News  

Srine Telah Berbunyi: Dari Sri Lanka ke Nepal, Akankah Indonesia Menyusul?

Pemerhati Politik dan KebangsaanM Rizal Fadillah menyalakan alarm keras lewat tulisannya yang menyoroti “srine” sebagai simbol bahaya sosial-politik. Dalam pandangannya, suara sirine bukan sekadar tanda darurat bagi ambulans atau mobil pemadam, tetapi pertanda kota—bahkan negara—tengah menghadapi krisis besar.

Fadillah menarik analogi “srine” ke panggung internasional. Ia menyebut Sri Lanka dan Nepal sebagai contoh nyata bagaimana kemarahan rakyat mampu mengguncang kekuasaan yang dianggap arogan dan sarat nepotisme.

Pada 2022, Sri Lanka diguncang gelombang protes besar-besaran. Presiden Gotabaya Rajapaksa, yang dinilai gagal menanggulangi krisis ekonomi, terpaksa melarikan diri bersama keluarganya. Istana kepresidenan diduduki massa, aparat tak berdaya. Revolusi rakyat menumbangkan dinasti Rajapaksa yang lama berkuasa.

Baru-baru ini Nepal juga diguncang gelombang protes yang lebih dahsyat. Generasi muda, terutama Gen Z, memprotes pemblokiran media dan korupsi pejabat. Demonstrasi berujung pada pengunduran diri Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel. Kerusuhan menelan 19 korban jiwa dan ratusan luka-luka. Pidato remaja Abiskar Raut menjadi pemantik perlawanan yang membara.

Fadillah mengingatkan, gejolak di kedua negara itu bukan sekadar insiden lokal. “Efek domino pemberontakan rakyat terasa di mana-mana,” ungkapnya dalam pernyataan kepada Radar Aktual, Rabu (17/9/2025).

Ia menyinggung pembakaran, penjarahan, dan bentrokan dengan aparat sebagai bibit pemberontakan yang bisa terjadi di negara lain jika kesenjangan sosial dan moral korupsi dibiarkan.

Ia bahkan menyinggung peristiwa yang disebutnya sebagai “tergilasnya Affan Kurniawan” sebagai simbol keangkuhan aparat. “Srine telah berbunyi, era kemarahan rakyat telah dimulai,” tegasnya.

Menurut Fadillah, demokrasi yang “diinjak oleh kaum hipokrisi” kini berada di ujung tanduk. Upaya reformasi bisa berubah menjadi revolusi bila kesenjangan, korupsi, dan ketidakbecusan mengelola negara terus dibiarkan.

“Jika srine telah berbunyi, maka rakyat siap memberontak. Untuk menemukan dan meluruskan kembali ideologi dan konstitusi yang telah lama dijauhi atau dieliminasi,” pungkasnya.