News  

Peringkat IQ Global 2026: Asia Kuasai 4 Besar, Indonesia Terpuruk Jauh di Bawah Afrika

Peta kecerdasan global menunjukkan pergeseran yang signifikan. Berdasarkan rilis data International IQ Test untuk tahun 2026, negara-negara Asia menegaskan supremasi mutlaknya dengan menyapu bersih posisi empat besar dunia. Di sisi lain, potret buram justru mewarnai Indonesia yang kian terpuruk di papan bawah klasemen.

Laporan yang diterbitkan per 1 Januari 2026 –mengacu pada sampel 1,2 juta peserta tes sepanjang 2025– ini menempatkan Korea Selatan di takhta tertinggi dengan rata-rata IQ 106,97. Posisi bergengsi ini ditempel ketat oleh Republik Rakyat China (106,48) dan Jepang (106,30).

Namun, kejutan terbesar datang dari kawasan Timur Tengah. Iran berhasil merangsek naik ke peringkat keempat dunia dengan mencatatkan skor 104,80. Pencapaian gemilang Teheran ini berbanding terbalik dengan rival geopolitiknya, Amerika Serikat, yang justru tercecer di posisi ke-18 dengan skor 101,04.

Ironi Indonesia: Anjlok dan Tertinggal Jauh
Jika dominasi Asia di puncak klasemen menjadi kabar baik, realitas sebaliknya harus ditelan mentah-mentah oleh Indonesia. Data ini bak tamparan keras bagi wajah pendidikan nasional.

Dari total 137 negara yang masuk dalam daftar, Indonesia terperosok ke peringkat 126 dengan rata-rata IQ hanya 89,96. Skor ini mencatatkan tren negatif, anjlok 3,22 poin dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Ketertinggalan ini menjadi kian ironis jika dikomparasikan secara apple-to-apple dengan negara-negara di kawasan Afrika yang kerap diasumsikan lebih tertinggal dalam infrastruktur pendidikan. Nyatanya, kualitas rata-rata kognitif masyarakat Indonesia masih berada di bawah Zambia (peringkat 104), Kenya (114), Zimbabwe (116), hingga Ghana (117).

Di skala regional Asia Tenggara pun, Indonesia tertatih-tatih di urutan belakang. Peringkat kita terpaut jauh dari Malaysia yang bertengger di posisi 49 (skor 98,51), Myanmar di posisi 54 dunia (skor 98,28), Brunei posisi 74 (skor 96,54), dan Laos yang berada di urutan 105 (skor 92,97). Bahkan Singapura dan Vietnam tembus posisi 10 besar.

Fakta berbasis data ini semestinya menjadi alarm peringatan darurat bagi para pemangku kebijakan. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN tampaknya perlu dievaluasi efektivitasnya secara menyeluruh agar tak sekadar menjadi rutinitas pembelanjaan tanpa hasil yang mendongkrak kualitas daya saing manusia Indonesia di level global.(Sumber)