News  

Laskar Cinta Jokowi: KDM-Gibran Harapan Rakyat Indonesia 2029

Wacana mengenai konfigurasi pasangan calon untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai mengemuka di ruang publik. Koordinator Laskar Cinta Jokowi, Suhandono Baskoro, menilai duet Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merupakan salah satu pasangan yang berpotensi menjadi harapan masyarakat pada kontestasi politik mendatang.

Menurut Suhandono, kombinasi keduanya dinilai mampu merepresentasikan perpaduan antara pengalaman kepemimpinan di daerah dengan representasi generasi muda di tingkat nasional.

“KDM-Gibran adalah harapan rakyat Indonesia 2029. Keduanya memiliki karakter kepemimpinan yang saling melengkapi dan mempunyai kedekatan dengan masyarakat,” ujar Suhandono dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah menghangatnya pembahasan mengenai peta politik nasional pasca munculnya sejumlah survei terbaru yang memotret elektabilitas tokoh-tokoh potensial menuju Pilpres 2029.

Salah satu survei yang menjadi perhatian adalah hasil Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Dalam simulasi semi terbuka yang melibatkan 20 nama, Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan elektabilitas 35 persen. Presiden Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen, disusul Anies Baswedan 8,2 persen dan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen.

SMRC juga mencatat tren pergerakan elektabilitas dalam sembilan bulan terakhir. Elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7 persen pada November 2025 menjadi 23,3 persen pada Februari–Maret 2026, kemudian melonjak menjadi 35 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo mengalami penurunan dari 34,9 persen menjadi 14,5 persen pada periode yang sama.

Bagi Suhandono, data tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi publik terhadap figur yang dinilai dekat dengan masyarakat dan aktif membangun komunikasi melalui berbagai platform.

Ia menilai gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dikenal sering turun langsung ke lapangan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan popularitasnya. Di sisi lain, Gibran dinilai memiliki modal politik sebagai wakil presiden termuda dalam sejarah Indonesia yang masih memiliki ruang panjang untuk membangun kepemimpinan nasional.

Menurutnya, jika tren tersebut terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, peluang munculnya poros KDM-Gibran akan semakin terbuka.

Meski demikian, Suhandono mengakui bahwa dinamika politik nasional masih sangat cair. Seluruh partai politik belum menentukan arah koalisi maupun figur yang akan diusung pada Pilpres 2029.

Di sisi lain, SMRC juga merilis survei mengenai tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam survei yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden, tingkat kepuasan publik tercatat sebesar 51,1 persen. Penurunan kepuasan tersebut disebut berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi, situasi politik, dan penegakan hukum.

Kondisi tersebut dinilai ikut memengaruhi persepsi publik terhadap figur-figur yang dipandang sebagai alternatif kepemimpinan nasional.

Bagi Laskar Cinta Jokowi, munculnya nama Dedi Mulyadi dan Gibran dalam percakapan politik nasional menunjukkan bahwa masyarakat mulai mencari kombinasi kepemimpinan yang dinilai mampu melanjutkan pembangunan sekaligus menghadirkan pendekatan baru dalam pemerintahan.

Meski demikian, seluruh dinamika tersebut masih berada pada tahap awal menjelang Pilpres 2029. Konstelasi politik diperkirakan akan terus berubah mengikuti perkembangan koalisi partai, kinerja para tokoh, serta hasil survei-survei berikutnya.