Pengamat pendidikan Universitas Negeri Semarang, Edi Subkhan, menyoroti soal seringnya kurikulum pendidikan berubah setiap pergantian menteri. Edi menyebut kondisi tersebut membuat guru-guru menjadi hilang fokus dalam mengajar karena sibuk mengurus administrasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Edi untuk menanggapi postingan akun TikTok dengan nama, Cerita Pengajar. Di mana dalam salah satu postingannya akun tersebut menyebut pendidikan di Indonesia dibuat untuk gagal.
“Soal kurikulum artinya sebenarnya memang ada perubahan kurikulum meskipun tidak secara total. Mengapa berubah, karena visinya berbeda. Jadi membuat guru harus belajar lagi, merubah dokumen lagi. Bikin guru akhirnya lelah karena sistemnya selalu berubah,” kata Edi kepada inilah.com, Jumat (1/5/2026).
Selain soal kurikulum, Edi juga mengkritik perihal pembelahan dalam tata kelola pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Di mana, dalam pengelolaannya pendidikan dasar dan menengah berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sementara pendidikan tinggi berada di tangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
“Ini salah kelola, sebetulnya cukup di Kemendikdasmen. Jadi lebih efisien dari segi anggaran. Kalau sekarang seperti terlihat ada kompetisi antar menteri. Bahkan bisa dibilang seperti kastanisasi pendidikan, nanti ada pendidikan elit, priyai, ada pendidikan khusus orang menengah ke bawah,” ucapnya.
Lebih lanjut, Edi menyinggung perihal sistem one-size-fits-all, yang juga dikritik dalam postingan akun Cerita Pengajar. Edi melihat sistem one-size-fits-all sudah mulai dikurangi penerapannya.
“Kalau kemudian khawatiran terkait sistem one size fits sebenarnya sudah mulai dikikis di kurikulum 2013, kurikulum merdeka dan sekarang,” terangnya.(Sumber)











