News  

Rizal Fadillah Serang Balik Prabowo: Londo Ireng Itu Justru Ada di Lingkaran Kekuasaan

Pemerhati Politik dan Kebangsaan M Rizal Fadillah melontarkan kritik tajam terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam peringatan Hari Lahir PKB pada 23 Juli 2026. Dalam tulisan opininya bertajuk “Prabowo Londo Ireng?” yang ditulis di Bandung, Kamis (30/7/2026), Rizal menilai penggunaan istilah “londo ireng” yang diarahkan kepada pihak-pihak tertentu, termasuk media yang dinilai kritis, justru memunculkan polemik baru di ruang publik.

Menurut Rizal, penggunaan istilah tersebut dinilai berlebihan dan berpotensi menciptakan stigma terhadap kalangan jurnalis maupun media yang menjalankan fungsi kritik terhadap pemerintah.

“Tuduhan jurnalis kritis sebagai londo pengabdi asing sangat melecehkan dan justru memperburuk wajah sendiri,” tulis Rizal dalam artikelnya.

Ia berpendapat bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang tidak semestinya dibalas dengan tuduhan sebagai kepanjangan tangan kepentingan asing. Dalam pandangannya, pemerintah seharusnya lebih terbuka terhadap kritik yang disampaikan masyarakat maupun media.

Rizal juga menyampaikan penilaiannya mengenai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo. Ia mengkritik hubungan pemerintah dengan kelompok oligarki serta mempertanyakan sejumlah proyek strategis nasional yang menurutnya perlu mendapatkan pengawasan publik lebih ketat.

Dalam tulisannya, Rizal mengaitkan sejumlah proyek pembangunan dengan isu kedaulatan ekonomi nasional. Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak disertai putusan hukum yang membuktikan adanya pelanggaran sebagaimana disinggung dalam artikelnya.

Selain itu, Rizal juga menyinggung berbagai isu mengenai latar belakang keluarga Presiden Prabowo maupun Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Klaim-klaim tersebut telah lama beredar di ruang publik, namun sebagian di antaranya telah dibantah oleh pihak terkait dan tidak memiliki putusan pengadilan yang menyatakan kebenarannya.

Lebih jauh, Rizal menilai pidato Presiden Prabowo mencerminkan pemerintahan yang kurang terbuka terhadap kritik.

Ia mengatakan, “Pidato dalam acara Harlah PKB itu menuai kecaman sekaligus dinilai bahwa pemerintahan Prabowo sesungguhnya anti kritik. Mengintimidasi media dengan tuduhan menjalankan kepentingan dan dibiayai asing.”

Rizal juga mengkritik gaya kepemimpinan Presiden Prabowo. Menurutnya, pidato-pidato yang disampaikan Presiden sering kali terdengar berapi-api, namun belum sepenuhnya diikuti implementasi kebijakan yang sesuai dengan harapan masyarakat.

Dalam bagian penutup tulisannya, Rizal bahkan meminta Presiden Prabowo mempertimbangkan mundur dari jabatannya apabila merasa tidak lagi mampu menjalankan amanah sebagai kepala negara.

“Sudahlah Pak, Bapak kan sudah menjadi Presiden seperti ambisinya. Ketika nyatanya tidak lagi mampu untuk menjalankan amanah, ya mundur saja,” tulis Rizal.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Presiden Prabowo Subianto maupun pihak Istana Kepresidenan terkait kritik dan pernyataan yang disampaikan M Rizal Fadillah tersebut. Sejumlah tuduhan dan penilaian yang disampaikan dalam tulisan tersebut merupakan pendapat pribadi penulis dan belum tentu mencerminkan fakta yang telah terbukti secara hukum.