ANGGOTA Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Daniel Johan menyoroti mahalnya harga beras di tengah kondisinya melimpahnya stok beras di gudang Perum Bulog. Belum lama ini, Ombudsman RI mengungkap temuan adanya tumpukan beras impor tahun lalu yang disebut mulai berbau apek.
Daniel menyebut kondisi tersebut sebagai suatu ironi, yang membuktikan lemahnya tata kelola pangan Indonesia. “Sangat ironi, saat rakyat menjerit karena harga beras mahal, tapi beras justru menumpuk dan menurun kualitasnya di gudang. Ini juga pemborosan anggaran dan pengabaian hak rakyat atas pangan yang layak,” katanya melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Jumat, 15 Agustus 2025.
Padahal, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyebut stok beras di gudang Bulog per 1 Juli 2025 mencapai 4,2 juta ton. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak berdirinya Bulog pada 1969.
Pada Rabu, 13 Agustus 2025, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengatakan Bulog mempunyai stok 3,9 juta ton beras. Untuk itu, ia meminta masyarakat agar tidak khawatir terhadap kecukupan stok beras. “Kami pastikan tadi stok beras aman. Pak Ka Bulog melaporkan masih ada 3,9 juta ton stok beras,” ujar Zulhas di kantornya, Jakarta, pada Rabu,.
Namun di sisi lain, Ombudsman RI menemukan beras sisa impor tahun lalu yang masih berada di gudang Bulog. Daniel mengingatkan bahwa beras yang terlalu lama disimpan tanpa penyaluran cepat tidak hanya merusak kualitas, tapi juga membebani negara dengan ongkos penyimpanan yang tinggi. “Pengelolaan stok pangan, apalagi beras, tidak boleh dibiarkan menumpuk hingga menurunkan kualitasnya. Ini menyangkut kesehatan konsumen sekaligus efisiensi anggaran negara,” tutur politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu.
Daniel meminta pengawasan kualitas pangan lebih diperketat. Ia juga mengingatkan agar penyaluran bahan pangan dilakukan dengan cepat dan efsien.
Menurut dia, Bulog dan pemerintah harus punya strategi pelepasan stok yang tanggap, terutama untuk bantuan pangan dan operasi pasar. Sejalan dengan itu, semua proses perbaikan mutu harus diawasi ketat agar tidak merugikan konsumen. “Beras dibeli pakai uang rakyat, maka harus kembali ke rakyat. Jangan sampai kualitas turun, stok sia-sia, dan rakyat tetap tak mampu beli,” tutur Daniel.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang dikutip pukul 10.35 hari ini, harga beras premium di zona 1, 2, dan 3 masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Di zona 1, harga rata-rata beras premium tercatat Rp 15.400 per kg, di zona 2 sebesar Rp 16.439, dan zona 3 Rp 18.287 per kg. Sementara itu, HET beras premium untuk zona 1 dan nasional adalah Rp 14.900 per kg, lalu Rp 15.400 di zona 2, Rp 15.800 di zona 3.
Untuk beras medium, HET nasional ditetapkan Rp 12.500 per kg, untuk zona 1 Rp 12.500, zona 2 Rp 13.100, dan zona 3 sebesar Rp 13.500. Namun, pada kenyataannya rata-rata harga beras medium di zona 1 tercatat Rp 13.900 per kg, di zona 2 Rp 14.434, dan zona 3 Rp 16.368.(Sumber)












