News  

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Targetkan Indonesia Hanya Impor Minyak Mentah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan target Indonesia ke depan hanya mengimpor minyak mentah (crude), sementara seluruh produk turunannya diproduksi di dalam negeri. Kebijakan ini menjadi bagian dari desain besar ketahanan dan kedaulatan energi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil menjelaskan, strategi tersebut ditempuh melalui peningkatan lifting minyak, penguatan kapasitas kilang, program campuran bahan bakar nabati, serta percepatan hilirisasi migas. Pemerintah ingin menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) secara bertahap.

Jelang Ramadhan Harga Bahan Pokok Melonjak Tajam, DPRD DIY Minta Operasi Pasar Viral Warganya Menjerit Pajak Kendaraan Naik Drastis, Gubernur Jateng Instruksikan Kajian Diskon Gibran Koruptor Harus Dimiskinkan
“Maka yang akan kita lakukan, di samping menaikkan lifting, kita dorong etanol E20 pada 2028. Dengan demikian impor kita akan berkurang. Semua desain besar ini kita arahkan agar ke depan kita hanya impor crude. Barang jadi semuanya diproduksi di dalam negeri, termasuk avtur,” kata Menteri ESDM di Jakarta, dikutip Sabtu (14/2/2025).

Ia memaparkan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Produksi dalam negeri baru sekitar 14 juta kiloliter sehingga impor masih berada di kisaran 25 juta kiloliter. Menurut Bahlil, tanpa terobosan kebijakan, ketergantungan tersebut sulit ditekan. Program etanol E20 pada 2028 disiapkan untuk mengurangi impor bensin sekaligus memperkuat bauran energi domestik.

Untuk avtur, pemerintah menargetkan penghentian impor mulai 2026. Produksi dalam negeri akan diperkuat melalui optimalisasi kilang dan peningkatan kapasitas infrastruktur penyimpanan. “Avtur akan kita dorong 2026 tidak lagi impor. Termasuk bensin RON 92, 95, dan 98,” ujarnya.

Pada komoditas solar, konsumsi nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Produksi domestik sekitar 16 juta kiloliter yang diperkuat melalui program biodiesel B40. Menurut Bahlil, operasi RDMP Balikpapan menopang peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

“Untuk C48, alhamdulillah mulai tahun ini kita tidak impor lagi,” tuturnya.

Di sektor hulu migas, Bahlil memetakan tren produksi minyak nasional. Pada 1996–1997, lifting minyak Indonesia pernah mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari ketika konsumsi domestik sekitar 510 ribu barel per hari, sehingga ekspor mencapai sekitar 1 juta barel per hari.

Dalam dua dekade terakhir, lifting terus menurun dan target APBN kerap tidak tercapai. Pada 2025, target lifting kembali sesuai APBN setelah pembenahan sumur tua dan percepatan sejumlah proyek.

Dari sekitar 40 ribu sumur minyak nasional, hanya 18 ribu yang aktif berproduksi. Pemerintah menyiapkan kolaborasi teknologi untuk optimalisasi sumur tua, menawarkan wilayah kerja yang belum digarap, serta memberikan ultimatum kepada 301 wilayah kerja yang telah selesai eksplorasi tetapi belum berproduksi.(Sumber)