News  

Yusuf Blegur: Waktu akan Menguji Aktivis, Manusia atau Sekadar Ternak Kekuasaan

Yusuf Blegur (IST)

Aktivis politik dan pegiat kritik kebangsaan, Yusuf Blegur, melontarkan refleksi keras mengenai makna waktu bagi aktivis dalam perjalanan kekuasaan. Dalam sebuah pernyataan bernuansa satire-politik yang disampaikannya di Bekasi, Kamis (15/1/2026), Yusuf menegaskan bahwa waktu bukan sekadar ukuran usia atau pencapaian, melainkan ruang pengadilan paling jujur bagi integritas manusia.

“Waktu bukan saja sekadar ajang pembuktian yang menguji daya juang, stamina, dan capaian seseorang,” ujar Yusuf Blegur dalam pernyataannya yang diberi tajuk Humor Politik.

Menurutnya, waktu justru kerap membuka fakta yang sebelumnya tersembunyi: apa yang diraih dengan kejujuran dan apa yang ditinggalkan karena pengkhianatan. Dalam lintasan waktu itu pula, manusia diuji kemampuannya menerima kehilangan, kegagalan, maupun penolakan yang datang sebagai konsekuensi pilihan hidup dan sikap politik.

“Waktu kerap memberi ruang pada apa yang diambil dan ditinggalkan seseorang, juga menyajikan kisah tentang penerimaan atau kehilangan,” lanjutnya.

Namun, bagi Yusuf, bagian paling dramatis dari perjalanan waktu adalah ketika sejarah mulai menulis catatannya sendiri. Di titik inilah, menurutnya, manusia diuji pada level paling mendasar: apakah masih sanggup mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, atau justru mereduksi diri menjadi alat kekuasaan yang patuh tanpa nurani.

“Paling dramatis ketika waktu menulis sejarah, apakah seseorang masih sanggup menjadi manusia atau berganti menjadi tak ubahnya hewan ternak,” tegas Yusuf.

Pernyataan ini dinilai sebagai kritik simbolik terhadap praktik politik yang menyingkirkan akal sehat, etika, dan keberanian moral demi kenyamanan, jabatan, atau keselamatan pribadi. Dengan gaya satir yang tajam, Yusuf Blegur mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah netral terhadap sikap tunduk yang membutakan nurani.

Pernyataan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kekuasaan bersifat sementara, sementara catatan sejarah bersifat abadi. Apa yang dilakukan hari ini, menurut Yusuf, kelak akan dipilah oleh waktu: mana yang layak dikenang sebagai perjuangan, dan mana yang dicatat sebagai kepatuhan tanpa martabat.

“Sejarah tidak mencatat alasan, sejarah mencatat sikap,” demikian pesan yang tersirat dari pernyataan Yusuf Blegur.