Bursa saham Indonesia rontok. Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ramai-ramai mengundurkan diri. Isyarat ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja.
Pengunduran bos BEI dan OJK merupakan bentuk tanggung jawab atas sejumlah gejolak ekonomi yang menghantui Indonesia akhir-akhir ini. Terutama babak belurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada sesi pembukaan perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, pukul 09.59 WIB IHSG tercatat turun 835,20 poin atau 10,04 persen ke level 7.485,35.
Babak belurnya IHSG memaksa otoritas bursa untuk menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026).
Sinyal kuat ada yang tak beres dengan ekonomi Indonesia. Jauh dari yang digembar-gemborkan Prabowo ketika berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WE’F), 22 Januari 2026 di Davos, Swiss.
Bukan saja pasar modal yang rontok. Pasar uang Indonesia sudah lebih dulu rontok. Rupiah ambruk. Di negara Asia Tenggara rupiah paling dalam masuk jurang. Rupiah terperosok mendekati Rp4.300 terhadap Ringgit Malaysia.
Saat Prabowo-Gibran dilantik. Satu ringgit Malaysia Rp3.700. Berkuasa selama 15 bulan, rupiah terhadap ringgit Malaysia anjlok ke Rp4.285. Lawan mata uang Malaysia saja tertekan jauh.
Lebih parah lagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada saat Prabowo-Gibran dilantik saja rupiah anjlok 0,19 persen. Rupiah ditutup di level Rp15.490 per dolar AS dari Rp15.420. Terus merosot hingga hari ini mendekati Rp17.000/USD. Pasar merespon negatif pelantikan Prabowo-Gibran.
Menurut ekonom Bright Institute, Awalil Rizky nilai tukar rupiah berpotensi melemah tajam hingga menembus Rp20.000 per dolar AS pada 2026 jika kondisi transaksi internasional Indonesia terus memburuk dan tidak diantisipasi secara serius oleh pemerintah maupun Bank Indonesia.
Ekonom senior itu mengingatkan pelemahan rupiah sangat mungkin terjadi pada dua periode krusial, yakni Maret-April serta September-Oktober 2026 yang menurutnya menjadi titik ujian ketahanan eksternal perekonomian nasional
Dikutip dari Youtube Awalil Rizky, Sabtu, 3 Desember 2026, “Kalau tidak antisipatif, tidak sense of crisis, tidak ada mitigasi risiko yang memadai, hal buruk bisa terjadi rupiah di bulan-bulan itu tembus ke 19.000 atau 20.000.”
Prabowo-Gibran terancam. Ekonomi Indonesia tak seindah retorika Prabowo di Forum Ekonomi Dunia. Krisis ekonomi Indonesia diujung mata. Makin salah urus, ekonomi Indonesia tidak menutup kemungkinan rezim Prabowo-Gibran jatuh sebelum 2029.
Jakarta, 14 Sya’ban 1447/2 February 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












