Partai Gerakan Rakyat Mengisi Ruang Yang Ditinggalkan Partai Politik

Satu hal yang bikin Partai Gerakan Rakyat besar. Mengisi ruang yang ditinggalkan oleh partai politik parlemen. Ruang aspirasi rakyat. Plus, Anies Baswedan sebagai ikon Partai Gerakan Rakyat.

Sebagaimana kita ketahui parlemen Indonesia hasil Pemilu 2024 diisi oleh 8 partai, yaitu PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem, PKB, PAN, PKS dan Partai Demokrat. Maaf, dari 8 partai tersebut hanya menyisakan PDIP sebagai partai penyeimbang. 7 partai telah bergabung sebagai partai penguasa.

Jangan heran! Bila parlemen sekarang, DPR tak lebih dari “tukang” stempel Pemerintah. Suara-suara kritis yang mewakili suara rakyat dari gedung parlemen jarang bahkan tak pernah kita dengar lagi.

Menyisakan “partai jalanan”. Semoga saja Partai Gerakan Rakyat tidak hanya menjadi pelengkap aspirasi “partai jalanan” melainkan menjadi garda terdepan menyuarakan ketidakadilan yang dinanti dan dirindukan oleh rakyat.

Gedung parlemen tak lebih dari tempat, maaf, bagi-bagi “jatah”. Partai ini dapat “jatah” A. Partai itu dapat “jatah” B. Sebut saja operasi senyap tak terdengar rakyat. Jatah Hakim Konstitusi dari partai tertentu. Tahu-tahunya sudah ketuk palu.

Belum lagi “partai cokelat” yang sebenarnya punya jaringan anggota dewan. Baik langsung atau tidak langsung terafiliasi dengan “partai cokelat”. Meski aslinya ia masuk parlemen melalui partai. Titipan “partai cokelat” sebagai fraksi bayangan di DPR.

Contohnya. Ketika rakyat dan Komite Reformasi Polri lantang menyuarakan Polri dibawah kementerian. Dari gedung DPR nyaring sambil mengancam terdengar teriakan lebih baik jadi “petani” bila Polri tidak dibawah Presiden. Ngotot amah sih. Curiga! Ada agenda terselubung.

Padahal, TNI saja dibawah Kementerian Pertahanan. Apa istimewanya Polri “memaksa” dibawah Presiden? Tupoksinya hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Lebih dari 10 tahun terakhir hingga dicap sebagai “partai cokelat” yang pengaruhnya mengalahkan TNI. Hingga rakyat saking kesalnya memplesetkan NKRI menjadi Negara Kepolisian Republik Indonesia.

Partai Gerakan Rakyat harus berani ambil posisi. Mengisi ruang yang ditinggalkan partai politik. Menyuarakan aspirasi rakyat. Mengembalikan kedaulatan rakyat. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menghentikan cawe-cawe politik yang merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Penulis meyakini Partai Gerakan Rakyat akan besar bila mengambil peran yang seharusnya dilakukan oleh partai politik yang ada saat ini. Kehilangan independensi.

Ruang itu, ruang rakyat yang hanya ramai di media sosial dan “jalanan” karena tersumbatnya aspirasi rakyat. Terkooptasinya partai politik oleh kekuasaan dan oligarki. Ketua umumnya tersandera kasus korupsi.

Rakyat menanti dan merindukan sebuah partai politik yang benar-benar menyuarakan aspirasi rakyat. Bukan hanya saat Pemilu. Tapi ketika mereka sudah menyandang predikat “dewan terhormat” tetap setia bersama rakyat.

Semoga Partai Gerakan Rakyat bisa menjawab masa penantian dan kerinduan rakyat terhadap proses politik yang adil, transparan dan benar-benar pro rakyat! Mengisi ruang yang selayaknya dilakukan partai politik.

Bandung, 15 Rajab 1447/3 Februari 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis