang muncul cenderung total dan berjangka panjang.

Sejak Revolusi 1978, narasi perlawanan terhadap dominasi Barat menjadi fondasi politik luar negeri Iran. Konflik dengan Amerika dan Israel dibingkai sebagai perlawanan terhadap hegemoni global. Dalam kerangka ini, perang tidak dilihat semata sebagai pertarungan teritorial, melainkan bagian dari misi ideologis.

Ideologi Syiah politik yang dianut Teheran membangun kultur ketahanan dan pengorbanan. Konsep “perlawanan” (muqawamah) tidak berhenti pada retorika, tetapi ditanamkan dalam doktrin militer dan pendidikan politik. Karena itu, tekanan militer justru berpotensi memperkuat kohesi internal, bukan melemahkannya.

Iran bukan aktor yang asing dengan konflik berkepanjangan. Perang delapan tahun melawan Irak pada 1980–1988 membentuk doktrin pertahanan asimetris. Saat itu, Teheran menghadapi embargo, isolasi, dan tekanan internasional, namun mampu bertahan. Pengalaman tersebut melahirkan strategi perang tidak langsung: penggunaan proksi regional, pengembangan rudal balistik, serta penguatan pertahanan berlapis.

Inilah yang membedakan Iran dari negara seperti Venezuela, yang meski berseberangan dengan Washington, tidak memiliki pengalaman perang konvensional panjang maupun jejaring militer kawasan yang kuat. Iran telah membangun jaringan pengaruh di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Artinya, konflik tidak terbatas pada satu garis depan.

Perang ini juga terjadi dalam konteks pergeseran tatanan dunia. Dukungan strategis dari China dan Rusia memperkuat posisi Iran. Kerjasama teknologi militer, perdagangan energi, hingga dukungan diplomatik di forum internasional memberikan bantalan strategis terhadap tekanan Barat.

Jika dua dekade lalu Amerika relatif leluasa melakukan intervensi militer tanpa tantangan berarti dari kekuatan besar lain, kini situasinya berbeda. Dunia bergerak menuju multipolaritas. Setiap eskalasi terhadap Iran berpotensi beririsan dengan kepentingan Moskow dan Beijing. Hal ini membuat Washington harus berhitung lebih hati-hati, karena konflik dapat meluas ke ranah kompetisi kekuatan besar.

Iran sadar bahwa dalam perang konvensional terbuka, kekuatan militernya tidak sebanding dengan Amerika Serikat. Karena itu, strategi yang dikembangkan adalah asimetri: rudal jarak menengah, drone, peperangan siber, serta tekanan terhadap jalur energi global seperti Selat Hormuz. Targetnya bukan memenangkan perang secara cepat, melainkan meningkatkan biaya politik dan ekonomi lawan.

Jika kapal induk atau pangkalan militer Amerika menjadi sasaran rudal, dampaknya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga psikologis. Persepsi kerentanan dapat menggerus aura superioritas militer yang selama ini melekat pada Washington. Dalam konflik modern, persepsi sama pentingnya dengan kekuatan nyata.

Mengapa Perang Ini Cenderung Lama?

1. Konflik Eksistensial
Ketika kedua pihak memandang perang sebagai soal kelangsungan dan kredibilitas, tidak ada ruang mundur tanpa kehilangan legitimasi.

2. Jaringan Proksi Regional
Iran tidak bertempur sendirian. Kelompok-kelompok sekutu di berbagai negara Timur Tengah dapat membuka banyak front, membuat perang bersifat menyebar dan sulit ditutup.

3. Multipolaritas Global
Dukungan tidak langsung dari kekuatan besar lain memperpanjang daya tahan Iran sekaligus membatasi opsi ofensif total Amerika.

4. Ekonomi Energi Dunia
Kawasan Teluk adalah jantung energi global. Setiap eskalasi berdampak pada harga minyak dan stabilitas ekonomi dunia. Tekanan internasional untuk menghindari kehancuran total justru dapat membuat konflik berlarut dalam intensitas menengah.

Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel bukan konflik yang mudah dipadamkan melalui tekanan militer singkat atau diplomasi instan. Ia berakar pada sejarah panjang, ideologi yang mengeras, serta pergeseran geopolitik global. Semua faktor ini membentuk kondisi yang memungkinkan perang berlangsung lama, dengan intensitas naik-turun, melibatkan banyak aktor, dan berdampak luas terhadap tatanan internasional.

Dalam situasi seperti ini, dunia tidak hanya menyaksikan pertarungan militer, tetapi juga pertarungan arah masa depan keseimbangan kekuatan global.

Oleh: Rokhmat Widodo, Pengamat Timur Tengah