News  

Kontroversi! Senator Australia Tuding Bali Penuh Kotoran Sapi: Intoleran dan Rasis!

Senator Australia, Pauline Hanson, mengundang kecaman Indonesia berkat membuat komentar yang menghina Bali pada Kamis (4/8).

Sejak dilantik sebagai perdana menteri pada 23 Mei, Anthony Albanese menggembar-gemborkan keragaman dalam pemerintahannya.
Canberra mengangkat dua menteri muslim pertama dalam sejarah negara itu, serta meningkatkan representasi perempuan dan penduduk asli dalam kementeriannya.

Kendati demikian, signifikansi inklusivitas tersebut kini kembali dipertanyakan berkat seorang senatornya.
Selama berpidato di Senat Australia, Hanson menyerukan penutupan perbatasan dengan Indonesia lantaran berisiko menularkan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Hanson mengatakan, para pelancong dapat membawa penyakit itu ketika berpulang. Sebab, menurutnya, kotoran sapi bertebaran di Bali.

Ini bukan kali pertama pemimpin sayap kanan itu melontarkan pernyataan kontroversial. Ketua Partai One Nation itu perlahan merajut reputasi buruk akibat diskriminasi terhadap kelompok minoritas yang telah berakar hingga bertahun-tahun.

 

Hanson menjadi sorotan dalam politik Australia sejak 1990-an ketika dia memperingatkan bahwa negara itu berisiko ‘dibanjiri’ oleh orang Asia. Dalam beberapa tahun kemudian, partainya turut memusatkan perhatian terhadap imigrasi Muslim, pakaian Islami, dan pembangunan masjid di Australia.

Meskipun menyangkalnya, pandangan Hanson seputar ras, imigrasi, dan Islam telah menjadi buah bibir di Australia. Berikut telah kumparan rangkum berbagai kontroversi yang berhamburan sejak dia menyelam dalam dunia politik:
Rasisme Terhadap Orang Asia

Tanpa malu-malu Hanson tidak urung merintis kampanye diskriminatif dari pidato perdananya di Parlemen pada 1996.

Menjaring dukungan dari warga kulit putih Australia, dia menargetkan kebijakan pemerintah tentang penduduk asli. Hanson turut mengusulkan pengurangan arus imigran, khususnya dari Asia.

Sejak terpilih sebagai senator, Hanson menyebarluaskan ide-ide intoleran dan rasis. Komunitas Australia-China lalu mendokumentasikan peningkatan signifikan dalam kekerasan terhadap orang keturunan Asia di Australia. Mereka mengalami pelecehan verbal dan fisik oleh orang asing di tempat umum.

“Orang-orang cenderung berpikir bahwa [kekerasan] itu terbatas pada buruh, tetapi itu tidak benar karena pada masa itu pria berjas meludahi orang China-Australia di stasiun Chatswood dan Turramurra,” terang mantan Presiden Forum Australia-China, Thiam Ang, dikutip dari ABC, Sabtu (6/8).

Kelompok minoritas tentu tidak berdiam diri. Ketika Hanson terpilih, 10.000 orang turun ke jalanan untuk memprotes rasisme di Melbourne. Protes-protes lainnya berangsur menyusul.

Namun, Hanson menolak untuk menyerah. Dia tetap lantang mengungkapkan pandangannya saat menggencarkan pidato dalam pertemuan-pertemuan publik di seluruh negeri.

Hanson lantas kembali merengkuh kekuasaan usai menenangkan pemilihan pada 2016. Saat itu juga, Hanson menggemakan diskriminasi serupa dari kursinya di Senat Australia. Dia menuduh imigran Afrika membawa penyakit ke Australia.

Pada 2015, Hanson mengeklaim bahwa sertifikasi halal di Australia mendanai terorisme hingga langgeng di negaranya. Dia tidak sungkan memanfaatkan tragedi yang berlangsung di negara lain pula.

Setelah penembakan yang melanda sebuah klub malam di Orlando oleh ISIS pada 2016, Hanson mengulangi seruannya untuk melarang kedatangan imigran Muslim ke Australia.

Hanson menggunakan situasi yang sedang memanas untuk mengumumkan kebijakan-kebijakan baru yang menyasar Muslim. Dia mengeluarkan aturan larangan membangun masjid baru hingga pemasangan kamera CCTV di semua masjid di Australia.

“Kita berada dalam bahaya dibanjiri oleh Muslim yang memiliki budaya dan ideologi yang tidak sesuai dengan budaya kita sendiri,” kata Hanson dalam pidato pertamanya di Senat Australia pada 2016.

Hanson bahkan mengusung kampanye larangan tersebut melalui media sosial. Pada 2017, dia membandingkan Islam dengan penyakit yang perlu divaksinasi oleh warga Australia. Hanson mengeklaim, semua serangan teroris di negara itu dilakukan oleh umat Muslim.

“Biarkan saya menggunakan analogi iniā€”kita memiliki penyakit, kita memvaksinasi diri kita sendiri untuk melawannya,” ujar Hanson pada Maret 2017, dikutip dari The Sydney Morning Herald.

“Islam adalah penyakit; kita perlu memvaksinasi diri kita sendiri terhadapnya,” tambah dia.

Walau menghadapi kecaman dari sesama pejabat, Hanson melanjutkan tindakan-tindakan diskriminatif itu. Dia mengenakan burqa saat menghadiri pertemuan Senat pada Agustus 2017.

Mengutip alasan keamanan nasional, Hanson berupaya menggalang dukungan untuk larangan nasional atas burqa.

“Saya cukup senang untuk melepaskan [burqa] ini karena ini tidak seharusnya berada di parlemen ini,” jelas Hanson, dikutip dari DW.

“Jika seseorang yang memakai balaclava atau helm ke bank atau bangunan lain, atau bahkan di lantai pengadilan, maka mereka harus disingkirkan. Mengapa tidak demikian halnya dengan seseorang yang menutupi wajahnya dan tidak dapat diidentifikasi?” imbuh dia.

Hanson langsung memicu amarah sesama anggota parlemen. Para anggota dari Partai Buruh Australia, Partai Hijau Australia, dan Partai Liberal Australia segera melakukan aksi walk out.

Jaksa Agung Australia, George Brandis, turut melayangkan kritik keras terhadap Hanson. Pidato emosionalnya yang membela Muslim itu kemudian mendapatkan tepuk tangan meriah dari seluruh

Meskipun dihantam teguran dari seluruh spektrum politik, Hanson tampak tidak menyesal setelah aksinya.
“Apakah itu ekstrem? Ya. Apakah menyampaikan pesan saya? Saya harap begitu,” ungkap Hanson.
Sebut Bali Penuh Kotoran

Para senator tengah mendapatkan pengarahan tentang wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Kamis (4/8). Australia mengumumkan bahwa pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mencegah penyebaran dari Indonesia.

Australia membentuk satgas biosekuriti, menempatkan alat sanitasi alat kaki di bandara internasional, mengirimkan anjing biosekuriti, dan memberlakukan penyaringan warga yang kembali dari Indonesia. Kendati demikian, pihaknya menolak untuk menutup perbatasan.

Hanson mengatakan, PMK akan menghancurkan seluruh industri daging sapi di Australia bila pemerintah tidak menutup perbatasan dengan Indonesia. Dia mengeklaim, kotoran ternak bahkan menyelimuti jalanan di Bali.

Kotoran tersebut kemudian menempel pada sepatu para pelancong. Akibatnya, mereka berisiko menyebarkan PMK ke Australia.

“Bali berbeda dengan negara lain, karena sapi bebas berjalan di mana-mana. Kotoran sapi dan orang berjalan di atasnya dan terbawa di pakaiannya dan orang itu kembali ke negara ini,” ujar Hanson.

Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Murray Watt, segera menepis klaim tersebut selama pertemuan di Senat. Watt menegaskan, Hanson tidak memiliki bukti untuk mendukung klaim-klaimnya.

“Saya tidak memiliki bukti di hadapan saya bahwa apa yang dikatakan Pauline Hanson benar-benar terjadi,” tegas Watt, dikutip dari The Guardian.

Komentar Hanson telah memicu kecaman baik dari masyarakat maupun pemerintahan Indonesia. Terlebih, pernyataannya muncul seiring pariwisata Indonesia tengah bergelut pulih dari pandemi COVID-19. Menparekraf Sandiaga Uno menggarisbawahi, pernyataan itu dibuat tidak berdasarkan pada fakta.

“Secara tegas dan lugas saya sampaikan untuk jangan pernah menghina Bali, ikon dan jantung pariwisatanya Indonesia,” tegas Sandiago.(Sumber)