Kerja sama intelijen antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Singapore Armed Forces (SAF) memasuki fase yang semakin strategis di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan global. Pertemuan ke-24 Indonesia-Singapore Joint Intelligence Committee (ISJIC) yang berlangsung di kompleks Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) pada 10-12 Juni 2026 menjadi sinyal kuat bahwa kedua negara memandang ancaman keamanan regional tidak lagi dapat ditangani secara parsial.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Asisten Intelijen Panglima TNI Mayjen TNI Rio Firdianto. Dalam forum tersebut, kedua negara melakukan pertukaran data intelijen, berbagi informasi strategis, serta membahas berbagai perkembangan keamanan kawasan, termasuk potensi ancaman terorisme yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pertemuan tersebut bukan sekadar agenda rutin militer, melainkan bagian dari upaya membangun sistem peringatan dini (early warning system) regional menghadapi perubahan lanskap keamanan dunia.
“Ketika Indonesia dan Singapura meningkatkan pertukaran intelijen, itu menunjukkan bahwa kedua negara melihat adanya potensi ancaman yang berkembang dan membutuhkan pengawasan bersama. Ancaman tersebut bukan hanya terorisme konvensional, tetapi juga radikalisasi digital, propaganda lintas negara, pendanaan kelompok ekstrem, hingga potensi pergerakan foreign terrorist fighters,” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Amir, dinamika konflik di Timur Tengah selalu memiliki dampak tidak langsung terhadap Asia Tenggara. Pengalaman selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa setiap peningkatan konflik di kawasan tersebut sering kali diikuti oleh peningkatan aktivitas propaganda kelompok ekstrem di berbagai negara.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran ideologi radikal. Jika dahulu proses rekrutmen dilakukan secara fisik dan melalui jaringan tertutup, kini propaganda dapat menyebar secara cepat melalui media sosial, platform pesan instan, hingga komunitas digital lintas negara.
“Konflik Timur Tengah bukan hanya persoalan regional di kawasan itu. Dalam perspektif intelijen modern, setiap perang besar berpotensi menciptakan resonansi ideologis yang menjangkau negara-negara lain. Kelompok ekstrem sering memanfaatkan narasi konflik untuk membangun simpati, merekrut anggota baru, dan menggalang dukungan finansial,” jelasnya.
Menurut Amir, Indonesia dan Singapura memiliki posisi yang sangat penting dalam pengawasan jalur pergerakan orang, barang, dan informasi di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, pertukaran intelijen menjadi instrumen utama untuk mendeteksi ancaman sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan nyata.
Dalam perspektif geopolitik, Amir menilai Indonesia dan Singapura memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas kawasan.
Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara dengan posisi strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Sementara Singapura merupakan pusat perdagangan, keuangan, dan logistik internasional yang menjadi salah satu simpul ekonomi terpenting dunia.
“Jika terjadi gangguan keamanan di salah satu negara, dampaknya bisa dirasakan seluruh kawasan. Karena itu, kerja sama intelijen Indonesia-Singapura bukan hanya melindungi kepentingan nasional masing-masing, tetapi juga menjaga stabilitas ASEAN secara keseluruhan,” katanya.
Menurut Amir, hubungan kedua negara dalam bidang intelijen selama ini menjadi salah satu contoh keberhasilan diplomasi pertahanan di kawasan. Meski memiliki karakteristik dan kepentingan nasional yang berbeda, kedua negara mampu membangun mekanisme pertukaran informasi yang relatif kuat dan berkelanjutan.
Amir menilai ancaman terorisme saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.
Jika dahulu aparat keamanan fokus pada jaringan organisasi yang memiliki struktur jelas, kini ancaman dapat muncul dari individu yang terpapar ideologi radikal secara mandiri melalui internet atau yang dikenal sebagai lone wolf.
“Ini yang menjadi tantangan besar. Orang bisa terpapar propaganda tanpa pernah bertemu langsung dengan kelompok teroris. Mereka belajar sendiri melalui internet, mengonsumsi narasi ekstrem, lalu melakukan aksi secara individual,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai kerja sama intelijen modern tidak cukup hanya berbagi data mengenai individu yang dicurigai. Yang lebih penting adalah berbagi metode analisis, teknologi pengawasan, pemetaan pola komunikasi digital, dan identifikasi tren radikalisasi yang berkembang di dunia maya.
Selain mengikuti ISJIC, delegasi Indonesia juga mengunjungi Counter-Terrorism Information Facility (CTIF) di Changi Naval Base, Singapura.
Menurut Amir, langkah tersebut memiliki arti strategis yang sangat penting.
CTIF selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pertukaran informasi kontraterorisme yang berperan dalam menghubungkan berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Melalui fasilitas tersebut, informasi mengenai ancaman keamanan dapat diproses dan disebarkan secara lebih cepat kepada negara-negara mitra.
“Di era ancaman yang bergerak sangat cepat, kecepatan informasi menjadi faktor utama. Negara yang terlambat mendapatkan informasi berisiko kehilangan momentum untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.
Amir juga mengaitkan kerja sama intelijen Indonesia-Singapura dengan meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Menurutnya, persaingan antara Amerika Serikat, China, Rusia, serta konflik yang terus berkembang di Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian baru dalam sistem internasional.
Dalam kondisi tersebut, negara-negara Asia Tenggara dituntut memperkuat ketahanan keamanan internal agar tidak menjadi korban efek samping dari konflik global.
“ASEAN berada di jalur strategis perdagangan dunia. Ketika dunia memasuki fase ketidakpastian geopolitik, negara-negara kawasan harus meningkatkan koordinasi intelijen agar mampu mengantisipasi berbagai ancaman, mulai dari terorisme, kejahatan siber, sabotase ekonomi, hingga operasi pengaruh asing,” katanya.
Amir menilai pertemuan ISJIC menunjukkan bahwa diplomasi pertahanan kini menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga stabilitas kawasan.
Jika pada masa lalu hubungan antarnegara lebih banyak ditentukan oleh kekuatan militer, saat ini kemampuan membangun jaringan kerja sama intelijen justru menjadi faktor yang semakin menentukan.
“Ancaman abad ke-21 tidak mengenal batas negara. Terorisme, serangan siber, penyelundupan, dan kejahatan transnasional bergerak lintas wilayah. Karena itu, kerja sama intelijen menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan,” tegasnya.
Ia berharap forum seperti ISJIC terus diperkuat dan diperluas agar mampu menjadi salah satu pilar keamanan kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Pertemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Singapura memahami satu hal yang sama, yakni keamanan regional hanya bisa dijaga melalui kolaborasi, kepercayaan, dan pertukaran informasi yang cepat serta akurat. Di tengah gejolak Timur Tengah dan rivalitas geopolitik dunia, langkah tersebut merupakan investasi penting bagi stabilitas Asia Tenggara di masa depan,” pungkas Amir Hamzah.












