Perang narasi di media sosial kini mencapai level yang tak terbayangkan. Israel, melalui tangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terang-terangan mengakui pentingnya strategi influencer dalam mempromosikan pesan dan citra negara di kancah global. Bahkan, laporan terbaru mengungkap besaran dana fantastis yang digelontorkan untuk memuluskan kampanye digital tersebut.
Netanyahu sendiri tak sungkan mendesak para pemangku kepentingan media pro-Israel untuk menggandeng komunitas influencer.
“Kita harus melawan balik. Bagaimana kita melawan balik? Influencer kita. Saya pikir kalian juga harus berbicara dengan mereka jika ada kesempatan, kepada komunitas itu, mereka sangat penting,” tegas Netanyahu, seperti dilansir Responsible Statecraft, Rabu (1/10/2025).
Dana Jumbo untuk Sekali Posting
Fakta mengejutkan terungkap dari dokumen yang diajukan berdasarkan Foreign Agents Registration Act (FARA). Bridge Partners, sebuah firma yang dikontrak oleh Kementerian Luar Negeri Israel, menagihkan US$900.000 (sekitar Rp14,9 miliar) kepada Havas Media Group Jerman untuk sebuah ‘Kampanye Influencer’ yang berlangsung dari Juni hingga November tahun ini.
Setelah dipotong biaya administrasi dan produksi, diperkirakan US$552.946 dialokasikan secara langsung kepada 14 hingga 18 influencer. Angka ini ditujukan untuk memproduksi antara 75 hingga 90 unggahan konten.
Jika dirata-ratakan, maka setiap influencer dibayar sekitar US$6.143 hingga US$7.372 per unggahan, atau setara dengan Rp99 juta hingga Rp109 juta per sekali posting di Instagram dan TikTok.
Meskipun dokumen FARA mencatat bahwa pendanaan ini mencakup ‘pembayaran influencer dan produksi’, rincian pasti pembagiannya tetap buram. Namun, perkiraan angka US$552.946 untuk para influencer dalam kurun waktu Juni hingga September menunjukkan skala investasi Israel yang sangat serius di ranah media sosial.
Jaringan Konsultan dan Mantan Militer
Identitas para influencer yang menerima bayaran super mahal ini masih menjadi misteri. Pihak Havas, firma yang bertanggung jawab mengawasi pekerjaan Bridge Partners, memilih bungkam dan tidak menanggapi permintaan komentar mengenai proyek tersebut.
Bridge Partners didirikan oleh Yair Levi dan Uri Steinberg, yang masing-masing memiliki 50 persen saham. Firma yang berkantor di Washington DC ini menggambarkan misinya sebagai upaya ‘mempromosikan pertukaran budaya antara Amerika Serikat dan Israel’.
Yang menarik, Bridge Partners juga merekrut mantan mayor unit juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Nadav Shtrauchler. Untuk urusan hukum, Levi dan Steinberg menggandeng Pillsbury Winthrop Shaw Pittman, firma yang sebelumnya pernah melayani perusahaan spyware Israel yang kontroversial, NSO Group.
Kampanye influencer ini diberi nama sandi ‘Esther Project’. Hingga kini, belum jelas apakah ada keterkaitan antara kampanye yang didanai pemerintah Israel ini dengan ‘Project Esther’ milik Heritage Foundation, sebuah kampanye yang dikenal keras melawan anti-semitisme dengan melabeli para pengkritik Israel sebagai bagian dari jaringan pendukung terorisme.
Yang pasti, dengan bayaran fantastis per postingan, perang narasi digital Israel kini menjadi salah satu yang termahal di dunia.(Sumber)












