News  

Gus Umar Soroti Kasus Munir hingga Andrie Yunus: Dalang Kekerasan terhadap Aktivis Kritis Masih Gelap

Tokoh NU, Umar Hasibuan atau Gus Umar

Aktivis Nahdlatul Ulama, Umar Hasibuan atau yang akrab disapa Gus Umar, kembali menyoroti deretan kasus kekerasan terhadap aktivis dan tokoh kritis di Indonesia yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.

Dalam pernyataannya, Gus Umar menyebut nama-nama seperti Munir Said Thalib, Novel Baswedan, hingga Andrie Yunus sebagai simbol korban kekerasan terhadap mereka yang vokal menyuarakan keadilan.

“Munir, Novel Baswedan, Andrie Yunus—mereka adalah korban kejamnya kekerasan terhadap orang-orang kritis. Tapi sampai sekarang, pelaku dan dalangnya masih belum jelas siapa,” ujar Gus Umar, Jumat (20/3/2026).

Kasus pembunuhan Munir pada 2004 menjadi salah satu pelanggaran HAM paling disorot dalam sejarah Indonesia. Meskipun beberapa pelaku telah diproses hukum, banyak pihak menilai dalang utama di balik peristiwa tersebut belum tersentuh.

Sementara itu, Novel Baswedan mengalami penyiraman air keras pada 2017 yang menyebabkan kerusakan permanen pada matanya. Meski pelaku telah divonis, kontroversi terkait aktor intelektual di balik serangan tersebut masih menjadi perdebatan publik.

Kasus terbaru yang disinggung adalah kekerasan terhadap Andrie Yunus, aktivis HAM yang juga mengalami serangan air keras. Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran terhadap keselamatan para pejuang hak asasi manusia di Indonesia.

Gus Umar menegaskan, negara harus hadir secara serius dalam menuntaskan kasus-kasus tersebut secara transparan dan berkeadilan. Ia menilai, ketidakjelasan penuntasan justru dapat memperkuat kesan adanya impunitas terhadap pelaku kekerasan.

“Kalau ini terus dibiarkan, maka pesan yang muncul adalah siapa pun yang kritis bisa menjadi target, dan pelakunya tidak akan benar-benar tersentuh hukum,” tegasnya.

Pernyataan ini pun kembali membuka diskursus publik terkait perlindungan terhadap aktivis, penegakan hukum, serta komitmen negara dalam menjaga demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia.