Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) Haidar Alwi menilai Polri mengambil peran penting dalam menciptakan stabilitas keamanan, terutama saat peristiwa demonstrasi berujung kericuhan pada September 2025 lalu.
“Polri berdiri di garis depan, membendung arus kekacauan, menjaga agar api kemarahan tidak membakar habis fondasi negara, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan tanpa kehilangan kendali,” kata Haidar dalam siaran pers resmi yang diterima ANTARA, Senin.
Menurut Haidar, fakta tersebut terkesan dilupakan publik yang umumnya lebih membesarkan narasi bahwa Polri gagal menciptakan situasi aman.
Tekanan terhadap Polri, kata dia, semakin terasa ketika ada salah satu pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas karena ulah personelnya.
“Tidak ada yang menafikan, tewasnya seorang pengemudi ojek online adalah luka. Sebuah tragedi yang memang tidak seharusnya terjadi,” kata Haidar.
“Tetapi apakah sebuah institusi yang menahan keruntuhan negara layak dihakimi hanya dari satu titik peristiwa, sementara ratusan titik berhasil dalam meredam amuk massa diabaikan begitu saja?,” ucap Haidar mempertanyakan.
Bahkan, kata Haidar, narasi mulai bergeser kepada isu penggantian pucuk pimpinan Polri hingga mendorong agar instansi tersebut berada di bawah kementerian.
“Sejarah sudah membuktikan, Polri yang dikungkung di bawah kementerian adalah Polri yang kehilangan independensinya, yang tidak lagi bisa berdiri tegak sebagai pengayom masyarakat, melainkan hanya menjadi kepanjangan tangan politik,” tegas Haidar.
Oleh karena itu, dia berharap masyarakat bisa lebih jeli dan tidak terbawa akan narasi tersebut.
Dia menegaskan bahwa masyarakat harus ingat Polri juga memberi andil dalam menciptakan keamanan dan ketentraman hingga hari ini. (Sumber)











