News  

Atlas

“Dan beberapa hal yang seharusnya tak terlupakan pun hilang… Sejarah menjadi legenda… Legenda menjadi mitos…” – J.R.R. Tolkien

Perang Bubat, terjadi pada tahun 1357 Masehi di lapangan Bubat ibukota Trowulan kerajaan Majapahit. Peristiwa ini terjadi saat rombongan dari kerajaan Sunda mengiringi calon mempelai wanita, putri Dyah Pitaloka yang akan dinikahkan dengan Maharaja Hayam Wuruk sang raja Majapahit, bertempur dengan pihak tuan rumah yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Seluruh rombongan dari kerajaan Sunda ini gugur, bahkan sang putri pun akhirnya bunuh diri untuk menjaga kehormatan beliau untuk tidak menjadi tawanan perang.

Peristiwa di Bubat ini selalu dituliskan sejarah sebagai sebuah peperangan seperti perang antara dua kerajaan. Padahal yang terjadi hanyalah sebuah pertempuran secara lokal di lapangan Bubat. Sebagai seorang pengamat militer, saya bahkan berani menyimpulkan peristiwa ini sebagai sebuah pembantaian. Alasan logis saya adalah di sebuah ibukota dari kerajaan penguasa Nusantara bisa dipastikan dipenuhi oleh pasukan terbaik untuk menjaga istana, bertempur melawan rombongan pengiring calon mempelai yang datang untuk berpesta.

Peristiwa ratusan tahun yang lalu ini menyisakan luka mendalam dalam sejarah pulau Jawa khususnya antara suku Sunda dan suku Jawa. Sentimen ini diwujudkan dengan berbagai macam mitos yang sarat dengan miskonsepsi oleh berbagai pihak yang mengklaim bahwa mereka adalah yang paling benar dan membentuk budaya kita sampai saat ini.

Tetapi kenapa sejarah selalu menuliskan peristiwa pembantaian itu sebagai sebuah analogi perang dimana ada para pihak yang saling bermusuhan? Atau kita terlalu malu untuk mengingat luka bangsa kita sendiri sampai cerita sejarah harus dibelokkan narasinya? Apakah ada kepentingan tertentu dari penulisan framing tersebut agar kita generasi selanjutnya memahami sejarah sesuai dengan kepentingan penulisnya?

Dalam mitologi Yunani, Dewa Zeus mengutuk Atlas dengan hukuman menopang langit selamanya setelah Zeus dan saudara – saudaranya menang perang melawan para Titan. Pada abad ke-16 seorang pembuat peta dari negeri Belanda bernama Gerardus Mercator membukukan peta buatannya yang diberi judul Atlas. Meneer Mercator yang terkenal dengan inovasinya memetakan planet Bumi, sengaja menamakan buku peta nya dengan nama Atlas untuk menghormati Dewa Atlas yang konon katanya terkenal sebagai penemu ilmu Bumi.

Sejak saat itu, Atlas selalu divisualisasikan dengan menopang planet Bumi, bukan menopang langit sesuai dengan kutukan Dewa Zeus. Maka saya tidak heran sampai saat ini sudah cukup banyak manusia yang meninggal terkena sengatan petir (dibandingkan dengan makhluk hidup di Bumi lainnya). Mungkin di langit Dewa Zeus sedang murka karena manusia seenaknya meringankan hukuman Atlas menjadi menopang Bumi.

Bahkan di abad ke-20 Atlas selalu personifikasikan sebagai seseorang yang mengorbankan dirinya untuk memanggul beban duniawi. Bahkan penulis fiksi terkenal asal Amerika Serikat bernama Ayn Rand, yang dalam bukunya Atlas Shrugged, menggambarkan para kaum libertarian dan kapitalis berkorban sebagai Atlas yang menanggung beban masa depan manusia di dunia ada di tangan mereka.

Mitos Atlas sendiri berkembang dengan miskonsepsi bahwa Atlas selalu digambar sebagai personifikasi yang selalu menanggung beban dunia di pundaknya atau berkorban tanpa pamrih untuk keselamatan dan kesejahteraan kita semua. Bahkan di dunia psikologi dikenal juga dengan Atlas Personality dimana seorang anak bersikap bertanggung jawab seperti orang dewasa secara prematur.

Framing mitos Atlas sendiri membentuk narasi bahwa kita umat manusia membutuhkan seseorang yang mau berkorban untuk menanggung beban duniawi. Bukti ini bisa dilihat dengan berdirinya patung Atlas di muka gedung Rockefeller Center di kota New York. Seakan mengingatkan kita semua bahwa seseorang seperti Rockefeller adalah yang akan berkorban menanggung beban masa depan dunia. Persis seperti cerita fiksi novelnya Ayn Rand dimana para kapitalis menjadi pahlawan penyelamat umat manusia.

Legenda peristiwa Bubat sendiri membuat Mahapatih Gajah Mada seakan ter-framing menjadi seseorang yang tidak bersalah karena peristiwa tersebut selalu dikenal dengan perang bukan pembantaian. Narasi ini sepertinya sengaja dituliskan agar Gajah Mada terlihat menjadi figur pahlawan bangsa yang berhasil menyatukan Nusantara. Seakan kita saat ini sebagai bangsa yang inferior membutuhkan seseorang yang gagah perkasa untuk menyelamatkan kita dari berbagai macam masalah kehidupan.

Miskonsepsi sejarah dengan berbagai macam faktor atau parameternya dapat merubah arah sebuah budaya atau peradaban manusia. Apakah itu berupa cara berpikir kita baik dalam skala individu atau komunitas, dapat juga berupa dogma dan nilai – nilai dalam masyarakat. Semua ini kembali tergantung dari kita sendiri. Apakah kita masih ingin belajar dari sejarah untuk menentukan masa depan kita? Atau kita menjadi korban dari sejarah itu sendiri?

Oleh Wirendra Tjakrawerdaja
Cilacap, Juli 2025