LPemerintah memastikan harga minyak dunia masih dalam kondisi terkendali di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Hingga awal Januari 2026, belum terlihat adanya lonjakan signifikan yang berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus memantau dinamika global, termasuk perkembangan konflik politik dan ekonomi yang melibatkan negara-negara produsen minyak. Namun demikian, pergerakan harga minyak mentah internasional sejauh ini masih berada dalam rentang yang aman.
“Kalau kita lihat sampai awal Januari 2026, harga minyak global relatif stabil dan belum menunjukkan gejolak yang signifikan. Kondisi ini tentu tidak membebani perekonomian nasional,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).
Menurut Airlangga, stabilitas harga minyak menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi, neraca perdagangan, serta keberlanjutan fiskal, terutama terkait subsidi energi. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif apabila terjadi perubahan situasi global yang lebih ekstrem.
“Pemerintah memiliki skenario mitigasi, baik dari sisi fiskal maupun kebijakan energi, sehingga jika terjadi kenaikan harga minyak secara tajam, dampaknya terhadap APBN dan daya beli masyarakat bisa ditekan,” jelasnya.
Ia menambahkan, koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Selain itu, pemerintah juga mendorong efisiensi energi dan diversifikasi sumber energi sebagai langkah jangka menengah dan panjang.
Dengan kondisi harga minyak yang masih terkendali, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional dapat tetap dicapai meski dihadapkan pada dinamika geopolitik internasional yang terus berkembang. (Sumber)












