Edisi penggiringan opini dimulai. Tokoh dan partai yang masuk nominasi kontestasi 2029 sudah menjadi percakapan publik. Lembaga survei seperti biasa, mengorkestrasi tokoh yang pantas maju calon RI-1 dan partai yang ‘dijagokan’.
Dijagokan siapa? Siapa lagi kalau bukan kelompok yang paling berkepentingan. Pemodal. Uang mereka tak berseri. Berapapun biaya mereka persiapkan untuk meloloskan jagoannya.
Tokoh yang sedang naik daun, Dedi Mulyadi atau KDM. Gubernur Jawa Barat ke-15. Namanya disebut-sebut merajai survei versi SMRC. Mengalahkan petahana Presiden Prabowo juga Ketua Umum Dedi Mulyadi di Partai Gerindra.
Dedi Mulyadi populer lewat panggung digital yang ia perankan. Namanya kerap muncul di berbagai platform media sosial.
Tak jarang Dedi Mulyadi disebut sebagai Jokowi jilid dua. Habis Mulyono terbitlah Mulyadi, sebut seorang analis politik di kolom resonansi sebuah media online.
Bahkan oleh penggemarnya Dedi Mulyadi disebut sebagai harapan baru Indonesia. Ia mengisi ruang yang tidak diisi oleh Presiden Prabowo dan calon presiden potensial lainnya.
Ia blusukan ala Jokowi dulu. Kalau Jokowi masuk gorong-gorong. Maka Dedi Mulyadi nyemplung ke sungai penuh sampah.
Strategi komunikasi Dedi Mulyadi yang menampilkan sisi humanis dan santai meski terkesan dibuat-buat lewat aksi personalnya depan kamera membuat banyak orang “tersihir”.
Nama Dedi Mulyadi melambung tinggi. Persis Jokowi di tahun 2012. Puncaknya 2014. Jokowi mengalahkan orang yang mengantarkannya ke Jakarta, Prabowo.
Dedi Mulyadi bisa saja mengikuti jejak Jokowi. Tiga tahun jelang Pilpres Dedi Mulyadi telah memuncaki hasil survei nasional versi SMRC dan Indikator Politik Indonesia meski sempat dibantah oleh Burhanuddin Muhtadi.
Gaya penggiringan opini seperti Jokowi dulu. Lembaga survei ramai-ramai menempatkan Jokowi, sekarang Dedi Mulyadi menempati skor elektabilitas tertinggi. Menggeser petahana, Prabowo yang tak lain Ketua Umum Partai Gerindra.
Dedi Mulyadi layak disebut Jokowi jilid dua. Namanya besar melalui berbagai aksi populisnya di depan kamera. Blusukan ala Jokowi yang dimodifikasi.
Lembaga survei, entah murni atau rekayasa, yang memang sejak Jokowi dari Solo selalu menempatkan Jokowi memiliki elektabilitas tertinggi. Sekarang mereka mengadang-gadang Dedi Mulyadi sebagai pemilik elektabilitas tertinggi. Mungkin bagian dari propaganda politik terhadap tokoh yang mereka dukung untuk 2029.
Masalahnya, Dedi Mulyadi sulit nyapres. Karena ia kader Partai Gerindra. Sementara Partai Gerindra sudah mencalonkan Prabowo Subianto untuk periode kedua.
Dedi Mulyadi terkunci. Bisa saja Dedi Mulyadi mengikuti pola Sandiaga Uno. Pada Pilpres 2014 Sandiaga Uno tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Jabatan yang sama dengan Dedi Mulyadi hari ini, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Ketua Dewan Pembinanya masih sama, Prabowo Subianto.
Inilah batu sandungan terbesar Dedi Mulyadi bila berangan-angan menjadi orang nomor satu di republik ini. Terkunci oleh Gerindra karena Gerindra “punya” Prabowo.
Pindah partai? Ini yang tidak mudah bagi Dedi Mulyadi bila tanpa “restu” Prabowo Subianto. Bisa-bisa blunder bagi Dedi Mulyadi. “Dihabisi” sebelum 2029 bila frontal terhadap Prabowo.
Beredar rumor, Dedi Mulyadi akan pindah ke partai lamanya, Partai Golkar. Partai yang telah mengantarkan ia menjadi Bupati Purwakarta dan anggota DPR.
Pertanyaannya apakah sesederhana itu ia “mendepak” Ketua Umum Partai Golkar sekarang, Bahlil Lahadalia. Tidak mudah tentunya. Prediksi akan ada perlawanan dari internal Partai Golkar.
Mas Bahlil Ganteng kata sebuah judul lagu, tidak akan rela menyerahkan kursi ketua umumnya ke Dedi Mulyadi. Kecuali Bahlil Lahadalia “dikorbankan” dengan iming-iming seperti saat Airlangga Hartarto “dipaksa” mundur.
Tapi ingat! Tidak serta merta menjadikan Dedi Mulyadi sebagai Ketua Umum Partai Golkar andai Bahlil Lahadalia “dikorbankan”. Tetap saja mesti ada “restu” dari Istana.
Bisa saja diambil win-win solution agar Partai Golkar tidak bergejolak. Misalnya Ketua Umum tetap Bahlil Lahadalia. Kompensasinya Dedi Mulyadi kembali ke Golkar dan dicalonkan oleh Partai Golkar untuk calon RI-2 mendampingi Prabowo.
Inilah ujian terberat Dedi Mulyadi. Meski elektabilitasnya melampaui Prabowo Subianto bukan jaminan ia bisa nyapres kecuali nyawapres seperti Sandiaga Uno di Pilpres 2014.
Yang paling mungkin bagi Dedi Mulyadi mengikuti jejak Sandiaga Uno Pilpres 2014. Sandiaga Uno sempat disebut-sebut pindah ke PAN untuk menjadi calon RI-2 mendampingi Prabowo Subianto.
Kecuali ada peristiwa besar. Calon presiden 2029 yang tidak menguntungkan kekuatan ekonomi dan politik tertentu akan “tergusur” dari pasar survei sebagai bagian dari propaganda politik jelang tahun politik 2029 atau terjadi “sesuatu” sebelum 2029. Maka kans Dedi Mulyadi terbuka lebar untuk nyapres.
Wallahua’lam bish-shawab
Bandung, 20 Safar 1448/4 Agustus 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












