Soekarno dikenal sebagai salah satu pemimpin Dunia Ketiga yang paling keras menentang imperialisme Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung, Soekarno mengumandangkan gagasan besar tentang pertarungan antara NEFO (New Emerging Forces) melawan OLDEFO (Old Established Forces).
Sementara itu di Iran, Ayatollah Khomeini dikenal dengan retorikanya yang menyebut Amerika Serikat sebagai “The Great Satan” (Setan Besar). Menariknya, Khomeini dan Soekarno berasal dari generasi yang hampir sama. Khomeini lahir pada 17 Mei 1900, sedangkan Soekarno lahir pada 1 Juni 1901.
Karena kesamaan generasi tersebut, banyak analis melihat bahwa narasi anti-imperialisme yang dikembangkan Soekarno dan gerakan Dunia Ketiga pada masa itu turut menjadi salah satu referensi atmosfer ideologis yang kemudian memengaruhi gerakan revolusioner di Iran.
Pada era 1950-an hingga 1960-an, Soekarno merupakan ikon revolusi anti-Barat di dunia Islam dan Asia. Tokoh-tokoh politik di Timur Tengah banyak memperhatikan pidato-pidato Soekarno yang terkenal seperti “To Build the World Anew” dan “Let a New Asia and a New Africa be Born.”
Gagasan tersebut memberi inspirasi bagi generasi aktivis Islam dan nasionalis di Timur Tengah, termasuk kalangan intelektual yang kemudian menjadi pendukung revolusi Iran.
Pada masa itu, Soekarno sangat dikenal di dunia ketiga bersama tokoh-tokoh besar seperti Gamal Abdel Nasser dari Mesir, Josip Broz Tito dari Yugoslavia, dan Jawaharlal Nehru dari India. Kerja sama mereka melahirkan Gerakan Non-Blok yang menjadi kekuatan alternatif di tengah rivalitas Blok Barat dan Blok Timur pada masa Perang Dingin.
Karena itu, sangat mungkin Ayatollah Khomeini mengetahui dan memperhatikan sosok Soekarno sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat.
Selain itu, terdapat sejumlah intelektual Iran yang diduga terinspirasi oleh gagasan yang dipopulerkan Soekarno, khususnya semangat anti-kolonialisme dan kebangkitan dunia Timur.
Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 menjadi momen psikologis yang sangat penting bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dalam pidato pembukaannya, Soekarno menegaskan bahwa dunia Timur harus bangkit melawan kolonialisme. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika harus memiliki kepercayaan diri dan berani menentang dominasi Barat, baik secara politik maupun budaya.
Pidato Soekarno yang terkenal, “Let a New Asia and a New Africa be Born,” menjadi simbol kebangkitan dunia ketiga.
Di Timur Tengah, peristiwa tersebut dipandang sebagai awal kebangkitan global bangsa-bangsa yang selama ini berada di bawah bayang-bayang kolonialisme Barat. Gagasan ini kemudian membentuk atmosfer intelektual yang juga memengaruhi kalangan oposisi di Iran.
Salah satu tokoh yang sering disebut dalam konteks ini adalah Ali Shariati, intelektual Iran yang lahir pada 23 November 1933. Saat Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung, Shariati berusia sekitar 22 tahun—sebuah usia yang biasanya menjadi fase awal munculnya semangat pemberontakan terhadap kemapanan.
Kelak, Shariati dikenal sebagai salah satu ideolog utama Revolusi Iran yang mengusung gagasan pembebasan bangsa tertindas dan perlawanan terhadap imperialisme.
Selain Shariati, terdapat pula tokoh intelektual Muslim Iran Mehdi Bazargan, yang lahir pada 1 September 1907. Bazargan kemudian menjadi perdana menteri pertama Iran setelah Revolusi 1979. Ia termasuk kalangan intelektual Muslim yang diduga juga memperoleh inspirasi dari semangat Konferensi Asia Afrika.
Pada saat KAA berlangsung, Bazargan berusia 48 tahun—usia yang cukup matang untuk memahami kondisi politik Iran di bawah rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi dan dampak dominasi Barat terhadap negaranya.
Sikap oposisi terhadap kekuasaan Shah sebenarnya mulai terlihat sejak awal 1960-an, tidak lama setelah momentum Konferensi Asia Afrika. Gerakan oposisi kemudian semakin kuat pada periode 1977-1979 yang akhirnya memicu Revolusi Iran.
Gelombang perlawanan terhadap Shah mulai muncul pada sekitar tahun 1960-1963, terutama setelah pemerintah meluncurkan program reformasi yang dikenal sebagai “White Revolution.”
Program tersebut mencakup reformasi tanah, modernisasi ekonomi, serta pemberian hak politik kepada perempuan. Namun kebijakan ini ditentang oleh sebagian ulama dan kelompok tradisional yang menilai bahwa program tersebut terlalu pro-Barat dan berpotensi melemahkan peran agama dalam kehidupan masyarakat Iran.
Di sisi lain, modernisasi ekonomi justru memperlebar ketimpangan sosial. Kalangan elite dan kelas menengah perkotaan mengalami peningkatan kesejahteraan, sementara rakyat desa dan kaum pekerja masih hidup dalam kemiskinan. Korupsi serta gaya hidup mewah keluarga kerajaan juga memicu kemarahan publik.
Pada tahun 1963, terjadi demonstrasi besar yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini. Setelah peristiwa tersebut, Khomeini ditangkap dan kemudian diasingkan ke luar negeri.
Memasuki tahun 1970-an, gerakan oposisi semakin luas dan melibatkan berbagai kelompok, mulai dari ulama, mahasiswa, kelompok kiri, hingga kaum nasionalis. Kritik terhadap pemerintah ditanggapi dengan represif oleh polisi rahasia SAVAK yang dikenal keras dan kejam.
Pada tahun 1978, demonstrasi besar kembali terjadi dan menyebar ke berbagai kota di Iran. Puncaknya terjadi pada peristiwa Black Friday 1978, ketika bentrokan berdarah antara demonstran dan aparat semakin menyatukan berbagai kelompok oposisi melawan Shah.
Akhirnya, pada Januari 1979 Shah Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran. Pada Februari 1979, revolusi berhasil menggulingkan monarki Pahlavi dan membuka babak baru dalam sejarah politik Iran.
Pada akhir 1950-an hingga 1960-an, nama Soekarno sangat dikenal di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika. Bahkan di beberapa negara di kawasan tersebut terdapat jalan yang menggunakan nama Soekarno.
Pada era 1950-an, Indonesia dipandang sebagai pemimpin dunia Islam modern. Sejumlah negara Timur Tengah melihat Indonesia sebagai contoh negara Muslim besar yang berhasil merdeka dari kolonialisme dan aktif memainkan peran penting dalam politik global.
Tidak mengherankan jika Soekarno sering mendapatkan sambutan luar biasa ketika berkunjung ke negara-negara Timur Tengah.
Dalam konteks perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Barat, terdapat kesamaan spirit antara Soekarno dan Ayatollah Khomeini: keduanya sama-sama mengusung gagasan perlawanan terhadap dominasi kekuatan Barat.
Catatan: M. Hatta Taliwang












