Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan menilai bisnis transportasi publik seharusnya menghasilkan keuntungan, bukan justru menanggung kerugian. Menurutnya, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh yang dibangun pemerintah seharusnya menjadi contoh bisnis transportasi massal yang sehat.
“Apalagi kalau bisnis transportasi publik yang dibangun oleh pemerintah, tidak boleh rugi. Jika proyek bisnis transportasi publik massal pemerintah rugi, maka pemerintahnya korupsi,” ucap Tigor dalam keterangan yang diterima inilah.com di Jakarta, Minggu (2/11/2025).
Saat ini, Whoosh memiliki utang sekitar Rp120 triliun yang rencananya dibayar mulai 2026 dengan cicilan Rp2 triliun per tahun selama 60 tahun. Tigor mengungkapkan, proyek ini juga terseret isu dugaan korupsi, mulai dari penggelembungan biaya konstruksi hingga penghentian pembangunan lanjutan ke Surabaya.
“Banyak kontroversi pembangunan KCIC atau kereta cepat Whoosh. Sekarang ini barulah banyak pihak mempersoalkan ada korupsi ‘mark up’ penggelembungan biaya pembangunan Whoosh hingga 3 kali lipat dari biaya sebenarnya,” katanya.
Kontroversi ini memunculkan keraguan soal kelanjutan proyek Whoosh, terutama soal perluasan layanan hingga ke Surabaya sesuai rencana awal. Meski demikian, Tigor menilai kemampuan Whoosh membayar utang bergantung pada kinerja operasional layanan sejak beroperasi pada 2023.
“Peluang ini yang mendorong China mau menerima perpanjangan pembayaran hingga 60 tahun ke depan. Sudah ada 12 juta pengguna Whoosh sejak beroperasi tahun 2023 hingga Oktober 2025. Jadi jelas Cina menerima perpanjang pembayaran hutang Whoosh Rp2 triliun setiap hingga 60 tahun ke depan, karena melihat prospek bisnis layanan transportasi massal Whoosh itu sendiri saat ini,” ungkapnya.
Data pengguna Whoosh yang terus meningkat menunjukkan prospek bisnis layanan ini masih positif. Tigor menilai jika jalur layanan diperpanjang hingga Surabaya, jumlah pengguna akan bertambah signifikan, sehingga kelangsungan bisnis lebih terjamin.
“Sebaiknya kebijakan pemerintah lebih memprioritaskan pembangunan dan pengembangan pelayanan bisnis Whoosh sampai ke Surabaya. Lebih baik uang Rp30 triliun dari pemerintah ini, diberikan dan dipakai sebagai modal awal untuk melanjutkan pembangunan Whoosh ke Surabaya,” jelas Tigor.
Dia menambahkan, modal awal tersebut akan menarik minat pihak swasta untuk berinvestasi, sehingga pengembangan Whoosh menjadi proyek bisnis transportasi massal yang lebih berkembang.(Sumber)











