Kerusuhan beberapa hari lalu telah membuka mata kita semua bahwa bangsa Indonesia sedang berada dalam situasi yang genting, bukan hanya dalam aspek sosial, tetapi juga dalam aspek moral dan budaya. Apa yang dahulu menjadi ciri khas bangsa, yaitu keramahan, kesantunan, tenggang rasa, dan gotong royong, kini semakin kabur. Wajah bangsa yang dikenal ramah mulai berganti dengan wajah garang yang mudah tersulut emosi.
Kita patut bertanya, ke manakah hilangnya etika ketimuran yang dulu menjadi kebanggaan leluhur kita?
Etika ketimuran bukanlah sekadar aturan tidak tertulis, melainkan sebuah pandangan hidup yang telah diwariskan turun-temurun. Ia menekankan pada kesopanan dalam tutur kata, kelembutan dalam bertindak, serta rasa hormat terhadap orang lain. Orang Jawa mengenalnya dengan istilah “unggah-ungguh”, masyarakat Minang menyebutnya “budi pekerti”, sementara di tanah Bugis dikenal dengan “siri’ na pacce”. Semua istilah itu merujuk pada hal yang sama: menjunjung tinggi martabat manusia melalui sikap santun dan penuh penghormatan. Nilai-nilai inilah yang perlahan hilang, dan kerusuhan yang baru terjadi hanyalah puncak gunung es dari keretakan budaya kita.
Fenomena kerusuhan tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman yang begitu cepat. Globalisasi membawa masuk budaya baru yang sering kali tidak sesuai dengan akar budaya bangsa. Individualisme, hedonisme, hingga sikap materialistis semakin tumbuh subur. Masyarakat kini lebih sibuk mengejar kepentingan pribadi daripada memikirkan kepentingan bersama. Etika ketimuran yang menekankan gotong royong mulai dipandang sebagai sesuatu yang kuno.
Orang lebih memilih bersaing ketimbang bekerja sama, lebih gemar memamerkan diri ketimbang menundukkan hati. Tak heran, saat ada percikan masalah, masyarakat menjadi mudah terprovokasi hingga melahirkan kerusuhan.
Peran media sosial dalam hal ini sangat besar. Ruang digital yang terbuka tanpa batas seakan menjadi panggung baru untuk meluapkan emosi. Kata-kata kasar, fitnah, hingga provokasi bertebaran tanpa kendali.
Setiap orang merasa bebas mengucapkan apa saja tanpa memikirkan dampaknya. Ironisnya, budaya virtual itu kini terbawa ke dunia nyata. Kerusuhan beberapa hari lalu bisa dilihat sebagai perpanjangan tangan dari budaya digital yang kehilangan etika. Apa yang terbiasa dilakukan di layar ponsel—menghina, menyerang, merendahkan—kemudian mewujud dalam bentuk fisik, berupa bentrokan dan amuk massa.
Selain faktor media, krisis keteladanan juga menjadi penyebab penting. Masyarakat meniru apa yang dilihat dari para pemimpin, tokoh, dan figur publik. Namun, hari ini banyak tokoh justru memperlihatkan sikap yang jauh dari nilai ketimuran. Adu mulut di depan kamera, saling menyalahkan di ruang publik, bahkan mempermainkan isu untuk kepentingan politik, menjadi tontonan sehari-hari. Ketika rakyat menyaksikan itu, mereka merasa wajar melakukan hal serupa. Padahal, dalam budaya timur, pemimpin adalah teladan yang seharusnya menjaga kesejukan, bukan menyulut api perpecahan.
Kerusuhan beberapa hari lalu juga menunjukkan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis identitas. Kita hidup di tanah air yang majemuk, terdiri dari ratusan suku, bahasa, dan agama.
Keberagaman ini dulu bisa dirawat dengan baik karena masyarakat masih berpegang pada etika ketimuran. Musyawarah dijadikan jalan keluar, dan perbedaan tidak melahirkan permusuhan. Namun kini, ketika etika itu terkikis, perbedaan justru menjadi sumber konflik. Kita semakin mudah saling curiga, semakin cepat menaruh benci, dan semakin ringan tangan untuk melakukan kekerasan. Jika hal ini dibiarkan, masa depan bangsa bisa hancur karena kita kehilangan perekat sosial yang menjadi kekuatan utama Indonesia.
Penting untuk disadari bahwa etika ketimuran tidak boleh hanya menjadi romantisme masa lalu. Ia harus dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga memegang peranan penting dalam hal ini.
Anak-anak harus dididik dengan nilai sopan santun sejak dini, diajarkan untuk menghargai orang lain, dan dibiasakan menggunakan bahasa yang baik. Sekolah juga harus berperan, bukan hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menanamkan pendidikan karakter yang kuat.
Guru harus menjadi teladan sebagaimana dulu guru dan kiai dihormati karena sikap rendah hati dan penuh kasih.
Selain keluarga dan sekolah, media massa juga memiliki tanggung jawab besar. Media sering kali menjadi saluran utama dalam membentuk opini publik. Jika media hanya menyajikan sensasi, konflik, dan ujaran kebencian, maka masyarakat akan semakin terprovokasi. Sebaliknya, jika media bisa menghadirkan tayangan edukatif, inspiratif, dan menonjolkan nilai luhur bangsa, maka masyarakat akan terdorong untuk kembali meneladani etika ketimuran. Begitu pula media sosial, yang perlu dikelola dengan literasi digital agar tidak lagi menjadi sarang provokasi, melainkan ruang untuk menyebarkan kebijaksanaan.
Tak kalah penting adalah keteladanan dari para pemimpin. Pemimpin sejati bukan hanya pandai berpidato, tetapi mampu menunjukkan sikap tenang dalam menghadapi krisis, mendahulukan kepentingan rakyat daripada diri sendiri, dan menjaga tutur kata agar tidak melukai. Jika pemimpin mampu mencontohkan itu, maka rakyat akan kembali meniru. Kita membutuhkan pemimpin yang berjiwa negarawan, bukan sekadar politisi. Sebab, bangsa tanpa teladan ibarat kapal tanpa nakhoda, mudah goyah diterpa badai.
Kerusuhan yang terjadi seharusnya dijadikan titik balik. Bangsa ini harus bercermin bahwa kita tidak boleh membiarkan etika ketimuran tercabut begitu saja. Nilai-nilai luhur itu adalah benteng yang menjaga kita tetap utuh. Jika benteng itu runtuh, maka Indonesia akan rapuh, mudah dipecah belah, dan kehilangan jati diri. Kita boleh modern, boleh mengikuti perkembangan teknologi, tetapi jangan sampai kehilangan akar budaya. Modernitas tanpa etika hanyalah kebaruan yang hampa, sementara etika tanpa modernitas hanyalah nostalgia.
Keduanya harus berjalan beriringan.
Sebagai bangsa, kita harus berani mengakui bahwa kerusuhan beberapa hari lalu bukan hanya kesalahan segelintir orang, tetapi cermin dari kita semua. Kita semua turut berperan, baik melalui sikap, ucapan, maupun tindakan sehari-hari. Jika kita ingin bangsa ini kembali santun, maka setiap individu harus memulai dari dirinya sendiri: menjaga lisan, mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan bersama. Dari langkah kecil itu, kita bisa kembali menumbuhkan etika ketimuran yang tercerabut.
Kerusuhan hanyalah tanda, bukan inti persoalan. Inti persoalannya ada pada bagaimana kita merawat nilai-nilai luhur bangsa di tengah derasnya arus perubahan zaman. Jika kita abai, kerusuhan akan terus berulang.
Namun jika kita sadar dan kembali menegakkan etika ketimuran, bangsa ini akan kembali dikenal bukan karena kerusuhannya, melainkan karena keramahan, kelembutan, dan kebijaksanaannya. Itulah wajah sejati Indonesia, wajah yang kita rindukan, wajah yang harus kita rawat bersama.












