Politik nasional tidak hanya ditentukan oleh figur yang tampil di panggung utama. Di balik setiap keputusan besar selalu ada aktor yang bekerja senyap, membangun komunikasi lintas kepentingan, menyatukan faksi, sekaligus membaca arah angin politik sebelum orang lain menyadarinya. Dalam tradisi politik modern, tokoh seperti ini sering disebut sebagai king maker, sosok yang mampu menentukan siapa yang memiliki peluang terbesar menjadi pemimpin.
Nama Sufmi Dasco Ahmad semakin sering ditempatkan dalam kategori tersebut. Ketua Harian DPP Partai Gerindra itu dikenal bukan sebagai politikus yang gemar tampil di depan kamera, melainkan bekerja melalui negosiasi, lobi, dan penyelesaian berbagai persoalan politik yang rumit.
Pengakuan Dasco bahwa dirinya menemui mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyampaikan keinginan agar Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 menjadi salah satu gambaran mengenai peran strategis yang dimainkannya. Proses itu kemudian melahirkan pasangan Prabowo-Gibran yang berhasil memenangkan kontestasi nasional.
Tentu kemenangan tersebut bukan hasil kerja satu orang. Banyak faktor ikut menentukan, mulai dari dukungan partai politik, kekuatan mesin kampanye, elektabilitas pasangan calon, hingga dinamika pemilih. Namun keberhasilan membangun komunikasi politik yang menghasilkan koalisi besar memperlihatkan bahwa Dasco memiliki kemampuan membaca momentum dengan sangat baik.
Dalam sejarah politik Indonesia, tokoh yang paling berpengaruh sering kali bukan mereka yang paling sering berpidato. Ada figur-figur yang justru memainkan peran penting melalui ruang-ruang tertutup, menyatukan kepentingan yang bertabrakan, dan mencari titik temu di tengah persaingan elite.
Dasco tampaknya menempuh jalur tersebut.
Selama mendampingi Prabowo, ia dikenal sebagai orang yang mampu menjaga komunikasi dengan hampir seluruh kekuatan politik. Hubungan yang relatif baik dengan berbagai partai membuatnya memiliki ruang gerak lebih luas dibanding banyak elite lain.
Kemampuan semacam ini menjadi modal utama dalam sistem politik Indonesia yang mengandalkan koalisi. Tidak ada presiden yang dapat memerintah tanpa dukungan politik yang cukup di parlemen. Karena itu, kemampuan membangun jembatan antarpartai menjadi aset yang sangat berharga.
Julukan “Kancil” yang disematkan Prabowo kepada Dasco menggambarkan karakter tersebut. Dalam cerita rakyat Nusantara, kancil dikenal bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan kecerdasan membaca keadaan dan menemukan jalan keluar dari situasi yang sulit.
Pilpres 2029 menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan Pilpres 2024.
Jika benar ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold tidak lagi menjadi penghalang, maka jumlah kandidat berpotensi bertambah. Banyak partai akan memiliki kesempatan mengusung calon sendiri tanpa harus membentuk koalisi sejak awal.
Situasi seperti itu akan mengubah peta kompetisi.
Persaingan tidak lagi hanya mempertemukan dua atau tiga poros besar, melainkan bisa menghadirkan banyak figur dengan basis dukungan yang berbeda. Fragmentasi suara menjadi semakin mungkin terjadi.
Dalam keadaan seperti ini, kemampuan menyusun strategi koalisi justru menjadi semakin penting.
Apabila pada Pilpres 2024 tantangan terbesar adalah menyatukan berbagai kepentingan menuju satu pasangan calon, maka pada Pilpres 2029 tantangannya berubah menjadi bagaimana menjaga soliditas koalisi di tengah banyaknya alternatif kandidat.
Di sinilah kemampuan Dasco akan benar-benar diuji.
Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan berbagai agenda besar, mulai dari hilirisasi industri, ketahanan pangan, swasembada energi, penguatan pertahanan, hingga program makan bergizi gratis.
Keberhasilan pemerintahan lima tahun pertama akan menjadi modal politik yang sangat menentukan menjelang 2029.
Apabila pemerintahan mampu menunjukkan hasil nyata melalui pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta stabilitas nasional yang terjaga, peluang melanjutkan kepemimpinan akan semakin besar.
Sebaliknya, apabila berbagai program menghadapi hambatan, dinamika politik akan menjadi jauh lebih kompleks.
Karena itu, tugas seorang king maker bukan hanya memenangkan pemilu, melainkan juga memastikan stabilitas politik tetap terpelihara selama pemerintahan berjalan.
Jokowi telah menyampaikan dukungannya terhadap keberlanjutan pasangan Prabowo-Gibran selama dua periode. Pernyataan tersebut tentu memiliki bobot politik mengingat pengaruh Jokowi masih menjadi perhatian dalam percaturan nasional.
Namun politik Indonesia memiliki karakter yang sangat cair. Koalisi dapat berubah.
Lawan politik hari ini dapat menjadi mitra pada masa berikutnya.
Sebaliknya, sekutu yang tampak solid dapat mengambil jalan berbeda apabila kepentingan politik berubah.
Fenomena seperti itu sudah berulang kali terjadi sejak era reformasi.
Oleh karena itu, tidak ada satu pun skenario yang dapat dianggap pasti hingga tahapan pencalonan benar-benar dimulai.
Di balik hiruk-pikuk pemberitaan politik, terdapat ruang yang jarang terlihat publik. Bukan ruang konferensi pers. Bukan pula ruang sidang parlemen.
Melainkan ruang-ruang pertemuan yang dipenuhi diskusi panjang, negosiasi, kalkulasi, dan kompromi.
Di tempat seperti itulah arah politik sering dibentuk.
Publik hanya menyaksikan hasil akhirnya berupa deklarasi, penandatanganan koalisi, atau pengumuman pasangan calon.
Sementara proses yang berlangsung sebelumnya hanya diketahui oleh segelintir orang.
Politik memang sering bergerak dalam diam. Dan Dasco selama ini dikenal lebih nyaman berada di ruang-ruang seperti itu.
Karakter tersebut membuatnya memiliki citra sebagai operator politik yang bekerja tanpa banyak publikasi, tetapi mampu menghasilkan keputusan yang memiliki dampak besar.
Pilpres 2029 juga akan diwarnai perubahan komposisi pemilih. Jumlah pemilih muda akan semakin dominan.
Generasi ini memiliki pola perilaku politik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Mereka lebih kritis, cepat menerima informasi, sekaligus cepat mengubah pilihan politik apabila menemukan alternatif yang dianggap lebih menarik.
Media sosial, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga isu lapangan pekerjaan akan menjadi tema yang semakin menentukan.
Artinya, strategi politik yang berhasil pada 2024 belum tentu menghasilkan kemenangan pada 2029.
King maker dituntut mampu membaca perubahan tersebut jauh sebelum kompetisi dimulai.
Banyak pengamat menilai Dasco merupakan salah satu elite Gerindra yang paling memahami cara kerja mesin politik nasional.
Ia berada di titik temu antara partai, parlemen, pemerintah, dan komunikasi lintas elite.
Posisi seperti ini memberinya akses terhadap berbagai dinamika yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Namun reputasi seorang king maker tidak dibangun oleh masa lalu. Reputasi itu selalu diuji oleh tantangan berikutnya.
Apabila Prabowo kembali memenangkan Pilpres 2029 dengan koalisi yang tetap solid, kemampuan Dasco sebagai arsitek politik akan semakin memperoleh pengakuan.
Sebaliknya, apabila konfigurasi politik berubah dan muncul poros-poros baru yang mampu memecah kekuatan pendukung pemerintah, maka seluruh strategi yang selama ini dianggap efektif akan menghadapi ujian yang jauh lebih berat.
Pilpres 2029 bukan hanya pertarungan antarfigur calon presiden. Kontestasi tersebut juga menjadi panggung bagi para arsitek politik yang bekerja di balik layar.
Sufmi Dasco Ahmad telah menunjukkan perannya dalam proses politik menuju kemenangan Prabowo pada 2024. Pengalaman itu menjadi modal penting, tetapi belum menjadi jaminan bahwa formula yang sama akan kembali berhasil.
Dalam politik, kemenangan masa lalu hanya menjadi catatan sejarah. Setiap pemilu menghadirkan tantangan baru, konfigurasi baru, dan karakter pemilih yang terus berubah.
Apabila Dasco mampu kembali menyatukan kekuatan politik, menjaga soliditas koalisi, serta mengantarkan Prabowo mempertahankan kekuasaan pada 2029, maka predikat sebagai salah satu king maker paling berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia akan semakin menguat. Sebaliknya, apabila peta politik bergerak ke arah yang berbeda, Pilpres 2029 akan menjadi pembuktian bahwa setiap strategi, sehebat apa pun, tetap harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Oleh: Iwan “Terpal” Setiawan, Pemerhati Politik dan Alumni HI UMY











