News  

Roy Suryo: Ningrat Membumi, Mantan Pejabat yang Tetap Menjadi Aktivis

Roy Suryo jadi saksi kasus ijazah palsu Jokowi diperiksa di Polda Metro Jaya. (IST)

Kumisnya tipis. Tutur katanya lugas, apa adanya, tanpa lapisan basa-basi yang kerap melekat pada mantan pejabat negara. Ketika berbicara, mudah dipahami publik. Ketika dihubungi lewat WhatsApp (WA), ia menjawab. Itulah Roy Suryo—mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang akrab dipanggil Mas Roy oleh banyak orang.

Di tengah kultur politik Indonesia yang sering menjauhkan pejabat dari rakyat setelah kekuasaan berlalu, Roy Suryo justru berjalan berlawanan. Meski pernah duduk di kursi menteri dan menjadi anggota DPR, ia tetap tampil terbuka, egaliter, dan bersahaja. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat status.

Yang menarik, Roy Suryo bukan orang sembarangan. Ia berasal dari trah ningrat Keraton Yogyakarta. Darah bangsawan mengalir dalam dirinya. Namun, kebangsawanan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berjarak atau merasa lebih tinggi. Justru sebaliknya, latar belakang itulah yang tampak membentuk karakter keteduhan, keterbukaan, dan kesantunan dalam bergaul.

Banyak mantan pejabat berubah setelah tak lagi berada di lingkar kekuasaan. Akses dibatasi, komunikasi berjarak, bahkan sekadar menyapa pun sulit. Roy Suryo tidak demikian. Dalam keseharian, ia tetap mudah dihubungi, responsif, dan tidak canggung berdialog dengan siapa pun—baik akademisi, aktivis, jurnalis, maupun masyarakat biasa.

Sikap inilah yang membuat banyak orang merasa nyaman dan menaruh respek. Tidak ada kesan “mantan menteri” yang harus selalu diperlakukan istimewa. Ia hadir sebagai manusia biasa yang kebetulan pernah memegang jabatan publik.

Dalam pergaulan aktivis dan pergerakan, Roy Suryo tidak memosisikan diri sebagai tokoh yang harus didengar tanpa bantahan. Ia berdiskusi, berdebat, bahkan tertawa bersama. Beberapa kali terlibat dalam rapat-rapat pergerakan, ia hadir bukan sebagai simbol kekuasaan masa lalu, melainkan sebagai kawan seperjuangan.

Egalitarianisme Roy Suryo bukan tempelan citra. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah sementara, sedangkan relasi kemanusiaan bersifat permanen. Ia memahami betul bahwa jabatan datang dan pergi, tetapi integritas dan sikap hidup akan selalu melekat.

Dalam diskusi-diskusi, Roy Suryo kerap berbicara dengan bahasa yang lugas dan langsung ke pokok persoalan. Tidak berputar-putar. Tidak bersembunyi di balik jargon. Hal ini membuat pandangannya mudah dipahami, bahkan oleh publik awam sekalipun. Ia tidak membangun jarak intelektual, justru berupaya meruntuhkan sekat agar diskursus bisa dinikmati bersama.

Sikap terbuka ini pula yang membuatnya tetap relevan di ruang publik, meski tak lagi menjabat. Ia hadir sebagai warga negara yang aktif, kritis, dan berani menyampaikan pandangan—termasuk ketika berbeda dengan arus utama.

Di Yogyakarta, konsep ningrat sering identik dengan tata krama, unggah-ungguh, dan kebijaksanaan. Roy Suryo membawa nilai-nilai itu ke ruang publik dengan cara yang sangat modern. Tidak kaku. Tidak elitis. Ia memadukan tradisi dan keterbukaan zaman.

Trah ningrat tidak membuatnya merasa harus dijaga jaraknya. Justru ia menjadikannya fondasi etika: menghormati siapa pun, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan berbicara tanpa merendahkan. Dalam pergaulan, ia mudah bercengkerama, mencairkan suasana, dan membangun kedekatan emosional.

Bagi banyak aktivis, pengalaman bercengkerama langsung dengan Roy Suryo—baik dalam rapat, diskusi, maupun komunikasi personal—meninggalkan kesan mendalam. Ada rasa setara. Ada rasa dihargai. Dan itu bukan sesuatu yang mudah ditemukan dari figur publik berlatar belakang kekuasaan.

Pada akhirnya, Roy Suryo adalah contoh bahwa kekuasaan tidak harus mengubah watak dasar seseorang. Ia tetap Roy Suryo yang sama: terbuka, komunikatif, kritis, dan bersahaja. Jabatan menteri dan kursi parlemen adalah bagian dari perjalanan hidupnya, bukan identitas tunggal yang mengunci dirinya.

Rasa nyaman dan respek yang tumbuh bukan karena status atau jabatan masa lalu, melainkan karena sikap hidup yang konsisten. Sikap itulah yang menggerakkan hati banyak orang—bahwa di tengah kerasnya politik dan hiruk-pikuk kekuasaan, masih ada figur yang memilih tetap membumi.

Roy Suryo mengajarkan satu hal sederhana namun langka: menjadi besar tanpa harus menjauh, dan menjadi ningrat tanpa kehilangan kesederhanaan.

Oleh: Yusuf Blegur