News  

​Membawa Indonesia ke Panggung Dunia

Keterlibatan Heru Dewanto di World Federation of Engineering Organizations (WFEO)—sebuah organisasi internasional yang menaungi lebih dari 100 negara dan mewakili 30 juta insinyur—menandai babak baru bagi Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

​Sebagai perwakilan pertama dan (saat itu) satu-satunya dari Indonesia yang menduduki posisi strategis di level eksekutif (Executive Board), Heru mengemban misi besar: memastikan bahwa standar keteknikan Indonesia setara dengan standar global.

​Peran Strategis di WFEO

​Selama masa baktinya, Heru tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi aktif dalam perumusan kebijakan global. Beberapa sorotan utamanya meliputi:

1. ​Penyusunan Standar Kompetensi: Ia terlibat aktif dalam meninjau Graduate Attributes and Professional Competencies (GAPC) yang menjadi acuan pendidikan teknik dunia di bawah UNESCO.

2. ​Diplomasi Teknik: Melalui posisinya, ia berhasil meyakinkan komunitas internasional bahwa pembangunan infrastruktur masif di Indonesia didukung oleh tenaga ahli yang memenuhi kualifikasi internasional.

3. ​Keberlanjutan (Sustainability): Menyelaraskan peran insinyur lokal dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB melalui kerangka kerja WFEO.

4. ​Warisan: Dari Lokal ke Global
​Langkah Heru di WFEO adalah manifestasi dari visi “Insinyur Indonesia Mendunia”. Keberadaannya di sana membuktikan bahwa hambatan bahasa dan birokrasi internasional dapat ditembus dengan kompetensi dan visi yang kuat.

​”Kehadiran Heru Dewanto di WFEO adalah jembatan yang menghubungkan realitas pembangunan di Indonesia dengan standar kualitas global.”

5. ​Dampak bagi Insinyur Indonesia
​Pengakuan Internasional: Memudahkan mobilitas insinyur Indonesia untuk bekerja di luar negeri melalui penyelarasan akreditasi.

6. ​Kepemimpinan: Menginspirasi generasi muda insinyur Indonesia bahwa puncak karier profesional tidak hanya berhenti di level nasional, tapi hingga ke federasi dunia.

​Heru Dewanto telah meletakkan fondasi yang kokoh. Sebagai perwakilan pertama, ia memastikan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar teknologi, tetapi juga ikut menentukan arah masa depan dunia teknik internasional.