News  

Pasca Tragedi SMAN 72, UAH Desak Komdigi Lebih Tegas Tutup Konten Merusak Moral Generasi Muda

Ustaz Adi Hidayat (UAH) menegaskan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat perundungan (bullying). Seruan itu disampaikan lewat video berjudul “PetUAH: Indonesia Darurat (Penanganan) Bullying” yang diunggah di kanal YouTube resminya, menyusul tragedi ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, yang diduga berawal dari kasus perundungan di lingkungan sekolah.

Pada Jumat (7/11) lalu diketahui sekitar pukul 12.15 WIB, terjadi ledakan di kawasan SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, tepatnya di dalam kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut. Ledakan itu terjadi saat para siswa dan guru tengah melaksanakan salat Jumat. Dua kali suara letusan terdengar, menimbulkan kepanikan di dalam masjid dan lingkungan sekolah.

edakan tersebut menyebabkan puluhan korban luka, sebagian mengalami luka bakar dan luka akibat serpihan. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menyebutkan, setidaknya ada 54 orang yang menjadi korban luka-luka. Polisi langsung menurunkan tim Penjinak Bom (Jibom) dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Posko bantuan bagi keluarga korban juga dibuka di RS Yarsi dan RS Islam Cempaka Putih.

Menanggapi tragedi tersebut, Ustaz Adi Hidayat mengaku sempat merenung tiga hari lamanya. Ia menyebut peristiwa itu sebagai “lonceng peringatan keras” bagi bangsa Indonesia.

“Kita sedang menghadapi krisis akhlak di lembaga pendidikan. Dari SD sampai universitas, bullying sudah seperti wabah,” ujar UAH.

Menurutnya, ada tiga pihak yang harus memikul tanggung jawab utama: keluarga, sekolah, dan pemerintah. Keluarga disebut sebagai benteng pertama yang kerap lalai memberi perhatian pada anak.

Sekolah dituntut berani bersikap tegas dan tidak tunduk pada tekanan segelintir orang tua yang salah memahami pendidikan. Sementara pemerintah diminta menindak tegas tayangan digital dan algoritma media sosial yang merusak moral anak-anak.

“Komdigi harus lebih tegas, bukan hanya membatasi tapi juga menutup konten yang merusak karakter generasi muda,” tegasnya.

UAH juga menilai bahwa akar dari banyak persoalan sosial di Indonesia terletak pada lemahnya pendidikan spiritual. “Bangsa ini berdiri atas rahmat Allah. Maka pendidikan moral dan spiritual harus diperkuat lagi di sekolah-sekolah,” ujarnya, seraya mengusulkan agar tokoh agama dilibatkan dalam pemantauan kondisi mental dan sosial siswa.

Di akhir tausiyahnya, UAH mengajak generasi muda untuk bangkit dan berhenti saling merundung.

“Kamu bukan lemah. Kamu anak hebat. Tulis cita-citamu, kerja keras, dan kita nyatakan bersama: Stop Bullying!” katanya menutup pesan moralnya.(Sumber)