News  

Perang Iran–Amerika Picu Ancaman Krisis Energi Global, Indonesia Terancam Beban Subsidi BBM Rp. 300 Triliun

Konflik yang melibatkan Donald Trump, Benjamin Netanyahu, dan Iran berpotensi memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Pemerhati kebijakan publik Syafril Sjofyan menilai eskalasi perang di kawasan Timur Tengah dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 200 dolar AS per barel jika konflik meluas menjadi perang regional.

Menurut Syafril, tanda-tanda gejolak pasar energi sudah terlihat sejak awal Maret 2026. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 80 dolar AS per barel melonjak menjadi sekitar 93 dolar AS ketika konflik mulai meningkat.

“Jika konflik hanya terbatas, harga minyak diperkirakan naik ke kisaran 100–115 dolar. Tetapi jika perang berlangsung lama dan jalur energi terganggu, harga bisa naik hingga 120–150 dolar. Bahkan jika berubah menjadi perang regional, harga bisa melonjak hingga 150–220 dolar per barel,” ujarnya dalam keterangannya di Bandung, Minggu (9/3/2026).

Ancaman Besar bagi Indonesia

Syafril menjelaskan, Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Produksi minyak nasional saat ini hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Ketimpangan tersebut membuat Indonesia sangat bergantung pada impor energi.

“Jika harga minyak melonjak, subsidi BBM berpotensi membengkak hingga Rp200–300 triliun. Ini akan menjadi tekanan berat bagi APBN,” kata Syafril.

Selain itu, kapasitas cadangan energi nasional juga terbatas. Stok penyimpanan minyak di Indonesia hanya cukup untuk sekitar 20–25 hari, sehingga gangguan pasokan global bisa cepat berdampak pada stabilitas energi domestik.

Potensi “Shock Energi” Terbesar

Konflik yang melibatkan Iran dinilai sangat strategis karena terkait dengan jalur distribusi minyak dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Jika jalur itu ditutup akibat perang, pasokan minyak global bisa berkurang hingga 20 juta barel per hari.

Syafril membandingkan kondisi ini dengan beberapa krisis energi besar dalam sejarah.

Pada Krisis Minyak 1973, dunia kehilangan sekitar 4–5 juta barel per hari. Sedangkan pada Perang Teluk 1990, pasokan global berkurang sekitar 4 juta barel per hari.

“Jika konflik Iran meningkat dan Selat Hormuz ditutup, kehilangan pasokan bisa mencapai 20 juta barel per hari. Ini akan menjadi shock energi terbesar dalam sejarah modern,” jelasnya.

Infrastruktur Energi Jadi Target

Syafril juga menyoroti bahwa perang yang terjadi tidak hanya berupa pertempuran militer, tetapi juga menyerang infrastruktur energi.

Sejumlah kilang minyak di Timur Tengah dilaporkan menjadi target serangan, termasuk fasilitas energi di Iran, Arab Saudi, dan bahkan wilayah Israel.

Kerusakan kilang minyak, menurutnya, dapat memerlukan waktu pemulihan antara 6 hingga 12 bulan.

Selain itu, gangguan juga berpotensi terjadi di jalur pelayaran energi global lain seperti:

Laut Merah

Teluk Aden

Bab el-Mandeb

Jika jalur-jalur ini terganggu, distribusi energi dunia bisa lumpuh sebagian.

Dampak Besar bagi China

Menurut Syafril, negara yang paling terdampak jika produksi minyak Iran terganggu adalah China.

China membeli sekitar 80–90 persen ekspor minyak Iran, dengan volume ekspor Iran sekitar 1,2–1,8 juta barel per hari.

Banyak kilang kecil di China bergantung pada minyak Iran karena harganya lebih murah sekitar 5–10 dolar per barel dibanding harga pasar.

“Jika minyak Iran hilang dari pasar, biaya manufaktur China akan meningkat, ekspor menjadi lebih mahal, dan pertumbuhan ekonominya bisa melambat,” kata Syafril.

Pemenang dan Korban Krisis Energi

Di tengah potensi krisis energi global, beberapa negara produsen justru berpotensi mendapat keuntungan besar.

Amerika Serikat sendiri saat ini merupakan produsen minyak terbesar dunia melalui produksi shale oil. Harga minyak tinggi akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan energi Amerika.

Selain Amerika Serikat, negara yang juga berpotensi mendapat keuntungan dari lonjakan harga energi antara lain:

Rusia

Arab Saudi

Norwegia

Sementara negara-negara yang paling terpukul adalah negara yang sangat bergantung pada impor energi, terutama di kawasan Asia.

Beberapa di antaranya adalah:

Jepang

Korea Selatan

India

Pakistan

Bangladesh

Filipina

Indonesia

Desakan Sikap Politik Indonesia

Dalam pandangannya, Presiden Prabowo Subianto harus mengambil langkah tegas menghadapi situasi global yang berpotensi memicu krisis energi tersebut.

Syafril menilai Indonesia perlu berperan aktif dalam mendorong penghentian konflik agar tidak berkembang menjadi perang regional.

“Jika konflik ini terus berlanjut dan harga energi melonjak, dampaknya akan langsung dirasakan rakyat. Pemerintah harus bersikap tegas dalam diplomasi internasional,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa krisis energi dapat memicu dampak ekonomi luas, mulai dari lonjakan inflasi hingga tekanan sosial di berbagai negara.

“Jika krisis energi benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat besar bagi stabilitas ekonomi dan sosial global,” kata Syafril.