News  

Ironi Umat Islam di Mata Jimly Asshiddiqie: Menang Kuantitas Kalah Kualitas!

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie, menyoroti persoalan ketimpangan antara jumlah dan kualitas umat Islam.

Hal itu disampaikannya usai mengikuti khotbah Iduladha 1447 Hijriah yang dibawakan mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).

Jimly mengatakan populasi umat Islam di dunia terus mengalami pertumbuhan signifikan. Bahkan, menurutnya, jumlah umat Islam diperkirakan akan menjadi yang terbesar dibanding agama lain di dunia.

“Kita ini ada problem disparitas kuantitas dan kualitas. Umat Islam itu paling telat 2070 akan menjadi umat beragama terbesar, melampaui jumlah umat Kristen, Katolik dan Protestan dan Ortodoks jadi satu. Umat Islam sudah melampaui,” kata Jimly kepada wartawan.

Ia menilai pertumbuhan umat Islam juga memunculkan kekhawatiran di sejumlah negara Barat. Jimly menyinggung perkembangan Islam di negara-negara Eropa yang disebutnya cukup pesat.

“Oh di Inggris, di Prancis, maka menakutkan bagi dunia barat itu. Tapi ini realitas, jumlah umat Islam itu baik yang mualaf maupun karena kelahiran banyak sekali terus berkembang ya kan,” ujarnya.

Menurut Jimly, perkembangan teknologi dan media sosial turut mempermudah masyarakat mengakses pengetahuan tentang agama dan sejarah. Kondisi itu, kata dia, ikut memengaruhi meningkatnya jumlah mualaf di berbagai negara.

Meski demikian, Jimly menilai peningkatan jumlah umat Islam belum diikuti kualitas yang memadai, terutama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan ekonomi.

“Jadi secara kuantitas alhamdulillah Islam akan menempati posisi tertinggi jumlahnya. Tapi kualitasnya, penguasaan ilmu pengetahuan, penguasaan ekonomi masih ketinggalan. Jadi dunia Islam harus bangkit seperti yang tadi disampaikan oleh Pak Din, kualitasnya harus ditingkatkan,” jelasnya.

Sebelumnya, dalam khotbah Iduladha, Din Syamsuddin juga menyinggung kondisi umat Islam di Indonesia yang dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam berbagai bidang kehidupan.

“Jumlah umat Islam yang besar, bahkan merupakan umat Islam terbesar di dunia, namun belum disertai dengan kualitas. Kita masih tertinggal di dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, apalagi ekonomi, dan juga dalam politik,” tutur Din.

Din menilai umat Islam belum memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan nasional, terutama di sektor ekonomi dan politik.

“Jika kita amati secara jujur, dalam kehidupan nasional umat Islam belum berperan, umat Islam belum menentukan, umat Islam bahkan terpinggirkan, khususnya dalam bidang ekonomi,” sambungnya.

Ia juga menyoroti kondisi politik umat Islam yang dinilai masih terpecah dalam berbagai kepentingan dan aspirasi politik.

“Dan di dalam bidang politik umat Islam tercerai-berai ke dalam berbagai aspirasi dan kepentingan politik,” kata Din.(Sumber)