Wacana mengenai figur yang layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus menjadi perbincangan di kalangan warga nahdliyin. Di tengah dinamika tersebut, Koordinator Pemuda Aswaja, Nur Khalim, menilai sosok KH Nusron Wahid layak dipertimbangkan untuk menjadi Ketua Umum PBNU pada masa mendatang.
Menurut Nur Khalim, penilaian tersebut bukan sekadar karena posisi politik atau popularitas semata, melainkan karena KH Nusron Wahid memiliki kombinasi lengkap antara basis keilmuan pesantren, kedekatan dengan tradisi Nahdlatul Ulama, kemampuan manajerial, serta hubungan yang baik dengan para ulama dan masyarakat akar rumput.
“KH Nusron Wahid adalah sosok yang sangat layak menjadi Ketua Umum PBNU. Beliau bukan hanya memiliki pengalaman birokrasi dan kepemimpinan nasional, tetapi juga memiliki fondasi keilmuan ke-NU-an yang kuat,” ujar Nur Khalim dalam keterangannya, Ahad (26/4/2026).
Nur Khalim menjelaskan, dari sisi pendidikan, Nusron Wahid merupakan alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikenal kuat dalam tradisi keilmuan salaf dan penguasaan kitab kuning. Setelah itu, Nusron juga menempuh pendidikan di SMA NU Al Ma’ruf Kudus, yang semakin memperkuat identitas ke-NU-annya sejak muda.
Menurutnya, latar belakang tersebut menjadi modal penting karena PBNU bukan sekadar organisasi besar, tetapi juga rumah besar ulama yang membutuhkan pemimpin dengan pemahaman mendalam terhadap tradisi keilmuan ahlussunnah wal jamaah.
“Beliau mahir membaca kitab kuning, memahami tradisi pesantren, dan itu menjadi ciri khas utama seorang kader NU sejati. Jadi bukan hanya tampil di ruang publik, tetapi juga punya legitimasi keilmuan,” jelasnya.
Ia menegaskan, salah satu tantangan besar PBNU ke depan adalah menjaga marwah organisasi agar tetap berpijak pada tradisi keilmuan ulama, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman modern. Dalam konteks itu, sosok seperti KH Nusron Wahid dinilai mampu menjembatani dua kebutuhan tersebut.
Selain keilmuan, Nur Khalim juga menyoroti karakter pribadi KH Nusron Wahid yang dinilai sangat menghormati para kiai dan habaib. Sikap tawadhu kepada ulama, menurutnya, merupakan kualitas penting yang tidak bisa ditawar bagi calon pemimpin PBNU.
“Beliau sangat menghormati para kiai, para habib, dan para sesepuh NU. Itu penting, karena PBNU bukan organisasi yang bisa dipimpin hanya dengan pendekatan struktural. Harus ada adab, harus ada penghormatan kepada ulama,” katanya.
Lebih lanjut, Nur Khalim menyebut KH Nusron Wahid bukan tipe pemimpin yang elitis dan berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, ia dikenal sering turun langsung ke lapangan, bertemu dengan warga nahdliyin, mendengar aspirasi mereka, dan menjaga komunikasi dengan berbagai elemen akar rumput.
Menurutnya, gaya kepemimpinan yang membumi seperti itu sangat dibutuhkan PBNU agar organisasi tetap dekat dengan jamaahnya dan tidak terjebak dalam elitisme organisasi.
“Beliau bukan sosok elitis. Beliau sering turun langsung ke masyarakat, menemui warga nahdliyin, berdialog dengan kader-kader muda, mendengar keluhan masyarakat bawah. Ini karakter pemimpin NU yang sesungguhnya,” ujarnya.
Di sisi lain, kapasitas manajerial KH Nusron Wahid juga menjadi nilai tambah yang sangat penting. Pengalaman panjangnya di dunia organisasi, politik, dan pemerintahan dinilai telah membentuk kemampuan kepemimpinan yang matang.
Nur Khalim menilai PBNU sebagai organisasi besar membutuhkan figur yang tidak hanya alim secara keilmuan, tetapi juga kuat dalam tata kelola organisasi modern. Dengan jutaan warga nahdliyin dan jaringan kelembagaan yang luas, PBNU membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola organisasi secara efektif dan profesional.
“Beliau punya kemampuan manajerial yang sangat baik. PBNU ke depan memerlukan pemimpin yang bisa mengelola organisasi besar dengan visi yang jelas, tata kelola yang rapi, dan mampu memperkuat kemandirian jamiyah,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan NU saat ini tidak ringan. Selain menjaga tradisi keislaman moderat, NU juga menghadapi persoalan kaderisasi, penguatan ekonomi umat, pendidikan pesantren, hingga posisi strategis Indonesia dalam dinamika global Islam.
Karena itu, menurut Nur Khalim, PBNU membutuhkan figur pemimpin yang tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga memiliki akar ideologis yang kuat di tubuh NU.
“KH Nusron Wahid punya rekam jejak panjang, punya jaringan nasional, tetapi tetap berakar kuat di NU. Ini yang penting. Jangan sampai PBNU dipimpin orang yang jauh dari kultur nahdliyin,” tegasnya.
Ia juga berharap diskursus mengenai calon Ketua Umum PBNU tidak hanya berorientasi pada pertarungan politik internal, tetapi lebih pada upaya mencari figur terbaik yang mampu menjaga persatuan jamiyah dan membawa NU semakin kuat di masa depan.
Bagi Pemuda Aswaja, kata dia, regenerasi kepemimpinan NU harus diarahkan pada sosok yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara khidmat kepada ulama dan profesionalisme organisasi.
“NU ini terlalu besar untuk dipimpin oleh figur yang hanya kuat secara pencitraan. NU membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami ruh organisasi. Dan kami melihat KH Nusron Wahid memenuhi kriteria itu,” pungkas Nur Khalim.












