News  

Tragedi Buku Sekolah, Yusuf Blegur Sebut Negara Telah Membunuh Masa Depan Anak

Yusuf Blegur (IST)

Aktivis dan pengamat sosial Yusuf Blegur melontarkan kritik keras terhadap negara menyusul tragedi meninggalnya seorang anak Sekolah Dasar berusia 10 tahun yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku pelajaran.

Dalam pernyataannya yang disampaikan di Bekasi, Rabu (4/2/2026), Yusuf Blegur menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang menghancurkan moral bangsa dan menjadi bukti nyata kegagalan negara dalam menjamin hak dasar warganya, terutama hak atas pendidikan.

“Republik ini terlalu sering berkoar soal nasionalisme dan patriotisme, sampai pada titik seorang anak SD berusia 10 tahun harus mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli sebuah buku,” tegas Yusuf Blegur.

Menurutnya, tidak ada lagi kalimat kemanusiaan yang cukup pantas untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Ia menilai kematian anak itu bukan sekadar tragedi personal, melainkan produk dari sistem yang melahirkan kemiskinan dan kebodohan struktural.

Yusuf menegaskan, ironi ini terjadi di tengah klaim negara sebagai bangsa kaya sumber daya alam, tanah yang subur, dan budaya gotong royong yang kuat. Namun realitas di lapangan justru memperlihatkan negara gagal hadir saat warganya paling membutuhkan.

“Negara ini bukan hanya memiskinkan rakyatnya, tapi dalam kondisi tertentu telah membunuh rakyatnya secara sistemik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik penyelenggaraan negara yang menurutnya telah mengalami distorsi serius. Yusuf menyebut adanya tangan-tangan kotor dan pikiran-pikiran jahat dalam kekuasaan yang mengangkangi nilai kemanusiaan.

“Para pemangku kepentingan publik dengan biadab terus melakukan apa yang bisa disebut sebagai state organized crime, sambil menyerukan kemajuan dan kebaikan bangsa yang semu,” kata dia.

Di tengah gelombang korupsi aparat negara, arogansi pejabat, dan praktik kekuasaan yang menindas, Yusuf menilai negara telah kehilangan sensitivitas moral. Akibatnya, kematian seorang anak yang bercita-cita menggapai masa depan melalui pendidikan pun tak mampu dicegah.

“Seorang tunas bangsa gugur bukan karena perang, bukan karena bencana alam, tetapi karena tak sanggup membeli buku,” ujarnya lirih.

Yusuf Blegur menutup pernyataannya dengan menyebut tragedi ini sebagai tamparan keras bagi spirit Pancasila yang selama ini digaungkan, namun kerap kehilangan makna dalam praktik bernegara.

“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati rakyat yang selama ini bernaung di bawah nilai-nilai Pancasila,” pungkasnya.