News  

Santri Ponpes di Wonogiri Dipukuli Sesama Santri Hingga Meninggal Perkara Mandi

Seorang santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Santri Manjung Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri Kota, meninggal dunia usai mengalami perundungan atau bullying.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, santri yang meninggal berinisial MMA yang kini duduk di bangku kelas VII. Santri laki-laki berusia 12 tahun tersebut berasal dari Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar. Korban diketahui duduk di bangku kelas VII.

Korban meninggal dunia di salah satu rumah sakit usai sempat menjalani perawatan pada Senin (15/12/2025). MMA diketahui dipukuli oleh sejumlah santri lainnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB P3A) Wonogiri, Suhartono membenarkan peristiwa itu.

“Kami mendapatkan aduan dari masyarakat terkait hal itu. Ada warga yang curiga santri meninggal dengan adanya luka lebam. Memang betul mengarah ke pembullyan,” ujar Suhartono seperti dikutip inilahjateng, Jumat (19/12/2025).

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, korban masuk di ponpes itu sekira enam bulan belakangan dan menempuh pendidikan di salah satu SMP.

“Informasinya bullying-nya terjadi Sabtu (13/12/2025). Korban sempat dirawat di rumah sakit dan meninggal Senin lalu,” ujar dia.

Dia menuturkan, berdasarkan keterangan dari sejumlah pelaku, korban dibully karena dinilai susah diminta mandi oleh santri lainnya.

“Infonya korban dipukul. Sebelumnya juga sudah ada (bully) yang dilakukan. Kalau pelaku bullying lebih dari satu orang kan potensi bullying-nya lebih berat ya,” papar dia.

Pasca peristiwa ini, Suhartono mengimbau agar lingkungan lebih peka atas indikasi terjadinya bullying. Tak hanya di lingkungan ponpes saja, namun di sekolah dan juga di lingkungan masyarakat secara umum.

“Kalau sampai meninggal dunia, mungkin kan sudah sering terjadi. Lingkungan harus peka. Kita sayangkan ada kejadian seperti ini, semoga tidak terjadi lagi ke depannya,” imbuhnya.

Dia pun berharap, kejadian serupa tidak terjadi lagi di wilayah Kabupaten Wonogiri.

“Kalau dari kami, jangan sampai ada kejadian serupa lagi di kemudian hari. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban atau pelaku. Ini kan korban dan pelaku anak-anak semua,” tandasnya.(Sumber)