Tekno  

Marak Kebocoran Data, Pakar Siber: Yang Paling Menderita Pemilik Data, Bukan Pengelola Data

Setelah PLN dan IndiHome, dugaan kebocoran data juga dialami Jasa Marga. Kebocoran tersebut melibatkan jutaan data milik masyarakat.

Menurut pakar keamanan siber dan pendiri Vaksincom Alfons Tanujaya, pemilik data (masyarakat) adalah pihak yang paling dirugikan.

”Karena sekali data bocor dan keluar dari server, maka data tersebut akan dapat disalin berulang-ulang dan sekalipun penyebab kebocoran data sudah ditambal,” ungkapnya.

”Data yang sudah bocor sudah tidak bisa lagi dikembalikan lagi ke server dan akan berada di internet selamanya,” ia menambahkan.

Alfons mengatakan, dalam peristiwa kebocoran data , tidak ada manfaatnya menghukum pengelola data jika pengelola data tidak sadar akan kesalahannya. Sebab, hal tersebut tentu akan berulang lagi.

”Sebagai catatan, jika terjadi kebocoran data, yang paling menderita dari setiap kebocoran data adalah pemilik data dan bukan pengelola data,” beber Alfons. ”Pengelola data paling hanya mendapat malu, dianggap tidak kapabel.

Namun, pemilik data yang harus menanggung akibat dari kebocoran data,” tambahnya. Jika data yang bocor adalah kredensial, mungkin mitigasi seperti mengganti password atau mengaktifkan TFA Two Factor Authentication bisa dilakukan dan efektif menangkal efek negatif bagi pemilik data. Selama diumumkan segera dan pemilik kredensial menyadari hal ini.

252 GB Data Bocor Namun, jika yang bocor adalah data lain seperti data kependudukan, informasi rahasia pribadi atau log akses situs, maka pemilik data kependudukan dan log akses situs tersebut yang akan paling menderita.

”Karena data yang bocor tersebut tidak seperti kredensial yang dapat diganti,” beber Alfons.

(Sumber)