Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, menilai Presiden Prabowo Subianto diuji keseriusannya dalam menangani kasus kerusuhan yang terjadi pada akhir Agustus 2025. Menurutnya, langkah berani yang seharusnya ditempuh adalah mengusut tuntas bahkan menangkap pihak-pihak yang diduga menjadi dalang, termasuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam tulisannya, Rizal menyinggung pernyataan Prabowo yang menyebut aksi anarki tersebut mengarah pada “makar dan terorisme”. Meski terkesan berlebihan, ia menilai hal itu harus ditindaklanjuti dengan investigasi menyeluruh.
“Pertanyaan serius siapa dalang teror? Bisa Anarko, BAIS, BIN, Polisi, atau pihak lain. Namun jika jaringan itu terhubung dengan kekuasaan, diprediksi sulit untuk terusut,” ujar Rizal kepada Radar Aktual, Senin (8/9/2025).
Ia menyoroti manuver Gibran yang sempat muncul di tengah kerusuhan dengan menemui perwakilan ojek online. Menurut Rizal, langkah tersebut memberi kesan adanya upaya Gibran untuk mengambil alih komando. Bahkan, ia menuding gerakan makar justru mengarah pada “Jokowisme” melalui PSI yang dituding ingin melemahkan posisi Prabowo.
“Kapolri Listyo Sigit mesti berani mengusut kemungkinan Jokowi dan Gibran sebagai dalang. Jika tidak melaksanakan, maka ini kesempatan bagus bagi Prabowo untuk memecatnya,” kata Rizal.
Lebih jauh, Rizal juga mengaitkan situasi politik terkini dengan hubungan Prabowo bersama Presiden China, Xi Jinping. Ia menyebut setidaknya ada tiga momentum strategis yang menunjukkan tekanan politik Beijing terhadap Jakarta, termasuk pertemuan Prabowo dengan Xi Jinping pada 3 September 2025.
Rizal mengingatkan bahwa kondisi ini mengingatkan sejarah kelam Indonesia tahun 1965, saat kedekatan dengan negara-negara komunis berujung pada tragedi G30S/PKI.
“Adakah gerakan Joko Soloensis menjadi sinyal operasi politik menghalalkan segala cara ala komunis atau PKI? Kini tergantung Prabowo untuk menangani, akankah tunduk dan terkendali, berkompromi, atau berani mandiri?” tegasnya.
Ia menutup dengan pernyataan keras: “Jika ia benar Presiden RI, TNI, dan pejuang NKRI maka Prabowo harus membuktikan keseriusannya dengan menangkap Gibran dan Jokowi. Tanpa itu, semua hanyalah omon-omon.”











