Politisi Partai Gerindra Ali Lubis, SH MH menilai kecurigaan masyarakat dan mahasiswa terhadap mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto terkait isu kedekatan dengan Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso merupakan hal yang wajar dalam ruang demokrasi.
Menurut Ali, setiap tokoh yang aktif menyuarakan kritik di ruang publik harus siap memberikan penjelasan apabila muncul pertanyaan atau isu yang menjadi perhatian masyarakat.
“Pernyataan yang disampaikan Aliansi BEM Bersatu yang menduga adanya hubungan kedekatan antara Tiyo Ardianto dengan Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso tentu menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat dan kalangan mahasiswa,” ujar Ali Lubis dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Ali mengatakan, transparansi menjadi hal penting bagi siapa pun yang tampil di ruang publik. Ia menilai klarifikasi diperlukan agar tidak muncul berbagai spekulasi di masyarakat.
“Saya kira kecurigaan publik atau masyarakat dan para mahasiswa kepada Tiyo sangat wajar. Sebagai manusia yang bermoral, sebaiknya dia menjelaskan kepada publik terkait dugaan tersebut,” katanya.
Ali juga menyoroti apabila isu tersebut tidak dijawab secara terbuka. Menurutnya, diamnya seseorang ketika muncul pertanyaan publik dapat menimbulkan berbagai persepsi.
“Kalau diam saja, tentu publik bisa membuat kesimpulan masing-masing. Apalagi jika kemudian mengalihkan pembicaraan ke isu lain seperti membahas program MBG yang jelas merupakan program pro rakyat,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Ali menyebut terdapat tiga pertanyaan yang menurutnya perlu dijawab oleh Tiyo Ardianto.
Pertama, terkait dugaan penggunaan mobil Fortuner yang disebut milik Siti Nuraeni yang dikaitkan sebagai adik Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso.
“Kedua, apakah benar Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso pernah menjadi bagian dari tim sukses Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024?” kata Ali.
Ketiga, Ali mempertanyakan apakah benar Tiyo Ardianto telah lama menjalin komunikasi atau hubungan dengan Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso.
Ali menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, namun setiap pihak yang menyampaikan kritik juga harus siap memberikan pertanggungjawaban atas isu yang muncul terkait dirinya.
“Daripada berbicara hal lain dengan gaya seolah paling pintar, paling mengerti, paling suci, dan terus menuduh serta menjelekkan pemerintah, lebih baik menjawab pertanyaan publik secara jujur,” ucapnya.
Ali juga mengingatkan agar ruang publik tidak diisi narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Jangan sampai ruang publik diisi oleh narasi yang bertujuan mengadu domba masyarakat dan anak bangsa, apalagi jika ada agenda politik tertentu yang dibungkus dengan gerakan mahasiswa untuk menyerang pemerintah,” pungkas Ali Lubis












