80 Tahun Merdeka, Indonesia Semakin Kehilangan Kemerdekaannya?

Delapan dekade sudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Sebuah pencapaian yang diraih dengan darah, air mata, dan pengorbanan jiwa serta harta dari para pahlawan bangsa. Namun, setelah 80 tahun berlalu, apakah Indonesia benar-benar masih merdeka? Atau justru perlahan kehilangan arti dari kemerdekaan itu sendiri?

Kemerdekaan Bukan Sekadar Simbolis

Kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, bendera berkibar, atau parade budaya. Ia adalah kondisi hakiki sebuah bangsa yang terbebas dari segala bentuk penindasan, dominasi asing, dan ketidakadilan sistemik. Setidaknya, ada lima indikator yang bisa menjadi tolok ukur apakah sebuah bangsa benar-benar merdeka:

-Terbebas dari belenggu penjajahan

-Berdiri tegak tanpa intervensi asing

-Pemerintahan yang dijalankan secara mandiri dan bebas

-Kehidupan rakyat yang terbebas dari kelaparan dan kesengsaraan

-Rasa aman dari intimidasi, persekusi, dan kriminalisasi

-Sayangnya, kelima indikator ini justru tampak semakin memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini.

1. Penjajahan Gaya Baru

Kita mungkin sudah lepas dari kolonialisme Belanda dan Jepang, tapi kini bangsa ini dihadapkan pada bentuk penjajahan baru—penjajahan ekonomi dan politik. Dominasi investasi dan pengaruh kebijakan dari negara asing, khususnya China, telah menguat. Indonesia terlihat tak berdaya dalam menjaga kedaulatan ekonominya. Bukan hanya sumber daya alam yang dikuasai, tapi juga jati diri bangsa mulai “dibeli” oleh kekuasaan dan kekayaan segelintir elite.

2. Kebijakan Penuh Ilfiltrasi Asing

Setiap kebijakan yang dilahirkan seolah tak lagi berpihak pada rakyat, melainkan pada kepentingan asing dan oligarki taipan. Dari revisi undang-undang strategis, pengendalian hukum, pemilu yang dipertanyakan netralitasnya, hingga prioritas pembangunan yang menyisakan jurang ketimpangan sosial—semuanya menunjukkan bahwa kedaulatan kita tengah dirongrong dari dalam.

3. Presiden dan DPR yang Tak Lagi Mandiri

Apakah pemerintahan hari ini benar-benar bekerja demi rakyat? Atau sekadar menjadi alat dari kekuatan modal dan asing? Selama satu dekade kepemimpinan Jokowi, banyak yang menilai tatanan negara berubah drastis. Prabowo yang akan segera menjabat sebagai Presiden pun dinilai hanya akan melanjutkan jejak yang sama—sekadar pelengkap kekuasaan yang sudah dikendalikan oleh kekuatan di balik layar. Di sinilah muncul kekhawatiran bahwa bangsa ini tak lagi mengatur nasibnya sendiri.

4. Rakyat Masih Hidup dalam Kesengsaraan

Di negeri yang katanya merdeka, kelaparan masih nyata. Kesenjangan ekonomi mencolok. Pengangguran, ketidakpastian kerja, dan beban hidup rakyat semakin berat. Sementara itu, kekayaan justru menumpuk di segelintir elite dan oligarki. Apakah ini yang dimaksud dengan kesejahteraan dalam kemerdekaan?

5. Rasa Takut dan Kriminalisasi Membayangi

Dalam negara merdeka, rakyat harusnya hidup tanpa rasa takut. Namun kini, intimidasi, persekusi, bahkan kriminalisasi terhadap suara kritis menjadi kenyataan yang menakutkan. Demokrasi dibungkam, hukum dijadikan alat kekuasaan, dan rakyat dikekang kebebasannya.

Bangkit atau Tenggelam

Kondisi ini tak hanya memunculkan keprihatinan, tapi juga rasa kehilangan: kehilangan harapan, kehilangan arah, dan mungkin, kehilangan kemerdekaan itu sendiri.

Apakah Prabowo mampu mengembalikan Indonesia kepada jalan kedaulatan sejati? Mampukah ia membersihkan negara ini dari infiltrasi kekuasaan asing dan oligarki? Dan yang lebih penting, akankah ia mampu mengembalikan negara kepada rakyat, menjadikan konstitusi sebagai panglima, bukan alat kekuasaan?

Jika tidak, maka 80 tahun kemerdekaan hanya akan menjadi angka tanpa makna—karena yang merdeka hanyalah segelintir, sementara rakyat tetap menjadi jongos di negeri sendiri.

Bandung, 30 Muharram 1447 H

Oleh: Sholihin MS (Pemerhati Sosial dan Politik)