News  

Daya Saing Global Rendah, Tak Ada Satupun Kampus Indonesia Tembus 100 Besar Dunia

Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J Rachbani menyayangkan rendahnya daya saing global perguruan tinggi Indonesia yang mengakibatkan tidak ada satu pun kampus Indonesia yang mampu menembus peringkat 100 besar dunia. Kondisi tersebut kontras dengan capaian universitas di negara tetangga.

Ini tidak terlepas dari kebijakan pendidikan tinggi yang membebani perguruan tinggi negeri (PTN) dengan tuntutan pembiayaan operasional, sehingga mengorbankan mutu akademik dan riset.

“Tidak ada kampus Indonesia terdepan yang mencapai ranking 100 dunia. University of Malaya sudah berada di peringkat 58 dunia. Singapura bahkan menempatkan National University of Singapore (NUS) di peringkat 8 dan Nanyang Technological University (NTU) di peringkat 12 dunia,” ujar Didik, Rabu (11/2/2026).

Ia menilai ketertinggalan ini terjadi karena PTN besar di Indonesia terlalu sibuk mengejar penerimaan mahasiswa baru dalam jumlah besar, demi meningkatkan pendapatan untuk menutup biaya operasional kampus.

Menurut Didik, kebijakan yang mendorong PTN khususnya yang berstatus PTNBH mencari pendanaan sendiri, telah menempatkan kampus dalam situasi sulit. Alih-alih fokus pada riset dan reputasi global, PTN justru dipaksa menjadi kampus pengajaran massal.

“Kebijakan ini membunuh pelan-pelan kampus PTN utama karena diberi beban menutup biaya operasionalnya sendiri,” jelasnya.

Ia juga mengkritik alokasi anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen yang dinilainya tidak sepenuhnya digunakan untuk memperkuat pendidikan tinggi.

“Dana pendidikan dicabik-cabik hilang masuk ke berbagai kegiatan yang dikaitkan dengan pendidikan, tetapi sebenarnya berada di luar inti pendidikan,” tuturnya.

“Kebijakan ini sudah salah arah karena akan menggerus mutu akademik dan melemahkan peran strategis PTN dan tertinggal jauh dari kampus-kampus negara tetangga Malaysia dan Singapura,” sambungnya.(Sumber)