News  

5 Hari, PINUS Kumpulkan 1 Ton Bantuan Untuk Wamena

Hidup dalam suasana damai dimana semua warga saling bergandeng tangan membangun daerahnya merupakan impian yang selalu ingin diwujudkan. Peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Wamena, Papua 23 September 2019 lalu menyentak perhatian kita.

Tiba-tiba terjadi musibah dengan banyak korban dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.

Bagi orang-orang yang memiliki perhatian kepada masalah-masalah sosial, situasi anomali tersebut menjadi magma perhatian. Efin Soehada salah satu dari sekian banyak orang yang sensitif terhadap masalah kemanusiaan yang muncul di sekeliling kita, tidak bisa tinggal diam.

Sebagai seorang organisatoris yang dikenal sebagai penggerak dan memiliki kepedulian pada masalah-masalah sosial, Efin Soehada menganggap ekses peristiwa Wamena yang kompleksitasnya signifikan menjadi prioritas perlu dibantu.

Melalui Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) yang didirikannya pada 2013, Efin mengajak jaringan luas kawan-kawannya untuk berbagi dalam bentuk barang yang diperlukan sesuai info yang didapat. Dari infografik Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) yang menginformasikan pakaian dewasa dan anak dibutuhkan.

Gerakan berbagi kasih dalam bentuk pengumpulan pakaian-pakaian kondisi baik digadang PINUS berbuah sangat luar biasa. Hanya dalam waktu 5 hari saja terkumpul satu ton bantuan.

Para sahabat alumni dari beberapa perguruan tinggi seperti UI, ITB, UnPad, Trisakti, Atma Jaya, para Ibu kelompok-kelompok pengajian, dan alumni SMA Tarakanita, dan SMAN-SMAN dengan penuh ikhlas dan kasih berlomba mengirimkan pakaian dewasa laki dan perempuan, anak dan bayi, selimut, handuk. Banyak diantara baju-baju tersebut bahkan masih baru!

Semua bantuan kasih tersebut atas arahan KSP Jend. (Purn) Moeldoko dan Panglima TNI Mars. Hadi Tjahjanto telah diterima Kadisops TNI AU Kol. (Pnb) Putu tepat di Hari Ulang Tahun TNI ke-74. Satu ton bantuan tersebut telah diangkut dengan pesawat TNI AU bersamaan dengan keberangkatan Menko Polhukham dan pejabat teras meninjau ke sekian kali paska peristiwa di Papua. Seluruh bantuan sudah tiba di Papua, diterima dan didistribusikan oleh Kadisops Jayapura Kol. (Pnb). Ones.

Gerakan tali kasih yang dilakukan relatif tanpa bunyi tersebut sejatinya merupakan ungkapan rasa sepenanggungan terhadap kesusahan dan depresi massal yang dihadapi Saudara-saudara sebangsa terbukti tetap kuat diantara warga lainnya.

Rasa kasih, rasa kemanusiaan, rasa ingin berbagi yang secara alamiah memang menjadi kekuatan jati diri manusia Indonesia, tidak luntur walau para penyumbang tinggal di kota besar, persisnya di Jakarta, yang dikenal gaya hidup serba individualistik. Pemantik positif dari komunitas inilah yang menjadi kekuatan kapitalisasi gerakan kemanusiaan yang digadang PINUS.

Kekuatan komunitas tidak dapat dipandang sebelah mata, terbukti bekerja sangat baik. Semoga ungkapan saling menolong, saling bergotong royong yang merupakan warisan karakter dasar luar biasa baik ini tetap hidup subur di kalangan masyarakat Indonesia.