KPK resmi tetapkan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer alias Noel sebagai tersangka. Karir politik mantan driver ojek online, Noel kandas. Jatuh bangun membangun karir politik sebagai loyalis Jokowi berakhir di penjara. Prihatin. Noel terlalu frontal. Noel lupa kalau dia tak bersih-bersih amat.
Publik berharap, KPK tidak berhenti di Noel. Ada mantan menteri dan menteri yang harus KPK “angkut”. Juga ada mantan gubernur dan gubernur yang kepala dinasnya telah di OTT oleh KPK.
KPK harus benar-benar membuktikan tidak tebang pilih dan pilih tebang. Disebut tidak tebang pilih karena mereka bagian dari Geng Solo. Mantan menteri, menteri, mantan gubernur dan gubernur telah menjadi percakapan publik tentang dugaan korupsi yang diduga mereka terlibat.
Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas misalnya. Ia telah dicekal. Banyak fakta terungkap. Tinggal menunggu waktu masuk penjara. Yaqut yang sering teriak NKRI harga mati kini tersandung kasus kuota haji. Malu. Menteri Agama selalu jadi terpidana korupsi.
Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi yang juga Ketua Umum Projo namanya disebut dalam persidangan skandal judol (judi online). Ketika itu Budi Arie Setiadi masih jadi Menteri Komunikasi dan Informatika. Kabarnya, Budi Arie Setiadi menerima setoran uang puluhan miliaran rupiah. Anehnya hingga hari ini Budi Arie Setiadi masih aman-aman saja.
Sementara itu, mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil alias RK rumahnya telah digeledah KPK, Maret 2025. RK diduga terlibat kasus korupsi pengadaan iklan Bank BJB senilai ratusan miliar. Terbaru Lisa Mariana setelah diperiksa KPK kemarin, 22 Agustus 2025, mengaku menerima aliran dana pengadaan iklan di Bank BJB. Pengakuan ini diprediksi semakin membuat RK terpojok.
Terakhir menantu Jokowi, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Sang menantu Jokowi ini diduga tersandung kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan. Bahkan orang dekat Bobby Nasution, Kepala Dinas PUPR Topan Obaja Putra Ginting (TOP) terjaring OTT KPK.
Publik melihat belum ada progres kasus yang melilit Budi Arie Setiadi, Bobby Nasution dan Ridwan Kamil. KPK hanya PHP. Bilang mau diperiksa. Ketiga nama tersebut hingga hari ini belum diperiksa oleh KPK. Hanya Yaqut Cholil Qoumas sedikit lebih maju, dicekal.
Tebang pilihnya KPK memantik spekulasi Immanuel Ebenezer alias Noel dikorbankan oleh Geng Solo. Spekulasi itu diperkuat sikap Noel akhir-akhir ini. Tampak Noel mulai berseberangan dengan Geng Solo. Sayangnya, Noel terlalu frontal. Kasusnya dikorek-korek. Bertemulah kasus dugaan pemerasan.
Misalnya saja Noel membela Abraham Samad dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Noel menyebut pemeriksaan Abraham Samad oleh polisi sebagai konsekuensi orang kritis.
Sebelumnya, Immanuel Ebenezer membela Munarman. Bahkan Noel pada tahun 2022 menjadi saksi meringankan Munarman di Pengadilan. Akibatnya jabatan Noel sebagai Komisaris Utama di PT. Mega Eltra dicopot. Ketika itu, santer disebut-sebut Munarman korban kriminalisasi karena banyak mengetahui kasus pembantaian dan pembunuhan 6 Laskar FPI.
Noel telah mendahului Silfester Matutina dipenjara. Sementara Silfester sampai hari ini masih bebas. Padahal putusan Pengadilan sudah inkrah tapi Silfester Matutina belum juga dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan ke penjara.
Bisa jadi sikap Noel yang akhir-akhir ini terkesan menyerang Jokowi dan Geng Solo “dikorbankan” karena dianggap “berkhianat”. Mirisnya lagi, Budi Arie Setiadi, Bobby Nasution dan Ridwan Kamil terkesan dilindungi.
Preseden Noel, Budi Arie Setiadi, Bobby Nasution dan Ridwan Kamil memperkuat spekulasi adanya invisible hand yang “mengendalikan” KPK. Geng Solo yang loyal dilindungi sedangkan loyalis Geng Solo yang mulai sadar seperti Noel dikorbankan.
Apa jadinya pemberantasan korupsi di negeri ini bila terduga invisible hand bermain di KPK yang menentukan hitam putih kasus seseorang? Wallahua’lam bish-shawab
Bandung, 29 Shafar 1447/23 Agustus 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












