News  

Pengamat Intelijen dan Geopolitik: Presiden Prabowo Membangkitkan Rakyat Cinta dan Mengabdi Bangsa

Amir Hamzah (IST)

Seruan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh elemen masyarakat memperkuat sikap patriotik dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat fondasi bangsa di tengah dinamika global yang kian kompleks dan penuh tekanan.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai pernyataan Prabowo yang menegaskan bahwa “tidak ada tempat bagi yang tidak patriotik” bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal kuat arah kebijakan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan karakter dan loyalitas kebangsaan.

Menurut Amir, dalam perspektif intelijen, patriotisme merupakan elemen kunci dalam membangun ketahanan nasional. Negara dengan tingkat patriotisme rendah akan lebih rentan terhadap infiltrasi kepentingan asing, baik melalui jalur ekonomi, politik, hingga budaya. Dalam konteks ini, Indonesia harus memperkuat daya tahan internalnya agar tidak mudah terpengaruh oleh tarik-menarik kepentingan global.

Ia menjelaskan, posisi strategis Indonesia di tengah rivalitas kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat dan China membuat penguatan patriotisme menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa kesadaran kolektif rakyat untuk mencintai dan mengabdi pada bangsa, Indonesia berisiko hanya menjadi objek dalam percaturan geopolitik internasional.

Lebih jauh, Amir melihat seruan patriotisme juga merupakan bagian dari upaya konsolidasi internal negara. Dalam analisa intelijen, stabilitas domestik menjadi prasyarat utama menghadapi tekanan eksternal. Ia menyoroti sejumlah tantangan yang saat ini dihadapi, mulai dari fragmentasi sosial pasca pemilu, maraknya disrupsi informasi di ruang digital, hingga ketergantungan ekonomi pada pihak asing.

“Pesan patriotisme ini adalah upaya menyatukan kembali energi bangsa. Ini bukan hanya soal semangat, tetapi strategi untuk memperkuat kohesi nasional,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Terkait pernyataan bahwa tidak ada tempat bagi yang tidak patriotik, Amir menilai hal tersebut sebagai peringatan keras. Dalam perspektif intelijen, kelompok yang tidak memiliki loyalitas terhadap negara berpotensi menjadi pintu masuk bagi pengaruh asing, penyebar disinformasi, atau bahkan penghambat kebijakan strategis nasional.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa patriotisme di era modern tidak lagi dimaknai secara sempit atau militeristik. Patriotisme kini bertransformasi dalam berbagai bentuk, mulai dari mendukung produk dalam negeri sebagai wujud kemandirian ekonomi, menjaga ruang digital dari hoaks dan propaganda, hingga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Di era sekarang, mencintai bangsa tidak selalu berarti angkat senjata. Bekerja profesional, taat hukum, dan menjaga persatuan juga merupakan bentuk nyata pengabdian,” jelasnya.

Meski begitu, Amir mengingatkan bahwa upaya membangun patriotisme harus dibarengi dengan keteladanan dari negara. Kepercayaan publik menjadi faktor utama. Tanpa kepemimpinan yang bersih, keadilan sosial, dan penegakan hukum yang konsisten, seruan patriotisme berpotensi tidak efektif.

Pada akhirnya, ia menilai langkah Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi besar untuk memastikan Indonesia tetap kuat, berdaulat, dan mampu berdiri sebagai subjek dalam percaturan global.

“Jika rakyat mencintai dan mengabdi pada bangsa, maka negara akan kokoh. Dalam dunia intelijen, kekuatan internal seperti itulah pertahanan paling utama,” pungkas Amir Hamzah.