News  

Potret Ekonomi yang Tak Ramah Rakyat

Nano Hendi Hartono (IST)

Di tengah deru pertumbuhan yang kerap dipamerkan lewat angka-angka statistik, wajah ekonomi Indonesia justru menyimpan ironi yang tak mudah disangkal. Grafik boleh menanjak, indikator makro boleh stabil, tetapi denyut kehidupan rakyat kecil tetap berjalan tertatih. Di pasar tradisional, di gang sempit perkotaan, hingga di desa yang perlahan kehilangan ruang hidupnya, ekonomi terasa semakin jauh dari rasa keadilan.

Pertumbuhan ekonomi yang selama ini diagungkan seolah menjadi menara gading—indah dipandang dari kejauhan, namun sulit dijangkau oleh mereka yang berada di bawah. Narasi keberhasilan pembangunan kerap berhenti pada data, bukan pada pengalaman nyata masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, sementara pendapatan stagnan, rakyat dipaksa bertahan dengan logika penghematan yang makin menyakitkan.

Fenomena ini menunjukkan adanya jurang antara ekonomi makro dan realitas mikro. Negara mungkin berhasil menjaga stabilitas inflasi dalam batas tertentu, tetapi stabilitas itu tidak selalu identik dengan kesejahteraan. Bagi buruh harian, pedagang kecil, atau petani gurem, satu kenaikan harga beras saja dapat mengubah keseimbangan hidup keluarga mereka. Statistik tidak pernah benar-benar mampu menangkap kecemasan semacam itu.

Di sisi lain, konsentrasi kekayaan yang semakin mengerucut menjadi persoalan serius. Pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelompok yang telah memiliki akses terhadap modal, jaringan, dan kekuasaan. Sementara itu, kelompok rentan justru semakin sulit keluar dari lingkaran kemiskinan struktural. Ketimpangan bukan sekadar angka rasio gini, melainkan realitas sosial yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini diperparah oleh arah pembangunan yang cenderung berorientasi pada investasi besar dan proyek infrastruktur berskala masif. Infrastruktur memang penting, tetapi tanpa distribusi manfaat yang adil, ia hanya menjadi monumen kemajuan yang tidak sepenuhnya menyentuh rakyat. Jalan tol mungkin mempercepat mobilitas logistik, namun belum tentu mempercepat peningkatan kesejahteraan petani di desa yang lahannya tergerus.

Lebih jauh lagi, transformasi digital yang digadang-gadang sebagai masa depan ekonomi juga menyimpan paradoks. Di satu sisi membuka peluang baru, di sisi lain menciptakan eksklusi bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi dan literasi digital. Ekonomi digital bisa menjadi mesin pertumbuhan, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak diiringi kebijakan inklusif.

Dalam konteks ini, negara seharusnya hadir bukan sekadar sebagai pengatur pasar, melainkan sebagai penjamin keadilan sosial. Kebijakan ekonomi tidak cukup hanya mengejar efisiensi dan pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan distribusi manfaat yang merata. Tanpa keberpihakan nyata pada rakyat kecil, pembangunan hanya akan melahirkan kemajuan yang timpang.

Rakyat sesungguhnya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya berharap harga terjangkau, pekerjaan layak, dan masa depan yang tidak dipenuhi ketidakpastian. Harapan yang sederhana, namun justru terasa semakin jauh. Ketika ruang hidup ekonomi makin sempit, kepercayaan terhadap sistem pun perlahan tergerus.

Sejarah menunjukkan bahwa ketimpangan yang dibiarkan terlalu lama dapat memicu kegelisahan sosial. Stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan, tetapi juga oleh rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Tanpa itu, fondasi pembangunan menjadi rapuh, betapapun kokohnya indikator makro yang ditampilkan.

Karena itu, potret ekonomi hari ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Apakah pembangunan benar-benar diarahkan untuk manusia, atau sekadar untuk angka dan kepentingan segelintir pihak? Pertanyaan ini penting dijawab, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh pemangku kepentingan bangsa.

Ekonomi yang ramah rakyat bukanlah utopia. Ia bisa diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada sektor riil, perlindungan sosial yang kuat, serta pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Keadilan distribusi harus menjadi pusat orientasi, bukan sekadar pelengkap retorika.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak diukur dari seberapa tinggi pertumbuhan, melainkan seberapa luas kesejahteraan dirasakan. Jika rakyat kecil masih merasa asing di negeri yang kaya sumber daya, maka ada yang keliru dalam arah pembangunan kita.

Potret ekonomi yang tak ramah rakyat bukan sekadar kritik, melainkan panggilan untuk memperbaiki jalan. Sebab tanpa keberpihakan pada mereka yang paling lemah, kemajuan hanya akan menjadi cerita—bukan kenyataan.

Oleh: Nano Hendi Hartono, wartawan senior