News  

Polisi Ringkus Ratusan Mafia Perekrut Anak Untuk Lakukan Kejahatan Berat

k Belanda, NOS, yang dirilis pada Selasa (28/4/2026), mengungkapkan bahwa investigasi besar-besaran tengah dilakukan. Selain 280 orang yang sudah mendekam di balik jeruji besi, otoritas keamanan kini sedang membidik sekitar 1.400 orang lainnya yang diduga kuat berperan sebagai perekrut atau bagian dari sel jaringan kriminal tersebut.

Dari ratusan orang yang ditangkap, lebih dari separuhnya diidentifikasi berperan sebagai perekrut. Sisanya adalah pelaku yang terlibat langsung dalam aksi kekerasan di lapangan. Jenis kejahatan yang dilakukan pun sangat mengerikan dan jauh dari jangkauan nalar untuk dilakukan oleh anak-anak. Mulai dari ancaman, pemukulan, pembakaran, peledakan, penembakan, hingga pembunuhan berencana.

Kepala Unit Europol untuk Kejahatan Terorganisir Serius, Andy Kraag, memberikan peringatan keras bahwa tren ini menyebar dengan kecepatan yang sangat menakutkan. Ia menggambarkan situasi ini layaknya api yang menjalar di tengah padang rumput kering.

“Tren ini menyebar seperti api yang menjalar. Hal yang paling miris adalah usia para pelaku yang semakin muda, bahkan melibatkan anak-anak yang baru berusia 13 hingga 14 tahun, namun dengan tingkat kekerasan yang terus bertambah,” ungkap Kraag dengan nada prihatin.

Snapchat Menjadi Alat Perekrutan Paling Rawa

Modus operandi yang dijalankan oleh jaringan ini tergolong rapi dan sulit dideteksi secara konvensional. Mereka memanfaatkan platform pesan instan seperti Snapchat untuk menyebarkan perintah kejahatan. Berdasarkan data intelijen Europol, setidaknya terdapat 14.000 akun media sosial yang telah teridentifikasi digunakan secara aktif untuk mengoordinasikan aksi-aksi kriminal tersebut.

Kejahatan terorganisir model baru ini dinilai sangat berbahaya karena sifatnya yang lintas negara. Seorang perekrut di satu negara bisa saja memberikan perintah eksekusi kepada anak di bawah umur di negara lain melalui aplikasi terenkripsi. Hal ini menciptakan tantangan besar bagi penegak hukum karena berkembang sangat cepat dan meluas secara geografis.

Tantangan Besar Bagi Keamanan Global
Europol, sebagai garda terdepan kepolisian Uni Eropa yang mendukung 27 negara anggota, kini terus memperkuat koordinasi operasional dan analisis intelijen. Fokus utama mereka saat ini adalah memerangi terorisme, kejahatan siber, dan kejahatan internasional serius yang melibatkan anak-anak sebagai pion.

Langkah penangkapan ini diharapkan dapat memutus mata rantai rekrutmen tersebut, namun Europol menegaskan bahwa upaya ini memerlukan kerja sama kolektif dari berbagai negara. Fenomena “eksekutor cilik” ini bukan lagi sekadar isu kriminalitas lokal, melainkan ancaman terhadap tatanan sosial global yang harus ditangani dengan tindakan yang luar biasa pula.(Sumber)