News  

Bangsa Apa Kita Saat Ini?

Gambaran Kemiskinan di Indonesia

Bangsa ini rasanya perlu diingatkan atas umumnya anak bangsa abai terhadap kondisinya yang sudah keterlaluan dan kelewatan. Akibat tahta lalu misalnya tak pantas di negeri ini rakyatnya ada 16o juta lebih yang miskin di data bank dunia: tak pantas bangsa terancam bubar bila tak berhutang; tak pantas bangsa ini disebut terkorup ketiga di dunia yang jumlahnya ribuan trilyun; tak pantas berpolitik dan berhukum dan berekonomi tidak berada di jalan benar untuk meraih cita konstitusi. Bangsa yang kaya raya kekayaan alamnya, namun hanya untuk menghidupi bangsa lain dan bangsa ini seperti tak memiliki manusia yang berkualitas, berakal sehat dan berhatinurani untuk membangun bangsa.

Terasa berat untuk menyebut bangsa dalam penyebutan seperti apa. Tetapi kondisinya saat ini terasa naif yang nantinya akan digambarkan. Kiranya hal itu dapat menjadi bahan perenungan bersama bagi bangsa ini yang mungkin umumnya anak bangsa tak merasakannya? Ada dua nilai fundamental bagi setiap manusia yakni cerdas dan jujur setelah puluhan tahun bangsa ini berjuang untuk hal itu melalui pendidikan dan jalan lainnya benarkah itu tak terjadi? Berdasarkan fenomena yang ada paling tidak bangsa dalam citra seperti itu.

Bangsa yang langitnya sangat terasa tengah dikendalikan oleh penguasa ekonomi yang menguasai kekayaan di darat dan laut yang citarasanya dalam citarasa orang asing tapi berselimut NKRI sebagai harga mati. Mungkin saja mereka menggunakan lembaga thinktank dan media massa lalu lembaga survey serta kaki tangan lain di lembaga strategis negara dan di alat negara lain yang bekerja untuk mereka pada waktu itu.

Misi mereka untuk tetap menguasai ekonomi dan karenanya langit bangsa harus berwarna tak cerdas dan tak jujur melalui jalan tahta boneka yang digunakannya. Yang di tahta itu kemudian seperti dewa apa yang keluar dari mulutnya terlaksana oleh kaki tangannya di tahta dan dunia pengadilan.

Sebuah lukisan
Lukisan bangsa menuju dua kata itu. Dimulai dari memahami psikologis bangsa yang sangat berharap misi reformasi yang puluhan tahun bahkan sejak presiden ke tiga hingga presiden ke enam di mana mimpi bersih KKN agar tidak menjadi masalah lagi di bangsa ini.

Saat presiden ke dua mereka diberi kesempatan untuk mengambil keuntungan ekonomi sangat besar, namun setelah presiden ketiga hingga ke enam tak sepenuhnya lagi mereka menikmatinya. Saat presiden ke enam bak dicinta berulang tiba, sosok yang tak boleh dipilih lagi. Demi keserakahannya mereka mulai menyiapkan sosok yang sangat berbeda dari presiden keenam ini.

Sang presiden yang berbadan tegap berwajah tampan dan terdidik tinggi maka dipilih sosok antitesisnya dari sosok yang badan dan wajah yang sebalikyna. Wajah yang ndeso tampak kerakyatan bagaikan orang suci jauh dari kebohongan. Sosok yang dipasarkan oleh kaki tangannya dengan citra baik melalui media massa tv, radio disertai angka kepuasan yang tinggi dari lembaga survey atas tahtanya yang membuat banyak anak bangsa terpukau dan terlena yang akhirnya melalui pemilu menghasilkan sosok pemimpin itu yang akhir ceritanya bangsa dalam citra itu. Tercitra naif itu melalui fakta yang ada di antaranya:

– Bangsa yang kaya raya di mana masih ada kesenjangan yang ekstrim kurang dari satu persen yang superkaya dan kaya dan yang miskin dan terancam miskin ada di angka 99 persen
-Bangsa yang tak berdaya menghadapi hegemoni oligarki (tuannya) mewarnai kebijakan pembangunan justru semakin memperkaya mereka, yang malah membebani rakyat konon itu di pembangunan dalam katagori PSN, IKN, ka Whoss dan lainnya
-Bangsa dengan hutang di angka 9 ribu trilyun lebih
-Bangsa dengan prilaku korups di angka kumulatif ribuan trilyun bagaikan gerakan tahta dan kaki tangannya
-Bangsa diberi angka manusia miskin di angka 16o jt lebih di hitungan bank dunia
-Bangsa yang diberi beban warisan sosok biologis di tahta melalui pelanggaran etika politik dan hukum yang digunakan untuk kuasanya
-Bangsa yang ada tahta di masanya soft otoritarian dan disebut akhirnya terkorups peringkat dua/tiga di dunia oleh 00CRP

Kondisi yang sangat naif yang terlukis di bangsa ini dalam kata dan ungkapan berikut:

Bodoh
Bangsa tak layak dalam kondisi itu meskipun masih berupa tercitra. Bangsa yang konon terus berjuang dan dengan dana ribuan trilyun untuk menghindari hal itu melalui pendidikan dan instrumen lainnya demi kemajuan bangsa. Meraih kemajuan bangsa bukan hal yang mustahil, karena tidak ada yang kurang untuk menjadi bangsa yang maju dan rakyatnya merasakan keadilan dan kemakmuran.

Negeri yang kaya raya ada minyak, batu bara, nikel, emas dan lainnya ribuan trilyun nilainya. Rakyatnya pun diberi pendidikan modern konon untuk mengelola bangsa secara profesional. Konon agar bangsa lebih maju dibandingkan dengan negara teluk yang dianggap konservatif namun mereka bisa memanfaatkan kekayaan di buminya dan rakyatnya makmur.

Untuk tujuan itu disiapkan melalui pendidikan yang umumnya berkiblat ke negeri kapitalis malah kini menjadi negeri yang mandek dan cenderung mundur. Negeri yang manusianya umumnya menyembah Tuhan saja ke Mekah tapi kiblat lainnya seperti ekonomi, demokrasi, hukum, budaya malah menjadi pengekor mereka.

Negeri yang menyebut dirinya modern tapi tidak bisa mengolah kekayaannya dan mengambil manfaat untuk rakyat dan juga untuk mengolah ekonomi, politik, hukum tidak bisa sepenuhnya memfungsikan manusianya yang berkualitas dalam pembangunannya untuk meraih tujuan konstitusinya yang telah disebutkan yakni rakyatnya bukan saja bertuhan tapi berkeadilan dan berkemakmuran yang dua hal semakin jauh, lalu yang berikutnya bangsa terkesan tak jujur.

Takjujur
Ada jalan-jalan bangsa agar kemerdekaannya bermakna sehingga untuk itu telah menghabiskan uang ribuan trilyunan yang kini terkesan hanya membentuk bangsa yang terkesan sangat tak jujur. Ini digambarkan oleh tahta lalu berada di peringkat ketiga terkorup di dunia. Bangsa yang umumnya manusianya seolah abai akan hal itu. Padahal bangsa ini beragama yang nilainya sangat menekankan kejujuran, itu juga tujuan konstitusi bangsanya. Nilai itu terasa semakin asing di negeri ini.

Bangsa yang berpancasila berada dalam ketakjelasan seperti apa yang dimaknai dari nilai-nilainya. Ekonomi, politik, hukum, budaya Pancasila seperti apa coraknya dan wujudnya. Pancasila terasa hanya se macam azimat yang tak bermakna bagi bangsa kecuali hanya slogan untuk persatuannya.

Kejujuran harus ditegakkan oleh seluruh instrumen bangsa bukan saja melalui jalan pendidikan tetapi juga jalan jalan lainnya. Misi tegaknya kejujuran adalah misi bangsa yang artinya meliputi berbagai jalan itu. Menegakkan kejujuran di mulai melalui setiap rumah tangga dan juga melalui lembaga pendidikan namun bila terasa tak tak maksimal?

Maka, yang sangat perlu mendapatkan perhatian oleh anak bangsa yang konon ada parcok dan termul dan terjadi kegaduhan yang tak perlu yakni jalan politik yang prilaku manusianya berpolitik yang tak bermoral pancasila.

Sepuluh tahun lebih ini lebih ada gambar politik melalui proses demokrasi yang misinya terjadi sebaliknya dari misi pendidikan. Demokrasi yang berjalan hanya semu atau hanya prosedural yang terasa tak menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa agar berdiri di atas kejujuran. Demokrasi yang oleh tahta demokrasi yang menghancurkan bukan membangun bangsa yang tak boleh terulang kembali.

Tahta yang seharusnya menjadi tauladan malah menggambarkan diri yang lagi haus kekuasaan. Tahta terasa tak memiliki pedoman moral dalam bernegara. Tahta yang diisi manusia tak bermoral yang secara vulgar cawe-cawe dan berprilaku menggunakan politik gentong babi di pemilu dan prilaku mengendalikan MK dan KPU serta menodai alat negara menjadi partai yang tak terdaftar yang disebut partai coklat atau parcok yang kontroversial yang dengan berbagai prilaku tahta itu memunculkan film dirty vote, terasa demokrasi menjadi jalan cepat penghancuran mentalitas bangsa dalam ceburan kolam ketakjujuran yang akut.

Demokrasi abnormal yang tak boleh lagi terulang kembali di negara yang bermoral Pancasila ini karena terasa yang dilakukan terasa sila-sia yang hanya menguras uang rakyat dalam puluhan trilyun dan bahkan ratusan trilyun. Prilaku berdemokrasi yang tak bermoral yang juga menghancurkan mentalitas anak bangsa seperti tak disadari oleh bangsa ini. Di negara asalnya di barat demokrasi minim keluhan seperti itu. Berbeda di negeri ini yang mengaku berpancasila yang menghinakan diri dan menghinakan bangsa yang sudah ada jutaan kaum sarjananya yang konon komitmennya pada pancasila.

Jalan politik melalui demokrasi yang terasa mengorbankan misi pendidikan yang seharusnya disadari dan diluruskan untuk dikembalikan dalam spirit Pancasila.

Jalan politik
Jalan politik itu telah digunakan oleh pengkhianat bangsa melalui penghalalan segala cara yang menodai bangsa yang berpancasila yang telah menghadirkan sosok pemimpin dalam selimut yang gelap. Sosok dalam karya yang telah disebutkan di atas. Sosok yang diduga kuat oleh para peneliti dari sebuah kampus besar dirinya dalam tanda tanya besar kelayakannya yang diduga ada yang menyebut lulusan pasar Pramuka? yang pernah berada di tahta yang terhormat selama dua dekade yang membuat banyak anak bangsa terkesima tahunan dalam lukisan yang indah dan banyak dibuat mabok olehnya.

Tahta yang tak disadari telah membawa misi ter sembunyi untuk tuannya dan kingkungan dekatnya. Harga mahal dirasakan telah membawa kerugian uang rakyat yang tidak sedikit dalam ribuan trilyun disertai dengan kerusakan mental anak bangsa seperti “prilaku korupsi yang melampaui batas itu serta adanya fenomena termul dan juga parcok” sehingga bangsa tercitra dalam kenaifan itu.

Menantang
Menantang bangsa yang masih memiliki kaum intelektual atau kaum bekecerdasan di bidang hukum, politik dan lainnya agar tak terkesan mereka terikut terus berada di kolam kenaifan itu.

Berdasarkan fakta yang naif yang telah disebut tengah melanda bangsa ini di mana masih banyak anak bangsa yang berakal sehat berharap perlu tegaknya keadilan terhadap karya yang telah memberikan catatan hitam untuk bangsa ini.

Melalui karyanya bahkan telah mencoreng lembaga hukum yang terhormat yang diisi oleh bukan manusia sembarangan dan bahkan mereka bagian dari kaum intelektual; apa yang disebut dengan lembaga terhormat seperti Mahkamah Konstitusi menjadi mahkamah keluarga yang dipandang telah melanggar etika bernegara dari hasil abuse of power tahtanya.

Catatan lain bisa jadi panjang dari sosok yang bisa membuat noda pendidikan bangsa yang bukan menjadi lembaga akademik lagi yang sebenarnya berposisi sebagai garda terdepan untuk membentuk manusia utuh dalam istilah pancasila atau Insan Kamil yang dipayungi Pancasila bukan manusia yang potensial menjual negara dan menyengsarakan rakyat yang disebut manusia Basyar.

Di puncak negara adalah tempat kemulyaan yang layaknya diisi oleh Insan Kamil yang dipesankan Pancasila bukan oleh manusia semacam itu.

Buka oleh manusia Basyar ada kerusakan yang dibawanya terasa telah melampaui citarasa kapitalis atau sosialis. Padahal tahta itu telah disumpah sebagai tanda tahta itu sebagai amanah mulia yang harus dijalankan.

Pertaruhan bagi bangsa yang mengaku berpancasila dan telah memiliki jutaan sarjana dan kaum intelektual untuk dicatat dalam sejarahnya dan demi harkat dan martabat yang seharusnya dijaga, itu lukisan sejarah yang jangan terulang.

Untuk itu kejelasan hukum diperlukan oleh bangsa yang berhukum di mana masih ada kaum intelektual politik dan hukum mereka ada di kampus, di partai, ormas serta yang juga di kolam berbintang emas dipundaknya, termasuk pula mereka yang berada di puncak negara seperti di eksekutif atau di istana, di legislatif- di parlemen dan juga di gedung tinggi ada penegak hukum.

Meskipun penegak hukum sedang dipertanyakan kondisinya, misalnya di kepolisian dan lainnya. Masih banyak yang berharap tegaknya keadilan atas dirinya atas semua karyanya. Tegakkan keadilan itu sepanjang tahtanya. Keadilan harus tegak kepada siapa pun ia sama di mata hukum.

Bila tidak dilakukan jalan itu, hal yang sangat naif bagi bangsa terasa berada dalam ungkapan yang menyakitkan, bahwa bangsa ini bukan saja disebut sedang tercitra dalam kolam bodoh dan takjujur tapi sesungguhnya bangsa memang sedang berada dalam kolam yang menyedihkan itu. Setelah tujuh puluhan tahun lebih bangsa merdeka, bangsa masih disebut seperti itu? Wallahu a’lam

Oleh Hasbi Indra, Dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Bogor, April 2026