Kehadiran delegasi Indonesia dalam The 14th International Meeting of High-Ranking Officials Responsible for Security Matters di Moskow, Rusia, bukan sekadar partisipasi diplomatik rutin. Di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia, forum yang dihadiri lebih dari 120 negara tersebut menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menegaskan posisi strategisnya sebagai negara yang mengedepankan kerja sama keamanan yang inklusif dan tidak berpihak pada blok mana pun.
Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Tri Budi Utomo, bersama unsur Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, BSSN, dan Polri, membawa pesan yang konsisten dengan tradisi politik luar negeri Indonesia selama puluhan tahun: menjaga keseimbangan, memperluas kerja sama, dan menghindari polarisasi geopolitik.
Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi menuju tatanan multipolar yang ditandai dengan penyebaran kekuatan global ke berbagai pusat pengaruh baru. Namun, di balik peluang yang muncul, terdapat pula risiko meningkatnya fragmentasi, kompetisi strategis, dan ketidakpastian internasional.
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, pesan yang disampaikan Indonesia di Moskow memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar pernyataan normatif mengenai kerja sama keamanan.
“Jika dibaca dalam konteks geopolitik global saat ini, Indonesia sedang mengirimkan sinyal kepada seluruh kekuatan besar dunia bahwa Jakarta tidak ingin terseret dalam politik blok. Indonesia ingin tetap menjadi mitra bagi semua pihak, baik Barat maupun Timur, tanpa kehilangan independensi strategisnya,” ujar Amir Hamzah dalam pernyataannya kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
Amir menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah bergerak menuju struktur multipolar yang ditandai oleh munculnya sejumlah pusat kekuatan baru selain Amerika Serikat.
Selain Amerika Serikat dan sekutunya di Barat, kini muncul pengaruh besar dari China, Rusia, India, negara-negara Teluk, hingga kelompok negara berkembang yang tergabung dalam berbagai forum internasional baru.
Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan peluang sekaligus tantangan.
Di satu sisi, negara-negara berkembang memiliki ruang manuver yang lebih besar karena tidak lagi bergantung pada satu kekuatan dominan. Namun di sisi lain, persaingan antar-kekuatan besar juga semakin intensif dan berpotensi menciptakan tekanan terhadap negara-negara yang berada di posisi strategis seperti Indonesia.
“Dalam situasi seperti sekarang, negara-negara menengah atau middle power menjadi sangat penting. Indonesia termasuk salah satunya. Karena posisi geografisnya strategis, sumber daya alamnya besar, dan pengaruh diplomatiknya kuat di kawasan Asia Tenggara,” jelas Amir.
Ia menilai pernyataan Indonesia mengenai multipolaritas yang harus dikelola secara bijaksana merupakan refleksi dari kekhawatiran bahwa persaingan global dapat berubah menjadi konfrontasi yang merugikan stabilitas dunia.
Bagi Amir Hamzah, kehadiran Indonesia di Moskow juga memiliki makna simbolik yang penting.
Rusia saat ini masih menjadi salah satu aktor utama dalam dinamika keamanan global. Meskipun menghadapi tekanan dari Barat akibat konflik berkepanjangan di Eropa Timur, Moskow tetap mempertahankan pengaruhnya dalam isu pertahanan, energi, teknologi militer, serta hubungan dengan negara-negara Global South.
“Dengan hadir di Moskow dan menyampaikan pesan inklusivitas, Indonesia menunjukkan bahwa diplomasi tidak boleh dibatasi oleh rivalitas geopolitik. Indonesia ingin tetap membuka kanal komunikasi dengan semua pihak,” katanya.
Menurut Amir, pendekatan tersebut sangat sejalan dengan doktrin politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia.
Dalam praktiknya, Indonesia berupaya menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, China, Rusia, Uni Eropa, Jepang, India, maupun negara-negara Timur Tengah secara bersamaan.
“Indonesia tidak ingin memilih kubu. Yang dipilih adalah kepentingan nasional. Ini inti dari bebas aktif yang relevan hingga hari ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amir menilai fokus Indonesia terhadap ancaman keamanan nontradisional menunjukkan pemahaman yang realistis terhadap perkembangan lingkungan strategis global.
Menurutnya, ancaman masa depan tidak lagi hanya berbentuk konflik militer konvensional, tetapi juga mencakup serangan siber, gangguan rantai pasok global, krisis energi, ketahanan pangan, hingga perlindungan infrastruktur strategis nasional.
“Pandemi COVID-19 telah menunjukkan bahwa ancaman global dapat melumpuhkan negara tanpa satu peluru pun ditembakkan. Hal yang sama berlaku pada serangan siber atau gangguan rantai pasok energi dan pangan,” katanya.
Karena itu, ia menilai kerja sama keamanan internasional harus diperluas tidak hanya dalam bidang pertahanan militer, tetapi juga mencakup teknologi, kecerdasan buatan, keamanan data, keamanan maritim, serta perlindungan infrastruktur digital.
Indonesia, lanjut Amir, memiliki kepentingan besar dalam isu-isu tersebut karena merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang bergantung pada jalur perdagangan internasional serta transformasi ekonomi digital yang berkembang sangat cepat.
Dalam perspektif geopolitik, Amir Hamzah melihat Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara berbagai kekuatan dunia.
Sebagai negara anggota ASEAN, anggota G20, serta bagian dari berbagai forum multilateral internasional, Indonesia dinilai memiliki legitimasi untuk mendorong dialog dan membangun kepercayaan di tengah meningkatnya ketegangan global.
“Ketika banyak negara besar terjebak dalam logika kompetisi dan rivalitas, Indonesia justru bisa menawarkan pendekatan dialog dan kerja sama. Ini modal diplomatik yang sangat berharga,” ujarnya.
Menurut Amir, dunia saat ini membutuhkan lebih banyak negara penengah yang mampu membangun jembatan komunikasi daripada memperbesar jurang perbedaan.
Karena itu, pernyataan Indonesia di Moskow dapat dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan penyeimbang yang dihormati dalam percaturan internasional.
Pada akhirnya, Amir Hamzah menilai bahwa pesan yang dibawa Indonesia ke Moskow bukan hanya ditujukan kepada komunitas internasional, melainkan juga mencerminkan strategi nasional menghadapi era ketidakpastian global.
Di tengah rivalitas Amerika Serikat, China, dan Rusia yang diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa dekade mendatang, Indonesia berusaha memastikan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi kompas utama kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.
“Indonesia memahami bahwa stabilitas internasional adalah prasyarat bagi pembangunan ekonomi. Karena itu, Indonesia berkepentingan menjaga dunia tetap terbuka, inklusif, dan berbasis kerja sama. Pesan yang disampaikan di Moskow menunjukkan bahwa Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari konflik,” pungkasnya.











